Gatot tiba di sana sekitar pukul 08.30. Dia disambut antusias warga sekitar dan Wakil Bupati (Wabup) Kediri Dewi Mariya Ulfa. Hadir pula Kapolres Kediri Kota AKBP Wahyudi dan Kapolres Kediri AKBP Agung Setyo Nugroho. Mereka menyambut kedatangan Wakapolri.
Meski kedatangan Gatot tak didampingi sang istri, kabarnya pemberian nama masjid Miswandoko merupakan nama ayah Astutik yang sudah wafat sejak lama. “Pak Wandoko ini ayahnya Bu Wakapolri. Dimakamkan tak jauh dari masjid ini,” ujar Yayuk, warga Desa Purwokerto, yang mengaku teman masa kecil Widi Astutik.
Informasi yang dihimpun koran ini, Astutik merupakan warga asli Desa/Kecamatan Ngadiluwih. Dia alumnus SDN 1 Ngadiluwih dan SMP N 1 Ngadiluwih. “SMA-nya dulu di SMA Yos Sudarso. Sekarang sudah tidak ada sekolahnya,” terang Yayuk.
Usai penyambutan, Gatot meletakkan batu pertamanya sebelum proyek pembangunan masjid itu dimulai. Ia mengatakan, sengaja membangun masjid di Ngadiluwih karena istrinya warga asli daerah tersebut.
“Istri saya asli Ngadiluwih. Untuk rencana pembangunan Masjid Miswandoko ini sudah lama. Hari ini (kemarin) bisa terealisasi,” ujarnya
Pembangunan Masjid Miswandoko berada di lahan seluas sekitar 1.200 meter. Sedangkan luas bangunan 600 meter. Masjid akan dibangun dengan konsep kearifan lokal Jawa. “Masjid Miswandoko ini dibangun dengan konsep kearifan lokal Jawa,” kata Gatot.
Ia menambahkan, Masjid Miswandoko dibangun untuk meningkatkan ibadah dan ketakwaan warga dan sebagai bentuk amal orang tua istrinya. Selain itu, juga agar terhindar dari ajaran-ajaran radikalisme. “Dengan dibangunnya Masjid Miswandoko semoga bermanfaat, tentunya untuk meningkatkan ibadah,” tuturnya.
Usai peletakan batu pertama, Gatot dihampiri ibu-ibu yang mengaku teman masa kecil istrinya. “Pak minta foto bareng sebentar, salam untuk ibu (istri) ya,” ujar salah satu ibu yang lalu berswafoto dengan Wakapolri itu.
Editor : Anwar Bahar Basalamah