Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dari Masa Singasari, Prasasti Itu Beraksara Kediri Kwadrat

adi nugroho • Minggu, 9 Agustus 2020 | 20:05 WIB
dari-masa-singasari-prasasti-itu-beraksara-kediri-kwadrat
dari-masa-singasari-prasasti-itu-beraksara-kediri-kwadrat

Situs Bioro di Kandangan menjadi bukti penting peradaban masa klasik peralihan Kadiri ke Singasari. Keberadaan prasasti angka tahun memperkuat bukti itu.


 


Sesuai lokasinya, Situs Bioro berada di Dusun Bioro, Desa/Kecamatan Kandangan. Tepat di tengah areal pemakaman yang disakralkan oleh warga setempat. Keberadaan pepohonan besar membuat lokasi di pinggir dusun itu terasa lembab,  sakral dan magis.


Pemakaman itu biasa dikenal dengan punden dusun. Dikelilingi pagar, hanya ada beberapa makam tua saja. Seperti makam keluarga.


Di dalamnya, selain pemakaman, terdapat sejumlah artefak kuno. Seperti gentong batu, watu dakon, dan yang paling menarik adalah sebuah artefak mirip tugu bermotif yang biasa disebut prasasti angka tahun.


Prasasti dari batu andesit ini dalam kondisi bagus. Masih terawat dengan baik. Menariknya, pada bagian sisi depan terdapat inskripsi yang masih bisa dilihat jelas. Menurut Kasi Museum dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Eko Priyatno, dari cirinya, inskripsi itu ditulis menggunakan aksara Kediri kwadrat. Aksara jenis ini memang berasal dari masa Kerajaan Kadiri.


“Tapi angka tahun yang tertulis itu ternyata sudah masuk zaman Tumapel atau Singasari,” ujarnya. Untuk aksara Kediri kwadrat, kata Eko, memang masih populer digunakan di awal masa Singasari.


Yang menjadi penting dari adanya inskripsi tersebut adalah bisa diketahui latar belakang benda bersejarah ini. Angka tahun  menunjukkan batu kuno itu terpahat angka 1171 saka atau 1249 masehi. Kisaran tahun itu masuk dalam masa Kerajaan Tumapel. Masa itu disinyalir menjadi masa ketika di bawah pemerintahan Wisnuwardhana. Kotaraja Tumapel dipindahkan ke Singasari.


Menurut Novi, inskripsi dengan motif seperti ini memang sangat menarik. “Huruf kwadrat itu cirinya menonjol, semacam tiga dimensi,” tambahnya.


Termasuk dari bentuknya juga indah, dengan motif sulur tanaman. Apalagi dengan adanya inskripsi kwadrat yang sejak dulu dikenal dengan aksara yang paling beda dengan bentuk aksara lain yang rata-rata dipahat ke dalam. Tentu saja aksara yang menonjol ini secara teknik lebih sulit dibanding aksara yang dipahat ke dalam seperti pada umumnya.


Selain tiga artefak di dalam pemakaman, tak jauh dari sana, sekitar 200 meter terdapat tugu berbahan batu andesit yang ukurannya cukup besar. Lokasinya berada di tengah areal persawahan milik warga. Kondisinya juga masih utuh dan bagus. Dengan tinggi 97 cm.


Keberadaan beberapa artefak kuno di Bioro ini tentu menjadi pelengkap bahwa kawasan timur Kabupaten Kediri yang merupakan kawasan lereng utara Kelud itu menjadi kawasan penting sejak dulu. Termasuk ketika masa akhir Kerajaan Kediri yang kemudian berlanjut hingga Kerajaan tumapel (Singasari). (din/fud/bersambung)

Editor : adi nugroho
#radarkediri #jawa #kelud