Salah satu peninggalan penting di kawasan lereng utara Gunung Kelud adalah Petirtaan Candi Kepung. Sayang, pemandian suci itu kini tak terlihat lagi. Kembali tertimbun tanah.
Menuju lokasi penemuan situs bersejarah ini tidaklah sulit. Jaraknya hanya sekitar 1 kilometer dari Pasar Desa Kepung yang ada di Dusun Karangdinoyo. Tandanya adalah keberadaan Masjid Al Falah di Dusun Jatimulyo. Dusun ini masih masuk wilayah administrasi Desa Kepung, Kecamatan Kepung.
Situs yang ditemukan pada 1983 ini ada di sebelah barat masjid. Namun, jangan mengira bisa melihat eksotisme petirtaan kuno ini. Melihat wujudnya saja tak bisa. Situs itu kini hanya berupa gundukan tanah saja.
Padahal, petirtaan Candi Kepung merupakan salah satu bukti peradaban kuno di kawasan ini. Lokasinya juga tak jauh dari Kali Serinjing, yang merupakan sungai penting era Mataram Kuno. Sekitar Kali Serinjing terkenal dengan kondisi tanahnya yang subur.
“Pasti zaman dulu daerah yang subur seperti ini banyak permukiman penduduk,” jelas Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Andi Muhammad Said.
Apalagi, temuan-temuan juga menunjukkan kawasan ini dilengkapi dengan bangunan-bangunan suci seperti petirtaan. Menurut Said, daerah yang memiliki fasilitas semacam ini tidak mungkin hanya ditinggali masyarakat biasa atau kalangan bawah. Kemungkinan besar dihuni kalangan yang dekat dengan istana kerajaan. Besar kemungkinan pula di kawasan itu ada bangunan penting lainnya.
“Karena aktivitas Gunung Kelud, jadi daerah Kecamatan Kepung ini terpendam material vulkanik,” ungkapnya.
Penemuan Petirtaan Candi Kepung tak lepas dari upaya Sukemi, penduduk setempat yang melakukan penggalian tanah untuk tempat pembuangan sampah pada 1983 silam. Pada kedalaman 1,5 meter ia menemukan susunan batu bata merah. Susunan batu bata yang pertama kali ditemukan itu, dari laporan penelitian Situs Kepung yang dikeluarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1990, adalah susunan menara sebuah bangunan suci.
Masih dalam catatan laporan tersebut, si penemu membongkar susunan itu tadi hingga kedalaman hampir 7 meter. Yang kemudian ditemukan menara-menara lain.
Laporan yang disusun oleh Endang Sri Hardiati, Soeroso, dan Machi Suhadi ini menjelaskan bahwa Candi Kepung merupakan sebuah candi yang berfungsi sebagai petirtaan atau pemandian suci. Candi ini dilengkapi 9 menara dan empat pagar keliling. Lokasi candi berada pada kedalaman 6,45 meter di bawah permukaan tanah.
Masuk akal banyak peninggalan bersejarah di kawasan Kepung yang kondisinya terpendam. Apalagi dengan kedalaman seperti itu. Diduga kuat bahwa tanah yang menguruk petirtaan tersebut berasal dari material vulkanik letusan Gunung Kelud.
Dari ekskavasi pada 1983 itu, bangunan yang mempunyai 9 menara tersebut berdiri di atas sebuah landasan atau batur. Susunan menara yang paling besar dan tinggi berada di tengah atau pusat. Kemudian dikelilingi menara lainnya dengan ukuran tidak sama.
“Menara-menara seperti Candi Kepung ini mirip dengan Petirtaan Candi Tikus di Trowulan,” ujar Pemerhati Sejarah Novi Bahrul Munib.
Novi menyebut, bahwa penemuan situs ini menjadi penemuan petirtaan terbesar di Kediri sementara ini. Sementara mengacu dalam laporan ekskavasi Petirtaan Candi Kepung, bangunan petirtaan ini masih berdiri utuh karena tertimpa hujan abu. Bukan karena banjir lahar salah satu gunung api teraktif di pulau Jawa ini.
Berdasarkan sumber lainnya, yakni Buku Dasar Gunung Berapi di Indonesia dari Direktorat Vulkanologi 1979 menyebut, letusan yang menimbulkan tumpukan material vulkanik yang paling dalam menutupi candi terjadi pada 1334 dan 1376. Sementara beberapa lapisan lainnya terbentuk pada 1586. Kemudian lebih tinggi lagi adalah letusan pada 1901.
Sementara saat ini, setelah diekskavasi pada 1980-an, situs ini kembali diuruk. Alasan utamanya adalah pembebasan atas kepemilikan lahan. Lokasi ekskavasi itu tepat di halaman rumah warga. Lokasinya juga sangat dekat dengan jalan utama Kecamatan Kepung.
Petirtaan Megah dengan 9 Menara
- Candi Kepung merupakan petirtaan yang memiliki sembilan menara.
- Menara utama berada di tengahsetinggi sekitar 7 meter.
- Saat ditemukan pertama kali menara utama itu masih utuh namun patah setelah digali warga.
- Empat menara kecil saat ditemukan masih utuh. Masih terlihat bentuknya.
- Selain sembilan menara itu juga ditemukan beberapa artefak. Di antaranya : Gerabah dan Keramik: 2.694 fragmen dalam keadaan utuh maupun sudah pecah, 1 tempayan batu, 2 bejana pancuran, tulang rahang dan kepala bovidae, serta sejumlah makara jaladwara.
- Sejumlah temuan dari situs ini disimpan di Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM) Trowulan, Mojokerto.
Catatan : Berdasarkan temuan saat ekskavasi 1983-1989
(din/fud/bersambung)
Editor : adi nugroho