NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Sepinya pasar dalam kondisi pandemi Covid-19 berdampak bagi perolehan retribusi Pasar Wage I dan Pasar Wage II. Hingga akhir Oktober lalu, perolehan retribusi pasar paling ramai di Nganjuk itu baru capai separo dari total yang ditargetkan.
Untuk diketahui, retribusi Pasar Wage I tahun ini ditarget Rp 470,98 juta.
Sedangkan Pasar Wage II sebesar Rp 331,25 juta. Hingga akhir Oktober lalu retribusi di Pasar Wage I baru terealisasi Rp 256,51 juta atau 54,46 persen. Kemudian, Pasar Wage II terealisasi Rp 175,08 juta atau 52,86 persen. “Seharusnya akhir tahun seperti sekarang pemasukan sudah berkisar 80-90 persen,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nganjuk Heni Rochtanti.
Lebih jauh Heni mengungkapkan, sejak terjadi pandemi Covid-19 April lalu, sebenarnya dua pasar besar itu tetap buka hingga sekarang. Hanya saja, jika awalnya pasar dibuka sejak pagi sampai sore, sekarang hanya dibuka sampai siang.
Pembatasan jam operasional menurut Heni dilakukan untuk mencegah kerumunan di pasar tradisional. Meski demikian, terlepas dari aturan itu pengunjung pasar memang turun drastis sejak wabah korona melanda Kota Angin.
Dengan kondisi pasar yang sepi, disperindag mengambil kebijakan untuk menghentikan penarikan retribusi pasar sejak Mei hingga Juli lalu. Penghentian pungutan selama tiga bulan inilah yang membuat capaian retribusi tidak bisa maksimal hingga akhir Oktober lalu.
Jika dalam dua bulan terakhir perolehan retribusi tetap tak maksimal, Heni tak memungkiri jika realisasi pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi pasar tahun ini bisa meleset. Selain Pasar Wage, menurutnya hampir semua pasar di Nganjuk penarikan retribusinya dihentikan di awal pandemi lalu. “Saya berharap dua bulan terakhir bisa mendapat minimal 75 persen dari total target retribusi,” jelas perempuan berjilbab ini.
Terpisah, Dedy, 45, pedagang pasar Wage I membenarkan penghentian penarikan retribusi pada awal wabah korona. Dedy menyebut besaran retribusi untuk tiap kios berbeda. Tergantung ukurannya. Yakni, mulai Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per hari.
Untuk pedagang sayur yang menempati los dipungut lebih murah. “Di bawah Rp 5 ribu,” terang Dedy menyebut penjualannya sudah mulai sedikit naik awal November ini.
Editor : adi nugroho