Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menilik Sejarah Guyangan di Kota Angin (1-Bersambung)

adi nugroho • Senin, 27 September 2021 | 19:43 WIB
menilik-sejarah-guyangan-di-kota-angin-1-bersambung
menilik-sejarah-guyangan-di-kota-angin-1-bersambung


Kabupaten Nganjuk terkenal dengan Sedudo dan Guyangan. Sedudo adalah objek wisata air terjun. Sedangkan, Guyangan adalah lokalisasi. Mengapa Guyangan bisa menjadi terkenal? Jawa Pos Radar Nganjuk akan melaporkan penelusurannya sejarah mulai hari ini.


Guyangan adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Bagor. Daerah ini sangat ramai. Banyak sopir truk berhenti untuk beristirahat dan menikmati cinta satu malam di sana. Karena itu, meski Lokalisasi Guyangan sudah ditutup tetapi karaoke plus-plus dengan menyediakan Mbak Pur masih marak.


Ramainya Guyangan ini ternyata sudah terjadi sejak akhir abad ke-18. “Ada pabrik gula Guyangan di akhir tahun 1.800," ujar  Aries Trio Effendy, pegiat sejarah Kota Angin kepada Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.


Pabrik gula tersebut didirikan penjajah Belanda. Pabrik Gula Guyangan sendiri masih bersaudara dengan pabrik gula yang ada di Madiun. Berdasarkan data yang dikumpulkannya, pabrik ini memiliki skala yang relatif besar.


Selain dari luasnya, fasilitas di pabrik gula ini sendiri sudah tergolong maju dan lengkap pada zamannya. Tidak hanya mesin-mesin yang digunakan. Namun fasilitas penunjang lainnya juga ada di sana. Seperti halnya klinik untuk berobat para pegawai pabrik gula tersebut.


“Pegawainya tentunya juga banyak,” ujar pria yang berdomisili di Desa/Kecamatan Ngetos tersebut.


Mereka yang bekerja di pabrik ini pun tidak hanya warga pribumi saja. Tetapi juga tidak sedikit warga  Belanda yang turun tangan langsung untuk mengisi beberapa posisi strategis. Terutama pada posisi manajerial. Orang-orang Belanda tersebut datang ke Indonesia tanpa membawa istri.


Hal ini yang dikatakan Aries menjadi salah satu alasan kenapa di sana banyak disediakan para wanita penghibur. Entah hanya sekadar untuk menemani melepas penat kerja hingga memuaskan hasrat nafsu para pekerja pria.


“Perempuan-perempuan tersebut dulunya ada di Guyangan untuk menghibur para pegawai pabrik gula,” tandasnya.


Menurutnya, hal ini juga yang menjadi titik mula bagaimana Guyangan akhirnya dikenal luas dengan dunia hiburan malamnya hingga sekarang.

Editor : adi nugroho
#kabar nganjuk #serial #sejarah #radar nganjuk