KEDIRI KABUPATEN – Kekhawatiran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan rusaknya pipa air di wilayah lereng Kelud mulai menunjukkan tanda-tanda terjadi. Pipa-pipa air milik warga Desa Wonorejo Trisulo, Kecamatan Plosoklaten, terhantam tanah longsor Jumat (1/12) malam.
Akibatnya, warga mulai kesulitan air bersih. Selang air yang menyalurkan air bersih dari sumber Clangap tak bisa menyalurkan sampai ke pemukiman.
Warga desa sudah merasakan kondisi seperti itu sejak Jumat malam. Kran air mereka tak bisa mengeluarkan air. Setelah ditelusuri, pipa yang menghubungkan dengan sumber air rusak. Tertimbun longsoran tanah.
Untungnya, warga masih bisa sedikit bernafas karena memiliki simpanan air. “Kita sudah nandon air sebelum airnya macet Mas. Setiap musim hujan yang seperti ini. Pipa, kalau tidak disapu lahar dingin yang kena longsor,” terang Parman, 54, seorang warga.
Walaupun demikian, simpanan air warga tak akan bertahan lama. Karena hanya bisa menandon sedikit saja. Parman misalnya, hanya bisa menyimpan air sebanyak tiga jeriken dan satu tong air saja. Menurutnya simpanan itu maksimal hanya akan bertahan empat hari. Bila dalam empat hari itu pipa tak diperbaiki maka sebagian warga akan kesulitan mendapatkan air bersih.
Dengan tandonan air yang terbatas itu dia mengaku berhemat. Hanya digunakan untuk pemakaian yang perlu-perlu saja. Seperti memasak makanan dan mandi. “Ya harus hemat mas, kalau tidak hemat bisa cepat habis ini,” ujarnya.
Sutanto, 49, teknisi pipa Desa Trisulo membenarkan tentang kerusakan pipa tersebut. Menurutnya, tanda-tanda kerusakan sudah terasa sejak Rabu (29/11). Saat curah hujan mulai tinggi. Diawali dengan tanda-tanda banjir lahar dingin tapi masih kecil intensitasnya. Dan belum langsung mengenai pipa di sepanjang Sungai Ngobo.
Namun setelah banjir berintensitas kecil itu Rabu siang tebing sungai longsor. Longsoran itulah yang merusak pipa warga.
“Satu hari sempat macet. Lalu kami sudah kita benahi dan seharian air lancar. Namun Jumat malam macet lagi. Sepertinya kembali kena longsoran,” terang pria yang biasa disapa dengan panggilan Tanto ini.
Tanto menambahkan kemarin pihaknya juga langsung mencari di wilayah mana pipa yang terkena longsoran. Karena tidak jarang pipa yang terkena longsor jauh dari pemukiman warga. Seperti longsoran pada hari Rabu lalu ternyata berjarak 7 kilometer dari pemukinan yang terkena longsor. “Kita temukan ternyata yang kena longsoran pipa yang dekat sumber Clangap itu. Dan harus kami ganti pipa sepanjang 5 meter. Untuk yang saat ini masih kami survei titik kerusakannya,” ujarnya.
Kini, dua dusun di Desa Wonorejo Trisulo mulai mengalami krisis air bersih. Dua dusun itu adalah Dusun Pulerejo dan Rejomulyo. Karena sudah langganan terjadi krisis air bersih saat musim hujan ini. Kebanyakan dari warga kini masih bisa menggunakan air tandonan mereka.
“Sembilan puluh persen warga kini sudah memiliki tandon sendiri. Tapi kalau sampai empat hari kami belum bisa membenahi pipa itu otomatis warga akan kesulitan air karena tandon mereka telah habis,” tegasnya kemarin.
Ketika dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala BPBD Kabupaten Kediri Randi Agata Sakaira menerangkan bahwa hingga kemarin malam pihaknya belum mendapatkan laporan dari perangkat desa maupun warga Trisulo. Namun pihaknya tetap siap untuk mengerahkan personil jika pihak desa meminta bantuan.
Selain itu, BPBD juga siap mendroping bantuan air jika persediaan warga sudah mulai habis akibat terputusnya pipa warga. “Kami siap membantu 24 jam. Dan ini akan coba kami cek ke lokasi juga,” ujar Randi.
Editor : adi nugroho