Salat Id dimulai sekitar pukul 06.50. Meski demikian, banyak jemaah yang tiba sekitar satu jam sebelumnya. “Jemaah membeludak. Ini di luar dugaan,” kata Ketua Panitia Salat Idul Adha Gunardi El Banjary.
Pria yang juga menjadi imam salat itu mengungkapkan, banyaknya jemaah yang mengikuti salat Id kemarin tak lepas dari momentum liburan akhir pekan. Hal itu terlihat dari plat nomor kendaraan yang banyak berasal dari luar kota. Di antaranya, Surabaya dan Malang.
Salat juga diikuti banyak jemaah karena ini pandemi Covid-19 sekarang sudah terkendali. “Itu juga membuat warga antusias datang untuk salat berjamaah di lapangan,” lanjutnya.
Selain di Lapangan Tirtoyoso, salat Idul Adha juga dilaksanakan oleh pimpinan cabang (PC) Muhammadiyah di tiap kecamatan. Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, salat Id juga digelar di halaman RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan.
Selain salat Id kemarin, PD Muhammadiyah berencana menyembelih 112 ekor hewan. “Ada 73 ekor sapi dan 39 ekor kambing,” sambung Khatib Salat Id Abdul Hamid Muhanan.
Ketua PD Muhammadiyah Kota Kediri Prof Fauzan Saleh yang dikonfirmasi tentang salat Id kemarin mengungkapkankan, pihaknya berkomitmen saling menghormati penetapan waktu salat Id. “Masing-masing punya landasan dan pijakan. Sesuai dengan prinsip yang dipegang masing-masing,” ujarnya.
Fauzan menjelaskan, pelaksanaan salat Id kemarin sudah diputusan pimpinan pusat Muhammadiyah sejak lama. Dia memastikan hal tersebut tidak akan menimbulkan masalah. “Kota Kediri tetap guyub rukun,” bebernya sembari menyebut modal sosial untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan sudah terjalin sejak lama.
Dia mencontohkan pada Ramadan lalu Muhammadiyah bersama Nahdlatul Ulama (NU), dan LDII Kota Kediri sempat buka bersama. Hal tersebut mencerminkan fondasi toleransi di Kota Kediri sudah sangat kokoh. “Tidak mungkin juga dipaksakan untuk sama,” tandasnya.
Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri mengawasi ketat belasan tempat pemotongan hewan kurban. Kepala DKPP M. Ridwan menyebut pihaknya mengerahkan tiga tim yang akan berkeliling ke tiga kecamatan.
“Tim akan melakukan pemeriksaan hewan kurban sebelum disembelih dan memastikan kondisi kesehatannya,” katanya. Jika ada hewan yang memiliki gejala penyakit mulut dan kuku (PMK), menurut Ridwan hewan tersebut masih bisa disembelih untuk dikonsumsi.
Hanya saja, ada beberapa bagian yang tidak bisa langsung dibagikan. Mulai tulang, kaki, kepala, lambung, usus, dan organ sapi yang dilewati makanan. Bagian-bagian tersebut menurut Ridwan harus diolah lebih dulu.
Untuk diketahui, 11 titik lokasi penyembelihan hewan kurban ada di Kecamatan Kota tujuh titi. Kemudian, Kecamatan Mojoroto dua titik, dan Kecamatan Pesantren dua titik. Selebihnya menyembelih di rumah pemotongan hewan (RPH).
Pemeriksaan menurut Ridwan juga untuk memastikan hewan yang disembelih memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). “SKKH didapatkan sebelum Idul Adha. Jika ternyata belum punya, petugas akan mengecek kondisi kesehatan hewannya,” terang Ridwan.
Dalam kondisi wabah PMK seperti sekarang, Ridwan juga melarang pencucian hewan kurban di sungai. Melainkan harus dicuci menggunakan air mengalir seperti di kran.
Adapun untuk pengolahan, dia meminta masyarakat memasak minimal selama 30 menit dengan suhu 180 derajat. “Untuk limbah hewan jangan asal dibuang. Sebaiknya diamankan dengan cara ditimbun atau dikubur di tanah,” tegas pria asal Pare itu. Editor : Anwar Bahar Basalamah