Dusun Grogol yang harus terbelah dengan desa induk berdampak pada pelayanan. Sebab, jarak rumah warga dengan kantor desa semakin jauh. Karenanya, belakangan muncul wacana pengembangan desa baru bagi kawasan terdampak bandara. “Sekarang masih kajian di Pemkab Kediri. Kalau saya ikut saja apa yang diinginkan warga,” jelasnya.
Menurut Suparyono, warga di Dusun Grogol itu sulit berpisah dengan desa induknya. Sebab, secara silsilah, leluhur mereka asli dari Desa/Kecamatan Grogol. Jika satu dusun ini tetap berada di Desa Grogol, solusi yang ditawarkan adalah mendirikan balai dusun untuk keperluan pelayanan kepada masyarakat.
“Di dusun itu ada dua perangkat. Satu kepala dusun dan kasi pelayanan masyarakat,” paparnya sembari menyebut dua perangkat itu sekaligus bisa berkantor di sana.
Tidak hanya pelayanan admisnitrasi kependudukan, di sana juga bisa ada pelayanan kesehatan seperti polindes di balai dusun. Adapun untuk akses pendidikan, Pemkab Kediri akan menyediakan solusi jangka pendek dengan menyiapkan dua mobil Isuzu Elf long untuk angkutan siswa.
Sementara itu, penutupan jalan di proyek Bandara Internasional Dhoho kemarin juga membuat siswa SDN 3 Grogol menempuh jarak hingga tiga kilometer untuk ke sekolah. Para siswa yang berasal dari Dusun/ Desa Grogol itu terpaksa memutar melewati Desa Jatirejo untuk bisa belajar.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, penutupan jalan dilakukan sejak pukul 09.00. Warga tidak bisa lagi melewati jalan yang masuk ke tengah proyek bandara. Padahal, sebelumnya jalan itu selalu dijaga satpam proyek bersama polisi dan TNI.
“Sekarang semakin jauh jaraknya kalau ke sekolah. Tiga kali lipat dari perjalanan biasanya,” keluh Ana Mariatul Solikhah, wali murid siswa kelas I di SDN 3 Grogol.
Perempuan berusia 30 tahun itu terpaksa melewati Desa Jatirejo, Grogol untuk bisa menuju sekolah yang masih terletak di Desa Grogol. Sejak penutupan jalan kemarin, Ana mengaku tidak bisa meninggalkan anaknya di sekolah. Dia harus menunggu hingga anaknya pulang agar tak perlu bolak-balik.
Sebelumnya, Bupati Hanindhito Himawan Pramana berjanji akan menyediakan dua unit kendaraan angkutan untuk mengangkut siswa. “Kami menunggu itu (angkutan untuk pelajar, Red),” lanjut Ana sembari menyebut warga sangat kerepotan setelah dilakukan penutupan jalan.
Dalam acara Ngopi Bareng di Kecamatan Grogol, Dhito menyebut angkutan untuk pelajar itu akan tersedia paling lama dua bulan. Dengan demikian, Agustus nanti angkutan tersebut sudah mulai bisa dimanfaatkan oleh pelajar.
Terpisah, Kepala SDN 3 Grogol Ugik Puji Rahayu menegaskan, sejauh ini penutupan jalan belum berdampak bagi jumlah siswa di sekolah. Di tahun ajaran baru ini, total ada 41 siswa yang mendaftar di sana. Lebih banyak dibanding tahun lalu. Meski, dua rombel di sana belum terisi penuh.
Kepala SDN 2 Kalipang Nurul Ernawati mengatakan hal serupa. Menurutnya, penutupan jalan di proyek bandara justru menambah jumlah siswa baru di sekolahnya. Ada beberapa siswa berasal dari Desa Grogol yang mendaftar ke sana. “Saya baru (tiga bulan, Red) di sini. Belum tahu detail persoalannya,” aku Nurul tentang dampak penutupan jalan. Editor : Anwar Bahar Basalamah