Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menimba pun Digilir

adi nugroho • Senin, 28 Agustus 2017 | 18:20 WIB
menimba-pun-digilir
menimba-pun-digilir



NGANJUK - Bencana kekeringan rutin menghampiri warga Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong. Agustus ini, sumur-sumur warga sudah mulai mengering. Mereka pun harus berhemat agar tetap bisa mengonsumsi air bersih.


Tanda-tanda kekeringan di Dusun Sendanggogor, Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong sudah muncul sejak dua minggu lalu. Debit air di sumur-sumur warga tinggal sejengkal tangan orang dewasa.


                Kondisi sumur yang dangkal memunculkan gelembung-gelembung saat ditimba. “Kalau normal (sumur tidak dangkal, Red) airnya tidak ada gelembung-gelembung begini,” kata Sudarmi, 38, warga setempat.


                Sekitar pukul 15.00 kemarin, Sudarmi mengambil air di sumur yang berjarak sekitar 30 meter dari rumahnya. Untuk memenuhi dua timba berukuran sedang yang dipikulnya, Sudarmi harus puluhan kali menimba.


                Jika biasanya timba bekas kaleng cat itu bisa penuh saat dimasukkan ke sumur, tidak demikian dengan kemarin. Hanya separo kaleng saja yang terisi. Karenanya, Sudarmi harus puluhan kali menimba agar dua timba miliknya terisi penuh.


                Tidak hanya harus bersabar saat menimba, perempuan berambut panjang ini juga tidak bisa menimba air sesukanya. Kondisi sumur yang dangkal membuat pemanfaatannya digilir. “Saya dapat giliran menimba sore hari. Kalau ngambil airnya ramai-ramai tidak cukup,” lanjutnya.  


                Ketua RT3/RW2 Dusun Sedanggogor, Desa Ngepung Suratno mengatakan, sumur yang digunakan Sudarmi adalah sumur tua di dusunnya. Sumur itu khusus untuk pengambilan air minum.


Selain sumur itu, menurut Suratno ada empat sumur lainnya. Tetapi, empat sumur yang dibangun sejak 2002 dan 2009 lalu itu tidak bisa digunakan untuk air minum. Melainkan hanya untuk kebutuhan mandi saja. “Airnya tidak layak dikonsumsi karena berminyak. Baunya juga tidak enak. Sapi saja tidak mau minum,” urai pria berusia 40 tahun ini.


                Walaupun air dari sumur tua masih keluar hingga kemarin, Suratno memprediksi air akan habis pada September nanti. Jika sudah demikian, sedikitnya ada 270 kepala keluarga (KK) di Dusun Sendanggogor yang akan kesulitan air. Dengan asumsi satu KK kebutuhan minimal air bersihnya sebanyak enam liter, berarti dibutuhkan 1.638 liter air bersih tiap harinya untuk warga.


                Jumlah itu hanya untuk kebutuhan minum saja. Jika empat sumur lainnya yang digunakan untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) juga mengering, kebutuhan air warga akan lebih besar lagi.


                Menjelang datangnya bencana kekeringan yang rutin mereka alami, warga mulai mengecek sejumlah tandon air bersih di lingkungan mereka. Tandon-tandon yang selama musim hujan tidak digunakan itu dibersihkan agar bisa menampung bantuan air bersih dari pemerintah.


Editor : adi nugroho
#bencana