“Tema hari jadi adalah bangkit bareng setelah pandemi Covid-19. Dalam artian, bangkit perekonomiannya dan bangkit UMKM-nya.” sebut Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar yang memimpin langsung upacara tersebut.
KEDIRI:
Sendra tari
dengan cerita
Dewi Sri
dipentaskan
dalam ritual
Manusuk
Sima. (Foto: Wahyu Adji)
Menurutnya, tema itu diambil dengan harapan bisa membawa Kota Kediri bangkit dari sisi ekonomi. Sebab, pandemi Covid-19 membuat perekonomian Kota Kediri menurun. Karena itulah perlu upaya keras untuk menggerakkan roda perekonomian. Dan, hal itu harus dilakukan oleh semua pihak. Tak hanya dilakukan oleh pemerintah daerah saja.
Sementara itu, ritual Manusuk Sima kemarin adalah yang pertama dilakukan sejak masa pandemi. Hadir dalam kegiatan ritual itu adalah unsur forum komunikasi antarpimpinan daerah (forkopimda), kepala organisasi pemerintah daerah (OPD), kepala kecamatan, dan kepala kelurahan se-Kota Kediri. Mereka hadir dengan pakaian khas Kediren.
Prosesinya sendiri berlangsung mulai pukul 10.00. Diawali dengan mengarak Prasasti Kwak ke lokasi upacara. Kemudian dilanjutkan dengan persembahan tarian Budoyo Manusuk Sima. Tari ini merupakan karya Sanggar Budaya Nusantara dan merupakan tari penyambutan bagi para tamu.
Upacara Manusuk Sima bertujuan untuk mengenang kembali peristiwa penyerahan tanah pardikan oleh Raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala di zaman Mataraman kuno. Tanah pardikan itu diberikan kepada pemerintah Huwa Kapucatura pada abad 9 masehi ribuan tahun lalu. Peristiwa itulah yang dipercayai menjadi cikal-bakal berdirinya wilayah Kediri.
Dalam prosesi kemarin, Prasasti Kwak dikirab oleh sejumlah penari berpakaian prajurit. Setelah itu, sejumlah budayawan membacakan naskah prasasti yang berbahasa Sansekerta tersebut. Selanjutnya, prasasti diserahkan kepada Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar.
Selain pembacaan naskah prasasti, proses juga diwarnai dengan penyerahan air dari Sumber Tirtayasa. Air itu diberikan kepada peserta dan disiramkan ke tanaman. Sebagai simbol tentang kemakmuran dan kesuburan tanah di Kota Kediri.
Usai ritual, Wali Kota Abdullah Abu Bakar mengatakan, tradisi Manusuk Sima tersebut rutin digelar setiap 27 Juli. “Ini untuk melestarikan tradisi warisan leluhur. Karena kita harus selalu nguri-nguri tradisi Manusuk Sima yang sebagai cikal bakal berdirinya Kota Kediri,” terangnya. Abu menambahkan, dalam prasasti tersebut berangka tahun 801 Saka atau tanggal 27 Juli 879 Masehi atau 27 Juli 2022.
Recananya tradisi Manusuk Sima akan dikemas lebih menarik dengan sentuhan nuansa modern, tanpa meninggalkan tradisi aslinya. Hal ini untuk dapat menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Sehingga tradisi ini akan menjadi edukasi sejarah yang menarik bagi generasi muda di Kota Kediri. Editor : Anwar Bahar Basalamah