KOTA, JP Radar Kediri-Jelang musim penghujan, pembangunan parapet atau dinding sungai Kali Putih dikebut. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) tinggal memiliki waktu kurang dari dua bulan untuk menuntaskan proyek di Kelurahan Pojok, Mojoroto itu.
Pantauan koran ini kemarin, sedikitnya parapet sepanjang sekitar 100 meter sudah terpasang di lokasi. Lurah Pojok Erly Maya Muryati mengungkapkan, pembangunan parapet di wilayahnya dianggarkan Rp 2,25 miliar. “Parapet ini diusulkan warga untuk mencegah banjir yang sering terjadi saat musim hujan,” ujar Erly.
Setiap kali hujan deras mengguyur wilayah setempat, sungai meluap dan menggenangi 12 rumah di dekat sungai. Kedalaman air bah di sana bervariasi. Yang paling dalam bisa mencapai pinggul orang dewasa.
Bencana tahunan inilah yang lantas membuat warga mengusulkan pembangunan parapet. “Usulan muncul di musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan, Red) dan ditindaklanjuti tahun ini,” lanjut Erly sembari menyebut usulan itu sudah beberapa kali disampaikan warga.
Rupanya, saat banjir beberapa tahun lalu, Wali Kota Abdullah Abu Bakar sempat meninjau lokasi. Setelah itu, program pemasangan parapet direalisasikan tahun ini.
Sementara itu, pembangunan parapet disambut positif mayoritas warga. Aftoni, 23, mengaku senang dengan pembangunan dinding penahan air sungai di wilayahnya. Sebab, setiap kali musim hujan mereka sering terkena banjir.
Terkait keresahan sebagian warga akan tanah mereka yang ikut terkena proyek, Aftoni mengaku mengikhlaskannya. “Tidak masalah sedikit terdampak asal tidak lagi banjir,” katanya.
Terpisah, Dewi Pujiastuti, 43, mengungkapkan hal serupa. Perempuan yang tinggal di tepi sungai itu sering jadi korban banjir. Bahkan, kolam lelenya hanyut terbawa air bah dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Seperti halnya Aftoni, Dewi mengaku tak keberatan jika tanahnya ikut terkena pembangunan parapet. Asalkan lingkungannya tidak lagi dilanda banjir saat hujan deras mengguyur wilayahnya. “Kalau hujan saya tidak bisa tidur karena takut banjir. Mau membendung sendiri pinggir sungai juga tidak punya uang,” keluhnya.
Untuk diketahui, pembangunan parapet sempat diprotes dua warga. Mereka menolak tanah mereka ikut terdampak pembangunan parapet. Setelah melalui proses musyawarah, salah satu warga yang diwakili istrinya menyatakan bisa menerima. (rq/ut)
Editor : adi nugroho