Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sistem Syarikah Timbulkan Keruwetan bagi Jemaah, CJH Kediri Meninggal di Makkah karena Sakit

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 16 Mei 2025 | 06:21 WIB
Sejumlah jemaah langsung sujud syukur setelah pesawat yang mereka tumpangi mendarat di bandara Prince Amir Mahmud bin Abdul Aziz Madinah.
Sejumlah jemaah langsung sujud syukur setelah pesawat yang mereka tumpangi mendarat di bandara Prince Amir Mahmud bin Abdul Aziz Madinah.

MADINAH, Jawa Pos Radar Kediri-Penerapan sistem syarikah oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia (KSA) berdampak pada keruwetan dan ketidaknyamaan jemaah haji seluruh Indonesia. Termasuk jemaah dari Kabupaten dan Kota Kediri.

Jika dulu jamaah Indonesia hanya dilayani satu syarikah (tahun lalu disebutmuasyasah), tahun 2025 ini dilayani delapan syarikah.

Kota Kediri yang masuk kloter 3 berangkat pada 1 Mei lalu. Disusul jemaah Kabupaten Kediri di kloter 4 dan 5 yang berangkat 2 Mei. Selanjutnya, sisa jemaah Kabupaten Kediri di kloter 46 direncanakan berangkat pada 14 Mei.

Jika awalnya mulus saja, kejanggalan mulai terlihat pada 6-7 Mei. Beberapa pengurus Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) di Kabupaten Kediri mulai resah.

Kabar miring tentang kondisi jemaah yang sudah berangkat menjadi penyebabnya.

Informasinya, jemaah yang tergabung dalam satu kloter terpisah di beberapa hotel di Madinah.

Parahnya lagi, pasangan suami-istri, jemaah lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (risti) juga terpisah dari pendampingnya.

"Ini kawan-kawan pimpinan KBIHU yang berada di Tanah Suci mengeluh dengan kondisi pelayanan di sana. Ada petugas kloter yang terpisah dengan jemaah yang dipimpinannya. Kartu nusuk yang terlambat dibagikan, dan banyak lagi," ujar Ahsinil Umam, sekretaris Forum Komunikasi KBIHU Kabupaten Kediri.

Pada Kamis (8/5) pagi, Kasi Pelayanan Haji dan Umrah Kabupaten Kediri Kholiq Nawawi mengumpulkan pimpinan KBIHU di Kabupaten Kediri.

Kholiq membeber situasi terkini yang terjadi. Intinya, mulai Jumat (9/5) lalu pemberangkatan jemah harus berdasar syarikah.

Istilahnya satu kloter satu syarikah. Tanpa melihat pasangan suami-istri, penggabungan, atau kelompok KBIHU.

Penerapan itu membuat semua semakin ribut. Pada Kamis (8/5) malam Kemenag Kabupaten Kediri mengumpulkan seluruh jemaah Kabupaten Kediri yang belum berangkat.

Mereka meminta jemaah siap dengan segala perubahan. Dampak dari aturan baru 1 kloter 1 syarikah.

Jemaah Kabupaten Kediri yang sebelumnya tergabung di kloter 46, harus terpecah masuk kloter 27, 28, 45, dan 46 yang sudah diberangkatkan.

Ada pula yang tergabung di kloter 86 yang baru berangkat 26 Mei nanti. Kloter itu campuran jemaah dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Dampaknya, banyak jemaah yand tidak kenal satu sama lain di satu kelompok. Ketua regu dan ketua rombongan juga tidak kenal jemaah yang dipimpinnya.

Sebab mereka baru bertemu saat berada di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.

"Apapun yang terkadi, kami terus membesarkan hati jemaah. Bahkan kami membuat jargon tahun ini sebagai ‘Haji Bahagia’ untuk memotivasi jemaah agar tetap tenang dan fokus ibadah di tengah keruwetan pelaksanaan haji,” lanjut pria yang akrab Gus Ahsin, pimpinan KBIHU Ishlahul Ummah Kabupaten Kediri.

Terlepas dari berbagai keruwetan itu, Radar Kediri yang tergabung di kloter 45 SUB bersama 124 jemaah Kabupaten Kediri mendarat di Bandara Prince Amir Mahmud bin Abdul Aziz Madinah pada pukul 09.50 Waktu Arab Saudi (WAS).

Dilayani oleh Syarikah Rehlat Manafie-RHL, sebagian jemaah langsung sujud syukur di bumi Rasulullah dimakamkan. Sebagian lagi sesenggukan menangis. Terenyuh sekaligus penuh syukur karena bisa mendarat di Madinah dengan selamat.

          Sementara itu, selain para jemaah kloter 45 SUB yang sudah mendarat, Inten Retno Wati, 56, jemaah asal Desa Wonojoyo, Gurah meninggal dunia di Makkah pada Rabu (14/5) lalu karena sakit. Kepala Kemenag Kabupaten Kediri Achmad Faiz menyebut Inten berangkat ke Tanah Suci bersama Ramelan, 56, suaminya.

          Berdasar laporan dari ketua kloter, Inten meninggal dunia di Saudia National Hospital. Dia mengembuskan napas terakhir pada Rabu (14/5) lalu sekitar pukul 13.50 Waktu Arab Saudi (WAS).

“Meninggal karena mengalami syok sepsis atau tekanan darah yang turun secara drastis. Akibatnya almarhum mengalami multiorgan failure,” papar Faiz sembari menyebut almarhumah dimakamkan di Pemakaman Sharaya, Makkah.

 sesuai penanganan jemaah wafat di Arab Saudi. “Pihak keluarga menyambut baik dimakamkan di Makkah,” jelasnya.

Baca Juga: CJH Kota Kediri Berangkat Kloter 1 bersama Tulungagung, Wali Kota Vinanda : Tetap Rukun, Saling Jaga, dan Fokus Beribadah

          Selain Inten, menurut Faiz kondisi jemaah lainnya sehat. Dia mengimbau jemaah tetap menjaga kesehatan karena kondisi cuaca di Arab Saudi sedang ekstrem.

Terkait aktivitas jemaah menunggu puncak ibadah haji, mereka melakukan rangkaian umrah sunnah dan ziarah.

          Seperti halnya jemaah haji Kabupaten Kediri, jemaah haji Kota Kediri juga diminta menjaga kesehatannya.

Ketua Kelompok Terbang (Kloter) SUB 03 Khoirul Anam mengatakan, secara umum kondisi jemaah Kota Kediri sangat baik. Hanya ada beberapa jemaah yang mengeluhkan batuk dan pilek ringan.

          “Biasa karena cuaca dan penyesuaian terhadap kondisi di Makkah,” tutur Khoirul terkait beberapa jemaah yang batuk pilek. Meski kondisi tubuh tidak sepenuhnya fit, mereka tetap melakukan ibadah rutin ke Masjidil Haram. Di antaranya melakukan umrah sunnah.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #cjh meninggal #sistem syarikah