Mobil berwarna kuning itu parkir di area utara terminal Tamanan, Kota Kediri. Pintu depan dibiarkan terbuka. Demikian pula yang sisi tengah. Kursi panjang di bagian belakang kosong melompong. Tak terisi penumpang.
Sepuluh menit berlalu, kursi itu tetap saja kosong. Sopir kemudian menjalankan kendaraan bertuliskan lyn A itu. Bergerak keluar terminal.
Bila sesuai trayek yang tertera, lyn A seharusnya jurusan Ngronggo hingga Selomangleng. Melewati Jalan Kapten Tendean, MT Haryono, Letjen Suparman, Kilisuci, Jayabaya, Hayam Wuruk, Brawijaya, Mayjend Sungkono, Mayor Bismo, Iskandar Muda, Ahmad Dahlan, Jakgung Suprapto, Bundaran Sekartaji, Veteran, dan Mastrip. Tapi, tidak semua rute itu dilalui. Dari terminal, angkot itu ke Jalan Semeru, Bandarngalim, kemudian menuju Jalan Terusan Kaliombo. Setelah itu, sang sopir pilih mengandangkan angkotnya untuk hari itu. Meskipun waktu baru menunjukkan pukul 10.20.
“Mau pulang saja. Tidak ada penumpang sejak pagi,” ucap Suyono, sang sopir, kepada Jawa Pos Radar Kediri yang terus menguntit perjalanan angkot.
Kejadian seperti itu adalah hal biasa bagi angkot yang mangkal di Kota Kediri. Sehari-hari sepi penumpang. Jumlah kendaraanya pun kian sedikit. Hanya ada dua atau tiga angkot yang mangkal.
Pria 58 itu mengaku, angkot mulai sepi sejak 2016. Saat itu saingan mereka adalah para abang becak dan kendaraan pribadi. Transportasi online pun belum muncul.
Tapi, meskipun mulai sepi, Suyono masih ingat dia bisa mencari penumpang hingga siang hari, pukul 14.00. Karena masih banyak pelajar yang memanfaatkan jasa mereka pergi dan pulang sekolah.
“Kami juga menerima subsidi dari pemerintah kota Kediri,” kenangnya.
Menginjak 2020, pendapatannya sebagai sopir angkot kian jeblok. Kadang, sekali rute pergi pulang (PP) tak ada satu penumpang pun yang didapat. Padahal, biaya operasional juga tak sedikit. Empat kali PP misalnya, bensinnya habis Rp 50 ribu. Padahal penghasilannya paling banter Rp 30 ribu.
“Ora nyucuk untuk menutup biaya operasional,” keluhnya.
Suyono, dan sopir angkot lainnya, memilih ngetem berlama-lama di terminal. Kadang saja berkeliling. Bila tak juga dapat penumpang, mereka langsung pulang.
Bagaimana bisa memberi uang belanja bila selalu tekor? Suyono mengatakan, mereka memilih menerima carteran. Tarif sewanya disesuaikan lokasi tujuan. Kalau masih dalam kota paling sekitar Rp 100 ribu untuk 15 orang. Jika luar kota, seperti Tulungagung atau Nganjuk, ongkosnya Rp 220 ribu. Tapi, itu tidak selalu ada setiap pekannya.
Karena itu, dia berharap ada perhatian lagi dari pemerintah. Paling tidak, memberi subsidi BBM lagi seperti dulu. Apalagi harga BBM subsidi saat ini juga naik.
Selain itu, dia berharap masyarakat yang masih setia dengan angkot tak kaget bila ongkosnya naik. “Dulu Rp 5 ribu, sekarang jadi Rp 7 ribu. Kalau agak jauh ya Rp 8 ribu,” katanya.
Marijan, sopir lain, mengaku sering pulang dengan dompet kosong. Agar bisa memberi jatah istri, dia mencari penumpang abonemen, siswa yang diantar-jemput ke sekolah.
“Ya masih ada yang langganan. Biasanya anak-anak SLB, meskipun dulu mereka gratis karena ada subsidi sekarang mereka bayar dengan tarif yang kecil. Hanya Rp 3 ribu,” akunya.
Pelajar dan mahasiswa memang jadi konsumen utama angkot, meskipun jumlahnya sangat sedikit. Biasanya, mereka pergi ke pusat perbelanjaan. “Bergantung rutenya. Kalau sekiranya tidak terlalu jauh muternya ya kami antar. Kalau nggak ya kami tolak,” terangnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah