Kematian tiga sapi itu terjadi Minggu dini hari (21/5). Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri memastikan adanya indikasi terinfeksi PMK di sapi-sapi tersebut.
Binti Rasulli, 55, istri Katimo-pemilik sapi, mengatakan menemukan seekor sapinya tergeletak sepulang dari melayat tetangganya Sabtu (20/5). “Pulang melayat langsung ke belakang. Kaget lihat sapi sudah tergeletak. Langsung saya panggil suami di sawah. Kula bengok, tak tangisi (saya teriak, saya tangisi, Red),” ceritanya.
Ternyata, malam harinya, sekitar pukul 21.00, seekor sapi lagi yang mati. Kali ini indukan titipan tetangganya. Kejadian ini membuat pasutri tersebut begadang. Menjaga sapinya bila ada apa-apa.
Benar saja, pukul 02.00 sapi terakhir milik keluarga ini tiba-tiba kejang. Segera Katimo memanggil tukang jagal. Sayang, sebelum penjagal datang sapi sudah kehilangan nyawa.
“Tiba-tiba kejel-kejel (kejang, Red) terus berdiri dua kaki, terus ambruk. Sempat berdiri lagi, ambruk sudah gak ada (mati, Red),” urai Binti menceritakan kejadian dini hari itu.
“Kejang-kejang kepalanya sampek muter, krekk…,” imbuh Katimo.
Katimo segera melaporkan hal itu ke pihak DKPP. Petugas datang sekitar pukul 09.00 dan melakukan pembedahan. Hasilnya, ada indikasi sapi tersebut terkena PMK.
“Gejala klini mengarah PMK memang tidak ada. Begitu kami bedah ada indikasi PMK dari keadaan jantungnya. Ada myocarditis dengan spesifik lesi yang dinamakan tiger heart,” terang Kepala DKPP Tutik Purwaningsih.
Berdasar keterangan Katimo, sapinya tak menunjukkan tanda-tanda sakit. Paginya pun masih lahap makan. Namun, sapinya memang belum pernah diberi vaksin PMK. Hanya pernah diberi obat dan jamu oleh pihak desa.
“Sudah dikasih obat. Satu obat bubuk sudah diminumkan. Yang satu kayak micin (vitsin, Red) untuk dioleskan di kukunya,” jelas pria yang mengaku rugi Rp 75 juta akibat kejadian ini.
Soal vaksinasi yang belum sampai ke Desa Sidowarek dibenarkan oleh Tutik. “Kebetulan untuk Desa Sidowarek jadwal vaksin baru minggu depan. Keduluan kena,” jelasnya.
Tutik mengakui, saat ini konsentrasi pihaknya terpecah dengan serangan lumpy skin disease (LSD). Hal itu yang membuat penanganan petugas terbagi.
“Petugas kami berjibaku juga dengan penanganan LSD. Kami evaluasi dan buat strategi biar tertangani semua apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” janjinya.
Bila di kabupaten terjadi kasus kematian, tidak demikian halnya dengan Kota Kediri. Hingga kemarin masih belum ada kasus kematian akibat PMK alias zero kasus sejak September tahun lalu. Namun demikian pihak Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri tetap melakukan percepatan vaksinasi bagi hewan berkuku belah tersebut.
Distribusi vaksin PMK terus bergulir. Baru-baru ini, DKPP Kota Kediri menerima ribuan alokasi vaksin dari pemerintah provinsi. Rencananya 1.250 dosis yang diterima Senin (15/5) ditargetkan terdistribusi dalam satu bulan.
“Setidaknya dalam sehari, seratus dosis bisa tersalurkan itu sudah bagus. Karena untuk vaksin satu ekor sapi saja lumayan memakan waktu. Bisa 15-30 menit,” kata Kepala DKPP Kota Kediri Mohamad Ridwan. Menurutnya, proses pendataan sapi dan pemasangan eartag memakan waktu.
Target vaksinasi tidak hanya ditujukan pada sapi. Juga merambah hewan berkuku belah lainnya. Termasuk domba dan kambing. Hanya saja untuk domba dan kambing dosis vaksinnya hanya setengah.
“Kami prioritaskan di daerah yang banyak ternaknya atau yang mobilitas ternaknya tinggi. Tapi untuk sekarang ini maksimalkan setiap sekali jalan. Tim kami akan menghampiri jika ada ternak di sana,” papar Ridwan.
Saat ini peternak banyak yang sadar pentingnya vaksinasi. Mereka juga bersedia dipasang eartag sebagai penanda ternak sudah divaksin. Sebelumnya banyak peternak yang menolak jika ternaknya diberi eartag.
“Persepsi eartag mungkin masih terpengaruh dulu yang biasanya dipasang di sapi bantuan. Takut kalau harganya turun, banyak yang menolak. Tapi sekarang banyak yang sudah paham,” terang laki-laki asal Pare itu.
Nantinya, fungsi eartag akan diproyeksikan sebagai identitas ternak. Termasuk bukti bahwa ternak sehat dan telah divaksin. Itu juga untuk menekan potensi persebaran penyakit di tengah mobilitas ternak yang tinggi antardaerah. Meski belum jadi acuan utama, wacana itu tetap jadi tujuan di kemudian hari.
“Harapannya informasi terkait ternak itu bisa diakses dengan scan eartag. Dan semua orang pun bisa mengakses itu,” harap Ridwan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah