Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tersapu Angin, Puluhan Rumah di Kabupaten Kediri Rusak

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 2 November 2024 | 16:37 WIB
LALU LINTAS MACET: Petugas BPBD bersama relawan dan polisi memangkas pohon yang ambruk ke jalan raya Desa Pranggang, Plosoklaten pada Kamis (31/10) malam lalu.
LALU LINTAS MACET: Petugas BPBD bersama relawan dan polisi memangkas pohon yang ambruk ke jalan raya Desa Pranggang, Plosoklaten pada Kamis (31/10) malam lalu.

KEDIRI, JP Radar Kediri-Aktivitas Suyadi, warga Dusun Sumberejo, Desa Pranggang, Plosoklaten, yang memilah sampah di garasinya sekitar pukul 16.00, Kamis (31/10) lalu berubah jadi kepanikan.

Teriakan Marsini, sang istri, dan anaknya setelah atap rumah beterbangan tersapu angin, membuat Suyadi langsung berlari ke depan menyelamatkan diri.

Hanya dalam hitungan detik, sapuan angin juga membuat tembok rumahnya ikut ambrol nyaris tak tersisa.

“Waktu itu (saat bencana angin kencang, Red) saya sedang memilah sampah di garasi. Anak dan istri saya bersantai di dalam rumah,” kenang Suyadi tentang bencana yang membuat dia dan keluarganya harus mengungsi ke rumah kerabatnya itu.

Dia sama sekali tidak menyangka jika langit mendung Kamis sore lalu juga akan disertai angin kencang. Bahkan, dia tetap santai ketika angin berembus kencang dari arah timur. Dia tetap melanjutkan memilah sampah.

“Tiba-tiba istri dan anak saya berteriak. Memberitahu kalau atap galvalum tersingkap. Saya lari untuk mengecek kondisi anak dan istri. Setelah itu berlari ke depan untuk menyelamatkan diri,” lanjut Suyadi.

Keputusan Suyadi dan keluarganya untuk berlari ke depan menyelamatkan diri sudah tepat. Sebab, setelah atapnya terbang tersapu angin, beberapa detik kemudian tembok penyangga kuda-kuda di bagian atas rumahnya juga ambrol.

Perabotan rumah seperti lemari, sofa, kasur dan lainnya ikut tertimbun reruntuhan bangunan.

“Rusak semua. Rumah tidak bisa ditinggali. Buku dan seragam ikut basah dan kotor,” tutur Suyadi tentang nasib anaknya yang harus absen sekolah itu.

Selain Suyadi yang merugi hingga puluhan juta rupiah, bencana angin kencang juga membuat rumah semipermanen milik Riyanto, di desa Pranggang ambruk. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

“Saya sedang bekerja. Anak saya di luar kota,” aku Riyanto yang juga merugi puluhan juta rupiah tersebut.

Selain dua rumah, ada tiga lainnya yang juga mengalami rusak berat akibat bencana angin kencang di lereng Gunung Kelud tersebut.

Adapun 83 unit rumah lainnya mengalami rusak sedang dan ringan. Selain 90 rumah di Desa Pranggang yang rusak, satu rumah di Desa Plosolor, Plosoklaten juga rusak berat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno menyebut, kerusakan akibat bencana angin kencang juga terjadi di daerah lainnya.

Di Desa Sempu, Ngancar ada tiga rumah rusak ringan, satu rumah rusak sedang, dan 1 satu rumah rusak berat.

“Angin kencang juga membuat puluhan pohon ambruk hingga ada yang menutupi jalan,” tandas Djoko sembari menyebut pihaknya sudah melakukan asesmen seluruh dampak kerusakan.

Sementara itu, selain bencana angin kencang kemarin, ancaman bencana serupa masih akan mengintai Kediri Raya dalam seminggu ke depan. Hal tersebut tak lepas dari pertumbuhan awan kumulonimbus yang mencapai 15 kilometer hingga memicu hujan es.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas III Kediri memprediksi cuaca ekstrem masih bisa melanda Kediri Raya hingga Rabu (6/11) mendatang.

Selain fenomena atmosfer, faktor lokal juga jadi pemicu cuaca ekstrem seperti hujan es yang terjadi di Puncu dan Kepung, pada Kamis petang (31/10).

Prakirawan Cuaca BMKG Kediri Radhithe Fadly mengatakan, saat ini beberapa wilayah sudah muncul fenomena konvergensi atau pertemuan angin.

Hal itu menimbulkan bertumbuhnya awan-awan penyebab hujan. Di wilayah Kediri, faktor lokalnya cukup berpengaruh terhadap kondisi cuaca.

“Karena banyak dataran tinggi yang bisa menjadi faktor pendukung lokal yang menyebabkan sering terjadi cuaca ekstrem di Kediri, seperti saat hujan es di Plosoklaten kemarin (31/10),” terang Radhithe.

Selain itu, adanya gangguan gelombang atmosfer Rossby juga ikut berkontribusi menimbulkan konsentrasi awan-awan hujan di Jawa Timur, termasuk Kediri.

Akibatnya, bencana hidrometeorologi seperti hujan deras, angin kencang, dan petir masih berpotensi terjadi beberapa hari ke depan.

Radhithe mencontohkan, hujan es yang terjadi di Plosoklaten beberapa waktu lalu juga dampak dari cuaca ekstrem tersebut.

Kondisi itu disebabkan oleh pertumbuhan awan kumulonimbus yang mencapai ketinggian 15 kilometer.

“Kemungkinan bisa terjadi (hujan es di wilayah lain, Red). Tapi cukup jarang. Karena fenomena hujan es jarang terjadi. Hanya beberapa saat atau beberapa kali saja,” bebernya sembari mengimbau masyarakat tetap memantau informasi cuaca melalui BMKG.

Baca Juga: Si Jago Merah Mengamuk di Gudang Penyimpanan Egg Tray Gurah Kediri 

Terpisah, Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) merespons maraknya bencana angin kencang dengan melakukan pemangkasan pohon di sejumlah titik.

Pantauan media ini, pemangkasan pohon dilakukan di Jl Sudanco Supriyadi. Pohon besar dan tua di sana dipangkas karena rawan tumbang saat hujan deras atau tersapu angin.

“Terutama terlalu rimbun atau rindang untuk mengurangi beban pohon saat angin kencang,” kata Kepala DLHKP Kota Kediri Imam Muttakin sembari menyebut jelang musim hujan ini pihaknya banyak menerima permintaan pemangkasan pohon hijau.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#angin kencah #kediri #bencana #Peristiwa #pohon tumbang