Beberapa arung kuno mewarnai peninggalan sejarah di Kecamatan Badas. Bentuknya berupa terowongan menuju sumber air yang masih digunakan untuk kehidupan sehari-hari masyarakat.
Arung atau terowongan bawah tanah yang selama ini paling dikenal di Kabupaten Kediri adalah terowongan Surowono di Desa Canggu, Kecamatan Badas. Bahkan hingga saat ini terowongan tersebut masih dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Salah satunya sektor pariwisata sebagai pelengkap wisata sejarah Candi Surowono.
Namun kenyataannya, di sekitar Surowono, juga ditemukan sejumlah arung kuno yang hingga kini masih bisa dijumpai. Baik itu di sebelah timur, selatan maupun barat dari kawasan ini.
Seperti arung di Dusun Mangiran, Desa Lamong yang sering disebut Sumber Urung-Urung. Kemudian di Desa Bringin juga ada sumber air yang diduga kuat merupakan sebuah arung kuno. Desa ini lokasinya di barat Surowono, tak lebih dari 2 kilometer dari candi.
Sementara di sebelah timur, keberadaan arung bisa dijumpai di Desa Karangtengah, Kecamatan Kandangan. Lokasinya juga lumayan dekat. Bahkan warga di sana menghubungkan bahwa arung di Dusun Sarirejo, Desa Karangtengah itu saling tersambung dengan yang ada di Surowono.
Tak bisa dipungkiri jika di kawasan tersebut terdapat banyak arung kuno sebagai sarana pengairan di zaman dahulu. Terlebih selama ini di Kecamatan Badas juga menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penemuan purbakala cukup banyak.
Pemerhati sejarah Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib menyebut, arung kuno di kawasan ini tidak terlepas dari teknologi pengairan di zaman kerajaan. Dan itu merupakan bukti sejarah kejayaan peradaban di Kediri masa lalu. Terutama pada sistem pengairan yang digunakan untuk irigasi areal persawahan.
Masih kata Novi, sebenarnya di daerah Kabupaten Kediri utamanya bagian timur ini banyak arung kuno. Namun sebagian besar telah tertutup akibat aktivitas vulkanik Gunung Kelud. “Hanya ada beberapa arung kuno yang masih bisa dijumpai dan mengalirkan air. Beberapa ada yang sudah kering,” ungkapnya.
Menurutnya arung di Surowono tersebut masuk kategori arung besar. Karena bisa dilalui orang. Ia berpendapat bahwa arung kuno merupakan sebuah karya nenek moyang yang luar biasa. Mereka memanfaatkan teknologi saluran bawah tanah untuk mengambil urat-urat air di dalam tanah dengan membuat lorong-lorong yang cukup dalam. Dengan keberadaan arung kuno tersebut, menjadi bukti bahwa kawasan Kecamatan Badas dan sekitar Surowono ini sejak dulu telah dimanfaatkan sebagai kawasan pemukiman. Dengan mata pencaharian utama adalah bercocok tanam. (din/bersambung/dea)
Editor : adi nugroho