Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (21)

adi nugroho • Senin, 3 Agustus 2020 | 20:05 WIB
lereng-utara-kelud-kawasan-penting-sejarah-jawa-21
lereng-utara-kelud-kawasan-penting-sejarah-jawa-21

Tak hanya peradaban era Mataram Kuno, Kadiri, atau Majapahit saja yang terekam di kawasan lereng utara Gunung Kelud. Konon, di lokasi ini pernah menjadi bagian kerajaan besar Kalingga.


 


Penemuan demi penemuan kian meneguhkan asumsi banyak sejarawan tentang peradaban-peradaban yang pernah berdiri di wilayah Kediri. Terutama di sisi timur Kabupaten Kediri. Berbagai peninggalan itu seperti rekaman ulang yang menunjukkan adanya peradaban berbagai masa. Semuanya saling terkait meskipun berbeda era dan berbeda kerajaan.


Wilayah lereng utara Kelud menjadi area penting bagi berbagai peradaban itu. Mulai dari era Mataram Kuno, Kadiri, hingga Majapahit. Bahkan ada yang mengklaim kerajaan Kalingga juga menjejakkan sebagian wilayah kekuasaannya di sini.


Dasarnya, tentu saja berbagai penemuan situs-situs dan benda-benda peninggalan zaman dulu. Banyak di antaranya yang saling berkaitan. Seperti Prasasti Gneng I yang terhubung dengan Prasasti Gneng II. Padahal prasasti itu dibuat dalam masa yang berbeda. Berjarak hampir dua abad!


Seluruh informasi yang tertulis di prasasti itu, memang, hingga kini belum semuanya terbaca. Namun para peneliti sudah meyakini adanya ‘link and match’ dari kedua prasasti itu.


“Yang jelas dari kebanyakan prasasti yang ditemukan di kawasan ini membahas tentang tanah sima atau tanah perdikan,” jelas sejarawan M. Dwi Cahyono kepada Jawa Pos Radar Kediri.


Prasasti Gneng I dibuat pada era Kerajaan Kadiri. Tepatnya  masa Raja Bameswara. Membahas tentang pemberian tanah sima itu. Dwi memiliki hipotesis bahwa Prasasti Gneng II juga membahas hal tersebut. Meskipun prasasti kedua tersebut ditulis pada masa Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Tribhuwana Tunggadewi.


“Artinya Tribhuwana memperbarui hak tanah Sima itu,” tegas Dwi.


Pesan yang tersirat dari dua prasasti yang juga membahas tempat suci itu adalah agar warga merawat tempat peribadatan tersebut. Warga yang dimaksud tentu saja yang menerima anugerah tanah sima. Yaitu masyarakat Gneng atau saat ini menjadi Desa Brumbung di Kecamatan Kepung.


Banyak artefak yang ditemukan di Situs Brumbung hingga saat ini. Menjadi sarana pengungkap cerita di balik peradaban kuno di wilayah timur Kabupaten Kediri ini. Era keemasan Kerajaan Medang atau Mataram Kuno dibuktikan dengan Prasasti Harinjing dan Paradah di Desa Siman. Demikian pula temuan-temuan yang bercerita tentang era Kadiri hingga Majapahit. Semua bukti itu dikumpulkan di depan balai desa setempat.


Selain dua prasasti yang disebut awal, ada juga yoni yang berjumlah tiga. Kemudian ada arca dewa, umpak, dorpel, dan jambangan. Juga sepasang dwarapala yang dikenal sebagai patung penjaga pintu tempat suci. Tak ketinggalan adanya kepala kala yang terlihat utuh.


Pemerintah desa (pemdes) setempat membuat pendapa kecil. Menjadi pelindung berbagai penemuan tersebut. Di sekelilingnya diberi pembatas dari besi. Lengkap dengan gerbang masuknya. Hanya, gerbang tersebut lebih sering terkunci rapat. Sebagai upaya melindungi berbagai artefak dari ulah tangan tak bertanggung jawab.


Kasi Museum dan Purbakala Disparbud Kabupaten Kediri Eko Priyatno mengungkapkan, kawasan penting dari beberapa masa itu tak lepas dari upaya kerajaan untuk mengenang leluhur. “Jadi pada pemerintahan Rani Tribhuwana Tunggadewi karena merasa memiliki leluhur di kawasan ini maka semua bangunan suci masih dirawat untuk menghormati leluhurnya,” ungkapnya.


Situs di Desa Brumbung ini melengkapi bukti sejarah di wilayah timur Kabupaten Kediri. Bisa dibilang sebuah kawasan budaya yang masih terpendam. Kawasan yang sangat makmur kala itu hingga menjadi daerah penting di berbagai era-kerajaan. (din/fud/bersambung)

Editor : adi nugroho
#radarkediri