Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Warga Dusun Sobo, Desa Kepel, Ngetos Hidup dalam Ancaman Longsor

adi nugroho • Senin, 1 Maret 2021 | 18:56 WIB
warga-dusun-sobo-desa-kepel-ngetos-hidup-dalam-ancaman-longsor
warga-dusun-sobo-desa-kepel-ngetos-hidup-dalam-ancaman-longsor


Setiap kali hujan deras mengguyur Dusun Sobo, Desa Kepel, Ngetos, puluhan warga yang tinggal di bawah tebing mulai resah. Meski demikian, hanya sebagian yang mengungsi. Lainnya memilih tinggal karena tak punya tempat tujuan.


Sedikitnya ada 185 jiwa dari 63 kepala keluarga (KK) yang terancam longsor. Sebab, rumah mereka persis terletak di bawah tebing yang tanahnya sudah retak sepanjang sekitar 300 meter. “Ngeri, kalau hujan pada malam hari. Kami tidak bisa tidur,” ujar Sujiati, 56, warga RT 1/VI, Dusun Sobo.


Kengerian yang sama dirasakan warga saat hujan deras mengguyur daerah mereka pada Minggu (14/2) lalu. Mereka dilanda ketakutan akan bencana longsor.


Untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan, warga terpaksa menghentikan aktivitas yang mengharuskan warga melewati tebing tersebut.


Akibatnya, aktivitas warga di Dusun Sobo pun terbatas. Sebab, tebing yang retak itu berada di pemukiman dan persawahan warga. “Kalau hujan terus deras, kami takut retakan tanah semakin melebar dan bisa terjadi longsor,” lanjut Sujiati meminta agar ancaman bencana di dusunnya jadi perhatian.


Ibu dua anak itu menyayangkan karena di dusunnya belum ada tempat pengungsian. Karenanya, pada malam hari dia terpaksa mengungsi ke rumah anaknya di Desa Blongko, Ngetos.


Pada malam hari dia selalu tidur di rumah anaknya. Adapun pagi hari kembali lagi ke rumah. Dia tidak bisa mengungsi terus-terusan karena masih harus mencari pakan kambing peliharaannya.


Jika Mujiati masih memiliki tempat untuk mengungsi, ada puluhan KK warga lain yang tidak seberuntung dirinya. Mereka tetap tinggal di rumah dalam keresahan karena tidak punya tempat tujuan untuk mengungsi. “Ya mau gimana lagi. Meski bahaya, kami harus bertahan karena harus bekerja merawat sawah dan ingon-ingon (peliharaan, Red),” imbuhnya.


Sementara itu, Kepala Desa Kepel Sundari menjelaskan, pihaknya sudah berupaya mengantisipasi jatuhnya korban jika setiap saat terjadi bencana tanah longsor di sana. Perangkat desa bersama beberapa pihak terkait terus mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan ketika hujan mengguyur.


Dengan kewaspadaan warga, diharapkan tidak timbul korban jiwa jika terjadi bencana. Sundari mengaku tidak bisa mengambil langkah lain. Sebab, sesuai pengamatannya, lokasi tempat warga yang berada di bawah tebing itu memang tidak layak.


Melihat risiko yang harus ditanggung, Sundari menyebut seharusnya mereka direlokasi. Sehingga, kemungkinan terjadinya korban jiwa seperti di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos bisa dicegah. “Saya khawatir jika hujan terus menerus, pemukiman yang dekat dengan tebing tanah yang retak itu tertimbun longsor,” tuturnya resah.


Ancaman bencana tersebut menurut Sundari sudah dilaporkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk. Selebihnya, dia bersama perangkat berupaya mencegah agar warga tak beraktivitas di daerah rawan tersebut. “Warga masih banyak yang beraktivitas seperti biasa,” keluhnya. (c3/ut)


 


Rawan Bencana Longsor:


-Tebing di Dusun Sobo, Desa Kepel, Ngetos retak sepanjang 300 meter


-Sebanyak 185 jiwa dari 63 KK warga terancam bencana longsor


-Warga yang ketakutan sebagian mengungsi ke luar dusun saat malam hari


-Puluhan warga yang tidak punya tempat tujuan mengungsi hanya bisa tinggal di rumah

Editor : adi nugroho
#bencana #kabar nganjuk #radar nganjuk