KEDIRI, JP Radar Kediri- Kanker serviks atau leher rahim masih menjadi penyakit paling mematikan pada perempuan. Setiap tahunnya ada puluhan kasus yang menimpa perempuan di Kota Kediri.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri Muhammad Fajri Mubasysyir melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Suprianto mengatakan, fatalitas kanker serviks sangat tinggi. “Angka kematiannya sangat tinggi. Kasus pertama adalah kanker payudara, nomor dua kanker serviks,” terang Hendik.
Tingginya fatalitas pada penyakit tersebut karena sering kali terlambat disadari. Pada umumnya, 70 persen penderita kanker serviks datang di layanan kesehatan sudah dalam kondisi terlambat.
“Dari awal tidak bergejala. Sehingga mereka baru muncul itu sudah stadium tiga. Ini yang sulit disembuhkan,” terangnya.
Bagaimana dengan di Kota Kediri? Di Kota Kediri, tren kasus kanker serviks terus mengalami peningkatan. Pada 2022 lalu mencapai 47 penderita. Jumlahnya meningkat sepuluh kasus pada 2023 menjadi 57 penderita.
Diperkirakan jumlahnya lebih tinggi lagi karena mayoritas penderitanya berobat ke rumah sakit di luar kota.
“Biasanya perlu kemoterapi atau pengobatan lain-lain,” sambungnya.
Tingginya kasus kanker serviks dan fatalitas yang menyertai, maka perlu adanya upaya pencegahan. Salah satunya dengan pemberian vaksinasi Human Papillomavirus atau HPV. Khususnya pada remaja perempuan.
“Salah satu pencegahannya ya dengan melakukan imunisasi HPV,” terangnya, ditemui di lokasi vaksinasi HPV pada remaja perempuan di SMPN 6 Kota Kediri kemarin (14/1).
Ada 181 pelajar perempuan yang mendapatkan suntikan vaksin HPV di SMPN 6 Kota Kediri kemarin. Jika sebelumnya sasarannya merupakan anak SD kelas V dan VI, tahun ini diadakan perluasan sasaran dengan cakupan pelaksanaan imunisasi HPV pada remaja perempuan kelas IX SMP.
Pemkot melalui dinkes akan menyasar 3.500 orang dari pelajar di sekolah formal dan non-formal seperti pondok pesantren.
“Sebetulnya imunisasi HPV ini bisa sampai usia 40 tahun. Tapi yang lebih diutamakan dan hasilnya lebih efektif itu pada remaja. Sebelum dia melakukan hubungan seksual,” beber Hendik.
Dia mengatakan, masih banyak masyarakat yang menunjukkan penolakan terhadap vaksinasi HPV. “Biasanya yang menolak itu karena kurang paham. Mungkin kurang sosialisasi terkait dengan manfaat dan sebagainya. Dari pemerintah sendiri juga sudah merekomendasikan bahwa vaksin ini sudah melalui uji dan sebagainya,” tandasnya sembari berharap tidak ada lagi penolakan dari masyarakat. Khususnya sasaran vaksinasi HPV.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian