Karya besar Gus Miek untuk umat Islam adalah Jemaah Dzikrul Ghofilin. Didirikan sejak 1962 dengan nama Lailiyah, aktivitas semaan Alquran ini menjadi warisan hingga saat ini. Kini, pengikutnya merambah ke seluruh pelosok negeri.
Kiai Hamim Djazuli alias Gus Miek mempelajari berbagai macam aliran tarekat dengan beragam bentuk. Perjuangan itu membutuhkan waktu yang panjang. Hingga membuahkan satu aktivitas yang menjadi salah satu warisannya bagi umat Islam Indonesia.
Gus Miek meramu amalannya setelah menimba ilmu dari tokoh besar. Mulai dari sosok yang dikenal sebagai wali masyhur hingga dari mursyid (pemimpin tarekat) besar. Tujuannya, mempelajari hakikat manusia dengan Tuhan. Memahami identitas diri serta mendalami makna hidup dan kehidupan. Hingga mempelajari berbagai ilmu rohani.
Yang menarik, ajarannya itu bisa diamalkan oleh semua orang dari beragam latar belakang. Salah satu warisannya yang bertahan hingga sekarang adalah Dzikrul Ghofilin, satu jemaah dengan basis sema’an Alquran.
Awalnya, kegiatan tersebut bernama Lailiyah. Dibuat pada 1962. “Nama Lailiyah dipakai karena kegiatannya selalu dimulai tengah malam,” terang Ferry Husnul Maab, sang cucu Gus Miek.
Awalnya, jemaah Gus Miek hanya belasan orang. Tepatnya, hanya 15 orang saja. Namun, akhirnya menjadi tak terbilang seperti sekarang ini. Karena di banyak kota, Dzikrul Ghofilin memiliki banyak jemaah. Jumlahnya bahkan ribuan orang.
Menukil dari buku ‘Perjalanan dan Ajaran Gus Miek’ yang diedit anak sang kiai, Sabuth, dijelaskan asal mula berdirinya Dzikrul Ghofilin ini. Bermula akibat perpecahan antarpengikut tarekat yang membuat Amiek (Gus Miek) menangis. Kemudian, sang kiai meramu amalan baru. Agar bisa dinikmati oleh semua kalangan. Baik yang sudah ikut tarekat atau belum.
“Yang masih awam, orang alim, dan pelaku maksiat, semua dapat mengikuti dan menjalankannya dengan penuh kegembiraan dan semangat tinggi karena pengamalannya adalah ibadah,” tulis M. Badrul Ibad di halaman 112 cetakan V.
Gus Miek pertama kali mendeklarasikan model dakwahnya tepatnya pada 18 Desember 1962. Ia melakukannya di rumah M. Khozin di Kauman Tulungagung. Saat itu di rumah Khozin tengah menggelar hajat perkawinan putrinya. Hadir pula kala itu adalah Kiai Mubasyir Mundzir, Kiai Abdul Madjid Kedunglo, Kiai Abdullah Umar Sumberdlingo, dan Kiai Jalil Bandarkidul.
Ditambahkan oleh Ferry, pada 1972 kegiatan Lailiyah disempurnakan. “Diganti dengan nama menjadi Dzikrul Ghofilin. Kini sudah merambah ke berbagai pelosok Nusantara,” lanjutnya.
Dia menambahkan, mayoritas berisi surat Al-Fatihah yang ditujukan untuk Nabi Muhammad dan para wali agung kelas dunia. Kemudian pada 1986, Gus Miek menyempurnakan kegiatannya dengan mendirikan majelis Semaan Alquran Jantiko Mantab. Yang isinya mendengarkan para huffadz (penghafal Alquran) membaca 30 juz. Diselingi salat berjamaah lima waktu. Dan setelah maghrib mengamalkan Dzikrul Ghofilin.
Setelah Gus Miek wafat pada 1993, kegiatan itu diteruskan oleh putra dan cucunya. Kini, jamaahnya ada di berbagai daerah. Mulai dari Sumatera hingga Papua. “Beberapa ada di luar negeri, Taiwan, Hongkong, dan Korea,” tutup Ferry.(rekian/fud/bersambung)
Editor : adi nugroho