Seperti yang terjadi Senin (13/6) lalu, derasnya hujan bikin pekerja waswas. Mereka terpaksa menghentikan pekerjaan karena khawatir aliran sungai meluap dan akses jalan untuk bongkar jembatan lama ambles. “Ya kalau hujan pekerjaan harus berhenti,” kata salah satu pekerja.
Jika tidak ada kendala cuaca, pembongkaran jembatan lama bisa selesai 15 hari. Kesulitan para pekerja adalah menghancurkan bangunan lama. Selain fisik juga ada pancang yang masih menancap di dasar tanah.
Menurut Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Irwan Chandra Wahyu Purnama, curah hujan sangat memengaruhi pekerjaan konstruksi. “Apalagi sekarang proyeknya bersinggungan langsung dengan air, karena di atas sungai,” ujarnya.
Imam Ahmadi, 47, warga Jeli, mengatakan, debit air sungai sempat meningkat Senin lalu. “Untung saja tidak terlalu tinggi,” ucap lelaki yang rumahnya mepet dengan jembatan di Desa Jeli tersebut.
Ketika pekerja waswas debit sungai meningkat, warga yang berjaga di jembatan sesek pun waspada. Karena debit tidak terlalu besar, mereka tetap membuka akses kendaraan bermotor yang ingin melintas.
Sesuai permintaan Bupati Hanindhito Himawan Pramana, dua akses jembatan sesek untuk kendaraan bermotor itu harus ditutup bila debit sungai naik. Sementara itu, hujan saat kemarau juga menjadi kajian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Kepala Stasiun Geofisika Kelas III BMKG Nganjuk Sumber Harto menjelaskan, di wilayah Jawa Timur awal musim kemarau sudah terjadi di 16 zona smusim. Sedikitnya, ada 22 kabupaten dan kota yang sudah masuk musim kemarau.
Harto menambahkan, peningkatan curah hujan terjadi disebabkan dalam skala klimatologi oleh hangatnya suhu muka laut di perairan sekitar Jatim. Kondisi La Nina masih kategori moderat hingga lemah, serta dalam skala harian aktifnya gelombang ekuatorial seperti MJO, Kelvin dan Rossby,
Dia menambahkan, potensi hujan pada Juli sampai September 2022 karena prediksi anomali suhu muka laut di perairan sekitar pulau Jawa cenderung hangat. Prediksi dipole mode cenderung berada pada kisaran negatif. Prediksi ENSO menunjukkan kondisi La Nina pada kisaran netral hingga lemah.
“Tetap waspada terjadinya potensi bencana hidrometeorologi terutama banjir,” imbau Harto. Sebab diperkirakan masih terjadi hujan ekstrem berturut-turut. Editor : Anwar Bahar Basalamah