Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (13)

adi nugroho • Senin, 27 Juli 2020 | 00:03 WIB
lereng-utara-kelud-kawasan-penting-sejarah-jawa-13
lereng-utara-kelud-kawasan-penting-sejarah-jawa-13

Petirtaan di Watutulis, Desa Brumbung memiliki nilai penting dalam membuka lembaran sejarah kawasan tersebut. Menunjukkan fungsinya sebagai pemandian suci. Penuh dengan simbol-simbol sakral di kompleks percandian.


 


Dua prasasti menjadi bukti kuat peradaban masa lalu yang ada di Desa Brumbung, Kecamatan Kepung. Keduanya juga berasal dari masa pemerintahan yang berbeda. Prasasti Gneng I berasal dari era pemerintahan Raja Bameswara di Kerajaan Kadiri. Sedangkan Gneng II dibuat di masa Kerajaan Majapahit. Tepatnya saat pemerintahan Tribhuawana Tunggadewi.


Kedua batu bertulis itu ditemukan di lokasi  yang tak berjauhan. Masih di kawasan Watutulis. Kawasan yang diduga kuat merupakan wilayah penting di masa kerajaan masa lalu. Pentingnya kawasan ini kian diperkuat dengan penemuan petirtaan baru-baru ini.


Sejarawan M. Dwi Cahyono mengatakan, prasasti-prasasti itu memberitakan tentang tanah sima dan bangunan suci. Menjadi penunjuk bahwa kawasan Watutulis merupakan lokasi pendarmaan.


Masih menurut Dwi, kesimpulan itu berdasarkan pemikiran kuat. Jika hanya berfungsi profan atau bersifat biasa saja, yang pasti petirtaan di Watutulis itu hanya untuk pengambilan air bersih saja. Bila hanya berfungsi profan maka tidak ada atribut-atribut penanda kesakralan. Padahal, di lokasi petirtaan itu justru banyak atribut yang menunjukkan fungsi sebaliknya.


“Seperti halnya makara. Kemudian jaladwara di bagian tengah yang istimewa dengan ukiran orang mengendarai hewan menyerupai keledai. Dan itu seperti yang ada di bagian atas beberapa candi juga terdapat relief demikian,” urainya.


Tanda-tanda itulah yang meyakinkan peneliti bahwa petirtaan itu tak sekadar bersifat profan. Aksesoris petirtaan itu merupakan simbol-simbol yang berkaitan dengan religio-magis. Menguatkan bahwa petirtaan di Watutulis ini berfungsi sakral.


“Kalau petirtaan ini berfungsi sakral sangat dimungkinkan ada bangunan suci lainnya,” tambah Dwi.


Keberadaan bangunan suci itu diduga juga disebutkan pada prasasti yang ditemukan. Baik Gneng I maupun Gneng II yang keduanya memang isinya belum terbaca atau diterjemahkan secara keseluruhan.


“Secara otomatis bangunan suci itu juga dimungkinkan tidak terlalu jauh dari lokasi petirtaan,” tandasnya.


Selain bangunan suci, yang jelas, kata dosen Universitas Negeri Malang ini, kawasan Desa Brumbung atau Geneng itu juga menjadi tempat bermukim di zaman kerajaan. Hal itu diperkuat dengan data-data arkeologi artefak yang pernah ditemukan di sekitar Watutulis yang saat ini ditaruh di Museum Desa Brumbung.


Hal serupa juga diungkapkan arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Albertus Agung Vidi Susanto. Dia dan tim arkeologi BPCB Jatim mengindikasikan bahwa petirtaan ini merupakan salah satu bagian dari kompleks percandian.


“Karena pernah ditemukan dwarapala di kawasan ini, jadi mengindikasikan di sini ada bangunan candi. Sehingga petirtaan ini ada konteks dengan bangunan lain,” ujarnya.


Selain itu, dari observasi BPCB, Vidi menyebut bahwa di sekitar petirtaan juga ditemukan sejumlah struktur bata kuno. “Pasti ada area pemujaan lain di kawasan Geneng ini,” jelasnya.


Bangunan petirtaan bersifat sakral inipun juga membuktikan bahwa kawasan Geneng sejak dulu diduga kuat sudah menjadi lokasi pendarmaan. Selain sudah ada bukti kuat artefak kuno yang mendukung kompleks percandian, masih banyak bukti lain yang terpendam di kedalaman tanah. Menunggu untuk ditemukan. (din/fud/bersambung)


 


adalah adanya dua prasasti dari masa yang berbeda. Yakni Prasasti Gneng I dari masa pemerintahan Raja Bameswara Kerajaan Kadiri dan Prasasti Gneng II yang dikeluarkan Tribhuwana Tunggadewi dari Kerajaan Majapahit.


Apalagi keduanya ditemukan tak berjauhan. Yakni masih dikawasan Watutulis yang diduga kuat menjadi daerah penting masa kerajaan yang kini terpendam.


Apalagi di lokasi itu juga ditemukan petirtaan. Dari keterangan Sejarawan M. Dwi Cahyono, apabila di dalam prasasti memberitakan tentang tanah sima dan bangunan suci, tentu ini menguatan bahwa kawasan Watutulis tersebut merupakan lokasi pendarmaan.

Editor : adi nugroho
#radarkediri