Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Terima 10 Traktor, Petani dan Gapoktan Bisa Memanfaatkan Secara Bergiliran

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Kamis, 6 November 2025 | 21:24 WIB

 

Ilustrasi petani mengolah tanah dengan traktor.
Ilustrasi petani mengolah tanah dengan traktor.
 

JP Radar Kediri-Sejumlah petani di Kabupaten Kediri bisa tersenyum gembira. Jika biasanya mereka harus bergelut dengan biaya tanam yang mahal karena pengolahan dilakukan secara manual, kemarin ada sepuluh gabungan kelompok tani (gapoktan) yang menerima bantuan traktor roda empat.

 Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa yang menerima bantuan traktor mengatakan, sepuluh unit traktor yang kemarin diserahkan kepada gapoktan harus digunakan secara bersama-sama alias bergiliran.

“Ini (traktor) sudah roda empat. Lengkap dengan mesin diesel. Jadi lebih besar dan kuat,” katanya dalam penyerahan traktor di UPTD Pembenihan Pare kemarin.

Lebih jauh Dewi mengatakan, penerima bantuan traktor kemarin bukan hanya petani padi. Melainkan juga petani tebu dan jagung. Selain 10 unit traktor kemarin, pemkab juga mengajukan tambahan alat mesin pertanian (alsintan) ke Kementerian Pertanian (Kementan).

Selain 10 unit traktor kemarin, sedikitnya akan ada tiga unit lagi yang diserahkan kepada kelompok tani (poktan) dan gapoktan. Sehingga, akan ada lebih banyak petani yang bisa menggunakan teknologi pertanian dalam bercocok tanam secara gratis.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Sukadi menyebut, selain bantuan traktor, akhir tahun ini pihaknya juga bekerja sama dengan Food Station Tijipinang Jaya. Yakni untuk pengadaan driyer dan keperluan lainnya dalam pengolahan padi.

Dukungan kepada sektor pertanian, lanjut Sukadi, tidak berhenti pada bantuan alat. Mereka juga sedang menyiapkan program hilirisasi pertanian. Mulai dari pembenihan, pengeringan, hingga produksi beras premium khas Kediri.

“Insya Allah sebelum akhir tahun sudah bisa mulai kita produksi beras premium. Semua proses dari benih hingga pengemasan dilakukan di Kediri,” terangnya.

Selain hilirisasi, dispertabun juga fokus pada upaya penyuburan tanah yang selama ini terlalu bergantung pada pupuk kimia. Salah satunya, membentuk koperasi gapoktan Palem Pare yang beranggotakan 46 gabungan kelompok tani dari Kecamatan Papar, Plemahan, dan Pare.

Koperasi ini memproduksi pupuk organik padat dan cair dengan merek Joyoboyo.

“Hasil laboratoriumnya sudah memenuhi syarat. NPK-nya bahkan mencapai angka tujuh. Sekarang sedang tahap uji coba di tanaman, dan bulan ini kami kirim ke Kementerian Pertanian untuk izin edar,” papar Sukadi sembari menyebut dispertabun juga akan membentuk koperasi yang sama di Purwoasri, Kunjang, Badas, Kandangan, Kepung, dan Puncu.

Dia menargetkan untuk membentuk 10 koperasi yang mencakup 26 kecamatan dan 344 gapoktan di Kabupaten Kediri. Dengan cara demikian, pemanfaatan pupuk organik bisa diperluas. Dengan adanya aturan penggunaan dana desa untuk ketahanan pangan, dana desa bisa digunakan untuk membeli pupuk hasil produksi koperasi.

“Nantinya pupuk organik akan disebar ke lahan petani dengan pendampingan babinsa dan bhabinkamtibmas agar distribusinya tepat sasaran,” urai Sukadi sembari menyebut desa yang klafisikasinya besar bisa mengalokasikan Rp 30 juta untuk pembelian pupuk organik.

Kemudian, desa kategori sedang bisa mengalokasikan Rp 25 juta. Sedangkan desa kategori kecil bisa menyiapkan Rp 20 juta untuk membeli pupuk organik. (*)

 

Editor : Mahfud
#biaya tanam #traktor #gapoktan #petani padi #bercocok tanam #petani tebu