KEDIRI, JP Radar Kediri- Merebaknya kembali penyakit mulut dan kuku (PMK), membuat peternak di Kabupaten Kediri panik. Mereka ramai-ramai menjual hewan peliharaan yang sudah terinfeksi.
Mendapat harga di bawah pasaran pun tetap dilepas karena khawatir sapi yang sudah sakit itu keburu mati dan tidak laku.
Seperti dilakukan oleh Iwan, 44, peternak di Desa Kalirong, Tarokan. Dia memilih segera menjual sapinya yang terinfeksi PMK meski kondisinya masih relatif sehat.
“Khawatirnya malah ambruk. Nanti harganya lebih murah lagi,” aku pria yang melepas sapinya dengan harga Rp 15 juta itu.
Harga normal sapi miliknya di pasaran bisa mencapai Rp 20 juta sampai Rp 22 juta per ekor. Namun, dia rela merugi jutaan rupiah ketimbang ternaknya mati dan tidak laku.
“Saya masih beruntung. Peternak lain banyak yang hanya mendapat harga Rp 10 juta atau 12 juta,” akunya sembari menyebut sapi milik peternak di Desa Kaliboto Tarokan ada yang hanya laku dijual Rp 3 juta hingga Rp 5 juta karena telanjur ambruk.
Terpisah, Saiful Anam, blantik sapi asal Desa Cerme, Grogol juga tak menampik kepanikan para peternak setelah PMK semakin meluas.
Dalam beberapa hari terakhir, dia mengaku mendapat tawaran untuk membeli sapi hingga 25 ekor dari Cerme saja.
“Dari Grogol saya ditawari delapan ekor, hanya tiga ekor yang saya beli karena kasihan,” ungkap Saiful.
Jika sapi yang ditawarkan kepada dirinya masih dalam kondisi sehat setelah terinfeksi, pria yang juga kepala Desa Cerme itu menawarkan untuk mengobatinya.
“Saya beri resep obat. Pengalaman penanganan PMK tahun lalu. Kasihan sekarang harga sedang anjlok,” lanjutnya.
Sapi-sapi terinfeksi PMK yang dibelinya itu lantas diobati di kandangnya.
Selain sebanyak 50 ekor sapi sehat yang dipeliharanya, menurut Saiful saat ini ada 30 ekor sapi terinfeksi PMK yang sedang dirawat.
“Kondisinya terus membaik,” terangnya.
Untuk diketahui, sejak Desember-Januari ini sedikitnya ada 447 ekor sapi yang terdata terjangkit PMK.
Hal itu diakui oleh Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri drh Tutik Purwaningsih membuat masyarakat melakukan panic selling.
Mencegah hal tersebut terjadi berkepanjangan, DKPP turun ke pasar dan peternakan untuk memberi edukasi.
Seperti kemarin mereka melakukan sidak ke Pasar Sapi Tertek, Pare. Di sana petugas melakukan disinfeksi pasar.
Selanjutnya, memeriksa sapi yang dibawa pedagang. Hasilnya, ada tiga ekor sapi yang terjangkit PMK namun tetap dibawa ke pasar.
Salah satu sapi bahkan terlihat kejang-kejang. Melihat itu, peternak langsung menyembelih sapinya di pasar. Sayang, belum sempat diperiksa petugas, sapi yang disembelih itu langsung dibawa pergi.
“Tadi (07/1) ada sapi yang kata petugas kejang-kejang dan disembelih. Namun kami belum sampai dan sudah hilang (dibawa pergi, Red),” kata Tutik.
Dengan fakta tersebut, Tutik menyebut DKPP akan melakukan evaluasi kelanjutan operasional pasar hewan di Kabupaten Kediri.
Yakni, apakah tetap boleh buka atau dihentikan operasionalnya seperti sebelumnya.
“Pasar di beberapa daerah lain ada yang sudah ditutup,” lanjut Tutik.
Dalam kesempatan kemarin Tutik mengimbau masyarakat agar waspada dengan adanya PMK.
Yakni, dengan menjaga kebersihan kandang. Serta mewaspadai lalu lintas ternak.
Termasuk menegaskan pedagang agar tidak sekali-kali membawa hewan yang terpapar PMK ke pasar.
“Kami juga kumpulkan perwakilan pedagang, kami butuh komitmen untuk menaati SOP (standar, operasi, dan prosedur). Jika tidak komitmen, ini akan menjadi pertimbangan sendiri terkait operasional pasar hewan ke depan,” tandas Tutik.
Sementara itu, merebaknya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kota Kediri disinyalir karena distribusi vaksin yang menurun sejak akhir 2024 lalu.
Karenanya, dalam 16 hari terakhir sedikitnya ada 21 hewan pada sapi juga mulai muncul di Kota Kediri.
Sejak kemunculan kasusnya pada 20 Desember 2024 lalu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri sudah mencatat sedikitnya ada 21 kasus.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri M. Ridwan mengatakan, temuan puluhan kasus itu tersebar di tiga kecamatan.
Paling banyak ditemukan di Kecamatan Pesantren sebanyak 14 kasus.
Disusul Kecamatan Mojoroto dengan enam kasus, serta satu kasus di Kecamatan Kota.
“Sebenarnya peternak sudah tahu tentang PMK ini. Kami mengingatkan lagi lewat kegiatan pemantauan di lapangan (untuk mewaspadai PMK, Red),” terang Ridwan.
Diakui Ridwan, kasus PMK memang tengah naik di beberapa daerah di Jawa Timur. Tak terkecuali di Kota Kediri.
Pihaknya pun menerapkan kewaspadaan tinggi terhadap persebaran penyakit ternak yang disebabkan virus aphthovirus itu.
“Karena persebarannya yang luar biasa. Hampir sama seperti covid itu,” akunya.
Terkait penyebab munculnya banyak kasus, Ridwan mensinyalir ada pengaruh individu ternak baru yang belum tervaksin. Selain itu, ketersediaan vaksin juga menipis sejak akhir 2024 lalu.
“Di akhir Desember, di tahun baru itu kita koordinasi, vaksinnya sudah banyak berkurang. Di Jawa Timur sudah tidak ada dropping vaksin untuk Desember kemarin,” bebernya menengarai minimnya stok vaksin dimungkinkan menyebabkan penyebaran kasus kian banyak.
Untuk mencegah perluasan, Ridwan mengimbau peternak lebih selektif saat melakukan jual beli.
Yakni, hanya membeli ternak yang terbukti sudah divaksin. Dibuktikan dengan adanya eartag di telinga ternak.
“Untuk sapi anakan kami tidak merekomendasikan untuk dibeli selama belum ada bukti vaksinasi,” tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah