KEDIRI, JP Radar Kediri– Kasus DBD Kabupaten Kediri terus meningkat. Pada November-Desember 2024 lalu, angkanya mencapai 23 kasus. Sedangkan awal tahun ini, hingga jumat (7/2) jumlahnya hampir dua kali lipat yakni 40 kasus.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Bambang Triyono Putro. Meski angkanya cukup tinggi, dr Bambang memastikan tidak ada kasus kematian di awal 2025 ini.
“Kasusnya masih fluktuatif dari minggu ke minggu,” ucap dr Bambang kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Baca Juga: Banyak Pasien DBD di Kota Kediri yang Dirawat di Puskesmas
Untuk melawan serangan nyamuk aedes aegypti itu, Pemkab Kediri menyebar ikan hias di kawasan yang rawan terdampak. Penyebaran ikan hias itu dilakukan oleh dinas perikanan dengan menggandeng kelompok ikan air tawar.
Saat ini, sasarannya penyebarannya berada di Kecamatan Ngasem. Di sana ada ribuan ekor ikan hias yang diberikan ke warga secara cuma-cuma. Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan, Andik Priyo Setiawan, mengatakan, pemberian ikan hias air tawar ini dilakukan setelah ada permintaan pihak Kecamatan Ngasem yang berkoordinasi dengan Puskesmas Ngasem.
Baca Juga: Cegah DBD, Dinkes Kota Kediri Siapkan Satu Rumah Satu Kader Jumantik
“Pengajuannya sudah sejak satu minggu yang lalu,” jelas lelaki yang akrab disapa Andik.
Rencananya ribuan ekor ikan hias itu diberikan ke dua desa yakni Desa Karangrejo dan Desa Tugurejo, Ngasem. Dua desa ini memiliki kasus DBD yang cukup tinggi. Bahkan masuk 4 besar tertinggi di Kabupaten Kediri.
Ikan hias air tawar yang dibagikan ini merupakan milik pembudidaya di Kabupaten Kediri. Seperti Desa Mojosari, Kecamatan Kras; Desa Badalpandean, Kecamatan Ngadiluwih; dan Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah.
Baca Juga: Waspada! DBD Serang Puluhan Warga Kabupaten Kediri
“Kami bekerjasama dengan pembudidaya ikan untuk memenuhi permintaan. Jumlah yang diberikan juga berbeda-beda,” imbuhnya.
Ikan hias didapat dari dana partisipasi kelompok pembudidaya ikan. Masing-masing dari mereka menyumbangkan jenis ikan cupang dan ikan mas koki.
Berdasarkan data yang dihimpun wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Desa Mojosari, Kecamatan Kras menyumbangkan ikan cupang sebanyak 1.970 ekor dan ikan mas koki 500 ekor. Selanjutnya Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah memberikan ikan cupang 500 ekor dan ikan mas koki 500 ekor. Dan Desa Badalpandean, Kecamatan Ngadiluwih mengirimkan ikan cupang sejumlah 100 ekor.
“Kalau untuk jenis ikan molly ini berasal dari teman-teman penyuluh saja,” ungkap Andik, lelaki asal Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota.
Baca Juga: Penanganan Terlambat, Satu Anak di Kabupaten Kediri Meninggal Dunia karena DBD
Tiga jenis ikan hias itu dianggap mampu membantu mengurangi jentik nyamuk. Selain memiliki bentuk yang menarik, ukuran yang kecil juga memudahkan untuk proses penyimpanannya.
Saat ini masing-masing desa diberikan ikan dengan jumlah yang berbeda. Seperti Desa Karangrejo yang mendapat ikan cupang atau beta sebanyak 1.200 ekor. Ditambah dengan ikan molly 250 ekor dan ikan mas koki 200 ekor. Sedangkan untuk Desa Tugurejo memperoleh ikan cupang sejumlah 1.100 ekor, ikan mas koki 200 ekor, serta ikan molly 250 ekor.
Baca Juga: Awal Tahun 2024, Dinkes Mencatatkan Empat Kasus DBD di Kota Kediri
“Tiga jenis ikan itu menyukai jentik nyamuk sebagai makanannya,” ungkap Andik.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian