KABUPATEN, JP Radar Kediri - Kasus penambahan pasien positif Covid-19 di Kabupaten Kediri melonjak tajam. Berdasar hasil swab test yang keluar kemarin, ada penambahan 35 kasus baru. Terbanyak berasal dari klaster Kedak di Kecamatan Semen.
Meskipun ada lonjakan tinggi, namun hampir semuanya tak dibawa ke rumah sakit. Mereka tak menunjukkan gejala alias OTG dan menjalani isolasi mandiri. Hanya satu orang yang dilarikan ke rumah sakit. Dia adalah warga Desa Petok, Kecamatan Mojo. Pasien tersebut tengah dirawat di RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Kota Kediri.
Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Kediri dr Ahmad Chotib mengatakan, 35 kasus tambahan tersebut sebagian besar dari klaster Kedak. Yaitu 24 kasus. “Rinciannya 20 orang warga Desa Kedak dan 4 orang warga Desa Mangunrejo, Kecamatan Ngadiluwih,” ungkap Chotib.
Untuk warga Desa Mangunrejo mereka telah melakukan isolasi mandiri. Sementara yang warga Desa Kedak sebagian besar dikarantina di gedung SD setempat. Sebagian lagi menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.
Untuk mencegah penularan lebih jauh di Desa Kedak GTPP telah berupaya melakukan koordinasi. Mereka membahas langkah lanjutan dalam karantina positif OTG di desa tersebut.
Klaster Kedak merupakan kontak langsung dari pasien positif yang ikut jamaah salat tarawih. Kelompok ini menjadi terbanyak kedua setelah Klaster Pabrik Rokok Mustika Tulungagung.
“Klaster Pabrik Rokok Mustika total ada 43 orang,” jelas Chotib. Sementara Klaster Kedak saat ini ada 27 orang terkonfirmasi positif Covid-19.
Khusus Klaster Mustika kemarin bertambah 3 orang. Mereka dari Desa Dukuh dan Desa Mangunrejo, Kecamatan Ngadiluwih. Pada klaster ini ada beberapa yang dirawat di rumah sakit karena bergejala. Sementara yang tanpa gejala ada yang isolasi mandiri di rumah dan ada juga yang memilih isolasi di Wisma Atlet Pare yang disiapkan GTPP Covid-19 Kabupaten Kediri.
Selain klaster Mustika dan Kedak, tambahan berasal dari 6 klaster lain. Yakni klaster Araya Tulungagung yang positif adalah 1 orang warga Desa Bulu, Kecamatan Semen. Kemudian dari klaster Maspion Sidoarjo 2 orang warga Desa Langenharjo, Kecamatan Plemahan. Juga penambahan dari klaster Desa Sidorejo, satu warga setempat.
Masih dari Kecamatan Pare, ada tambahan 2 kasus klaster Desa Sumberbendo. Yaitu 2 orang warga desa tersebut. Sedangkan klaster Surabaya ada tambahan 1 orang warga Desa Kuwik, Kecamatan Kunjang. Semua klaster tersebut menjalani isolasi mandiri.
“Ada lagi satu kasus klaster Baru. Yakni warga Desa Petok, Kecamatan Mojo yang saat ini dirawat di RSM Ahmad Dahlan, Kota Kediri,” pungkas Chotib.
Sementara itu, dari website Covid-19 di Kota Kediri juga bertambah satu positif. Di website corona.kedirikota.go.id sekitar pukul 19.00 WIB, menyebutkan adanya satu tambahan pasien terkonfirmasi. Berarti jumlah warga yang terkonfirmasi positif ada sebanyak 46 orang di Kota Kediri.
Jika dilihat dari tabel, satu pasien tambahan konfirmasi tersebut berasal dari Kelurahan Tamanan, Kecamatan Mojoroto. Untuk klaster dan juga persebarannya, masih belum diumumkan dalam press release hingga sekitar pukul 20.00 WIB.
Di lain pihak GTPP Covid-19 Kota Kediri tak lelah mengingatkan warga agar membuang stigma pada mereka yang terkait pasien positif korona. Baik itu terhadap si penderita, kontak erat, maupun warga di lingkungan terdampak. Karena korona bukanlah aib. Penyakit ini juga bisa sembuh seperti penyakit lainnya.
“Stigma dan ketakutan yang berlebihan itu tidak tepat,” ingat Juru Bicara (Jubir) GTPP Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima.
Masih menurut Fauzan, Covid-19 tidak akan menular selama seseorang disiplin mematuhi protokol kesehatan. Seperti memakai masker, cuci tangan memakai sabun, dan jaga jarak. Juga terus berada di rumah saja apabila tidak ada kepentingan mendesak untuk keluar rumah.
Stigma yang diberikan masyarakat itu justru bisa membuat mental pasien maupun warga terdampak jadi menurun. Hal itu bisa membuat imunitas mereka juga ikutan melemah. Suatu kondisi yang justru kontraproduktif pada upaya penyembuhan.
Pernyataan kadinkes Kota Kediri itu bukannya tanpa fakta. Di Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, warganya merasakan stigma seperti itu. Tak hanya yang positif korona yang mendapatkan perlakuan beda, warga yang berasal dari lingkungan tersebut juga merasakan.
“Ada yang bilang kalau tahu orang dari sini (dari Tempurejo, Red) seperti berlebihan kalau menjauhinya,” aku Lurah Tempurejo Suminarto, yang mewakili keluhan warganya.
Di salah satu lingkungan kelurahan ini, Lingkungan Kresek, merupakan terbanyak penderita korona di Kota Kediri. Total ada 10 orang.
Berbeda dengan situasi di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto. Menurut Ketua RW 03 Miftahul Jannan, warga sekitar kelurahan sudah paham dan saling membantu agar tidak saling menyalahkan di tengah pandemi seperti ini. “Semua warga juga saling mengerti, tidak ada yang perlu disalahkan. Sampai saat ini komunikasi terbangun dengan baik,” imbuhnya.
Pemkot pun melakukan antisipasi membendung stigma itu. Selain terus memberi imbauan, mereka juga tidak langsung mengumumkan bila ada yang reaktif saat rapid test. Pengumuman baru dilakukan setelah ada hasil swab.
Editor : adi nugroho