KEDIRI KOTA- Keberadaan closed circuit television (CCTV) di traffic light Kediri Raya masih perlu ditingkatkan lagi. Pasalnya, masih banyak kejadian yang belum terpantau secara maksimal.
Hal itu diperkuat dengan beberapa area traffic control system (ATCS) yang masih belum maksimal di wilayah Kediri Raya. Salah satunya Kota Kediri, dari 22 CCTV yang terpasang ternyata hanya 17 yang masih dilengkapi dengan fiber optik (FO). Sedangkan lima persimpangan lainnya masih berbasis wifi.
Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, titik lokasi ATCS di Kota Kediri yang terpasang CCTV berbasis FO ada di 17 persimpangan. Kemudian, CCTV yang berbasis wifi sebanyak 5 persimpangan. Sedangkan titik lokasi ATCS di Kabupaten Kediri hanya berbasis wifi yiTU sebanyak 17 lokasi.
Untuk mendukung sistem tersebut, dishub menerapkan ATCS atau sistem pengendali lampu lalu lintas. Kepala Bidang Manajemen Lalu lintas Dinas Perhubungan Kota Kediri Bagus Hermawan menuturkan perangkat ATCS atau metode pengontrolan lalu lintas dengan menyelaraskan lampu merah juga akan ditambah. “Kami berharap, ke depan seluruh persimpangan di Kota Kediri sudah terpasang CCTV dengan berbasis FO,” terangnya.
Sistem ATCS, lanjut Bagus, sangat mendukung efisiensi waktu dan biaya. Karena pemantauan lalu lintas di Kota Kediri dapat langsung dipantau melalui Pusat pengendalian lalu lintas terpadu dinas perhubungan. “Sistem ini untuk mempermudah melakukan monitoring. Kami bisa mengimbau langsung pengendara lewat command centre. Hanya saja, jembatan Brawijaya masih memanfaatkan CCTV yang dilengkapi radar,” terangnya.
Perlu diketahui, ATCS atau sistem pengendalian lampu lalu lintas ini berfungsi untuk mempermudah dalam melakukan monitoring sejumlah persimpangan di Kota Kediri. Pusat pengendalian sistem tersebut berada di Kantor Dishub Kota Kediri.
Bagus menyebutkan, dari 22 CCTV yang terpasang itu nantinya selain terkoneksi dengan control room Dishub, juga akan terkoneksi dengan command center Polres Kediri Kota.
“Kami fungsikan untuk memantau kondisi lalu lintas secara live. Seperti saat terjadi kecelakaan atau pelanggaran lalu lintas. Petugas kami dan Polres bisa langsung monitor dari control room,” tandasnya.
Secara terpisah, Kasi Sistem Teknologi Informasi Polri (Sitipol) Polres Kediri Kota Yoyok Budi Santoso mengungkapkan bahwa segala informasi lalu lintas yang berada di command centre merupakan bagian dari koordinasi dengan Dishub Kota Kediri. “Kami terus sinergitas dengan mereka (Dishub,Red) terkait CCTV, karena kami juga terkoneksi dengan data Dishub,” tegasnya.
Ketika disinggung terkait program elektronik traffic low enforcemen (E-TLE ) dari Polda Jatim, pihaknya enggan berkomentar. E-TLE sendiri, masih kata Yoyok, dilakukan dengan memanfaatkan kamera CCTV dan bukan polisi di lapangan. Seluruh sistem E-TLE murni diterapkan secara elektronik sejak penindakan pelanggaran hingga proses administrasi. “Untuk saat ini belum bisa dilakukan di Kota Kediri, kami hanya menunggu instruksi dari Kapolres,” ungkapnya.
Sementara itu, permasalahan berbeda dialami Dishub Kabupaten Kediri. Pasalnya, operasional ATCS belum bisa dilakukan secara optimal, karena Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kediri mengalami keterbatasan anggaran untuk menganggarkan ATCS.
“Hingga saat ini kami baru memiliki 17 CCTV, sedangkan wilayah kami (Kediri Kabupaten, Red) sangat luas,” ungkap Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri Hari Wahyu Jatmiko Kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Pada awal operasional ATCS, lanjut Hari, pihaknya membutuhkan pendampingan dari Kemenhub, khususnya saat terjadi kemacetan parah. “Tenaga kami masih harus belajar untuk menangani kemacetan melalui ATCS. Karena itu, kami masih butuh pendampingan dari Kemenhub,” terangnya.
Saat ditanya mengenai upaya yang akan dilakukan Dishub untuk optimalisasi operasional ATCS, Hari menambahkan, Dishub dalam waktu dekat berencana akan menambah jaringan CCTV yang terkoneksi dengan ATCS di beberapa titik persimpangan di Kabupaten Kediri.
“Sesuai rencana, kami akan tambah jaringan CCTV di beberapa titik, mungkin baru terealisasi tahun depan. Sedangkan tahun ini kami masih uji coba alat ATCS yang ada,” terangnya.
Perlu diketahui, CCTV yang berbasis FO merupakan perangkat keamanan yang diciptakan untuk mendapatkan data dalam bentuk rekaman video. Untuk mendapatkan rekaman uang diinginkan, kualitas resolusi CCTV pun disediakan dalam berbagai ukuran. Besarnya resolusi inilah yang akan memengaruhi hasil rekaman.
Masih kata Hari, tahun ini Dishub hanya menganggarkan biaya perawatan CCTV yang sudah mulai diujicoba di tiga persimpangan. Seperti perempatan Tepus, persimpangan Paron, dan persimpangan Katang. “Perhitungan kami, untuk satu hingga tiga CCTV menghabiskan anggaran sekitar Rp 10 juta. Masih Kami usulkan ke tim anggaran Pemkab Kediri,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho