KOTA, JP Radar Kediri-Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri melakukan sidak ke sejumlah penjual minyak goreng (migor) di pasar, kemarin. Hasilnya, mereka banyak mendapati pedagang yang menjual migor di atas harga eceran tertinggi (HET).
Pantauan koran ini, sidak digelar di Pasar Setonobetek dan Pasar Pahing. Di dua pasar tersebut, petugas disperdagin mendapati ada lima lapak di Pasar Pahing yang menjual migor di atas HET. “Satu kilogram dibanderol dengan harga Rp 12.800,” kata Kepala Disperdagin Kota Kediri Tanto Wijohari.
Terkait harga mahal migor di Pasar Pahing, menurut Tanto para pedagagn berdalih minyak yang dijual bukan bantuan dari pemerintah. Melainkan, membeli dari sales dan agen yang harganya sudah tinggi.
Mendapati hal tersebut, Tanto menegaskan disperdagin sudah memberi peringatan. Mereka juga berkoordinasi dengan PD Pasar untuk pengawasan lebih lanjut.
Jika didapati ada pedagang yang menjual migor bantuan dengan harga mahal, mereka akan memberikan sanksi. Yakni, mencoret mereka dari bantuan berikutnya. “Temuan ini jadi bahan evaluasi,” lanjutnya.
Terpisah, Kina, 56, pedagang peracangan Pasar Pahing mengaku terpaksa menjual minyak di atas HET karena migor yang dia peroleh dari sales sudah mahal. “Saya dapat harga Rp 16 ribu per kilogram,” akunya terpaksa menjual Rp 17.500 per kilogram agar bisa untung.
Bagaimana dengan migor bantua pemerintah? Perempuan yang rambutnya mulai memutih itu menyebut minyak bantuan yang murah sudah habis diburu pembeli. Sebanyak 90 kilogram minyak yang didapat dari pemerintah ludes dalam waktu dua hari.
“Karena harganya murah jadi yang beli banyak dan langsung habis,” bebernya sembari mengaku terpaksa kulakan dari sales karena tidak punya dagangan. Dia pun berharap minyak bantuan bisa segera dikucurkan lagi. Sehingga, konsumen bisa mendapat harga murah. (rq/ut)
Editor : adi nugroho