Tinggal di daerah paling atas lereng Gunung Wilis, bukan berarti minat baca anak-anak di Dusun Tengger, Desa Blongko, Ngetos rendah. Melainkan justru sebaliknya. Hal itu terlihat dari perpustakaan desa di sana yang terus berkembang.
DEWI AYU NINGTYAS, NGETOS. JP Radar Nganjuk
“Saya sering ke sini setiap hari,” ujar Hidayatul Mutmainah saat didekati Jawa Pos Radar Nganjuk Rabu (10/3) lalu. Jarum jam menunjukkan pukul 13.30. Gadis kecil berkerudung biru itu terlihat memilih buku yang tertata rapi di rak perpustakaan Bina Insani di Dusun Tengger, Desa Blongko, Ngetos.
Beberapa kali membaca judul buku yang diambil, gadis berusia 12 tahun ini mengembalikan ke tempat semula. Pilihannya jatuh pada buku cerita bersampul putih beberapa saat kemudian.
Selain Ina, sapaan akrab Hidayatul Mutmainah, siang itu ada belasan anak yang ada di perpustakaan. Mereka asyik membaca berbagai jenis buku. Mayoritas mengambil buku cerita.
Sesekali bercanda, bocah yang rata-rata merupakan siswa SD itu kembali asyik membaca buku beberapa saat kemudian. Duduk di deretan kursi yang ditata di ruangan berukuran 7x8 meter itu, mereka seolah tak menghiraukan sekelilingnya.
Membaca buku di perpustakaan memang menjadi rutinitas harian anak-anak di lereng Wilis itu. Sekitar pukul 13.00 anak-anak yang merupakan pelajar SD dan SMP itu sudah mulai berdatangan ke perpustakaan.
Selang satu jam atau sekitar pukul 14.00 mereka berpindah ke madrasah atau Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang tepat berada di depan perpustakaan. “Kembali lagi ke sini setelah selesai mengaji,” beber siswi kelas VI SD itu yang biasa selesai mengaji pukul 17.00.
Membaca buku, bagi anak-anak itu tak ubahnya bermain. Mereka menikmatinya. Setidaknya menikmati cerita di buku-buku yang mereka baca. Karenanya, anak-anak tersebut melakukan rutinitas tersebut dengan gembira.
Mengapa dia senang membaca buku di perpustakaan? Ina dan teman-temannya mengaku tidak memiliki buku cerita di rumah. Yang mereka punya hanya buku pelajaran. Karenanya, begitu perpustakaan Bina Insani didirikan tahun 2010 lalu, anak-anak di sana menyambutnya dengan gembira.
Mereka semakin betah di perpustakaan karena mendapat dukungan dari orang tua. “Boleh, tidak apa-apa membaca buku di sini,” urainya sambil tersenyum.
Perpustakaan Bina Insani memiliki koleksi yang cukup banyak. Jika di awal berdiri hanya memiliki 80 buku yang merupakan donasi dari mahasiswa salah satu kampus di Kediri, saat ini perpustakaan memiliki koleksi sekitar 500 buku. “Dulu pernah mendapat bantuan seribu buku dari Perpusnas. Kami donasikan ke perpustakaan desa lain yang kurang,” tutur Abri Purwanto, pendiri perpustakaan Bina Insani.
Selain buku, perpustakaan juga dilengkapi dengan smart televisi dan belasan unit komputer plus fasilitas wifi-nya. Tak heran, selain sejumlah anak yang membaca buku di perpustakaan, ada pula sejumlah pemuda yang asyik dengan komputer. Mereka menyimak materi pembelajaran lewat fasilitas internet gratis itu.
Untuk bisa menyediakan perpustakaan yang memadai di lereng Wilis itu bukan perkara mudah. Abri lantas menuturkan usahanya mendirikan perpustakaan di desa yang berjarak sekitar 22 kilometer dari Kota Nganjuk itu. “Awalnya hanya buku dari teman-teman kampus. Hanya 80 eksemplar,” tutur alumnus STAIN Kediri tersebut.
Berawal dari Taman Baca, pria berusia 40 tahun itu lantas mengajukan pendirian perpustakaan ke Dinas Arsip dan Perpustakaan. Dari sana, tahun 2017 lalu dia mendapat bantuan 250 eksemplar buku. Perkembangan perpustakaan yang relatif pesat membuat Bina Insani mendapat bantuan seribu eksemplar buku dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
Koleksi buku berlimpah, Abri harus menghadapi masalah tempat. “Berpindah tiga kali sebelum menempati lokasi ini,” bebernya sembari menyebut awalnya perpustakaan berada di rumahnya.
Lebih dari sepuluh tahun berdiri, Abri bersyukur perpustakaan tetap diminati. Bahkan, bisa menyediakan fasilitas tambahan untuk pembelajaran anak-anak. Niatnya untuk mengembangkan literasi di lereng Wilis pun kini sudah tercapai. “Yang penting anak-anak yang dulu hanya suka bermain ini sekarang jadi gemar membaca,” urai Abri sembari menyebut perpustakaan juga jadi tempat ibu-ibu untuk menyulam dan menjahit itu.
Editor : adi nugroho