Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, dinding hotel yang dibangun sejak 2008 itu di beberapa bagian sudah ada yang ambrol. Selebihnya banyak yang retak-retak hingga berongga. Dari kejauhan, bangunan bercat kuning itu terlihat miring.
Kerusakan paling parah terlihat pada bangunan yang berbatasan langsung dengan plengsengan sungai. Pagar setinggi sekitar empat meter di sana ambrol. Menyisakan lubang menganga. Sinar, 74, pemilik hotel Kolombo yang ditemui di lokasi kemarin mengungkapkan, kerusakan bangunan hotel terjadi sejak pukul 20.00. “Lantai sudah mulai retak. Bunyi tak..tak..tak gitu lalu lantainya mencelat-mencelat,” ujarnya sembari menggambarkan dengan gerakan tangan saat keramik lantainya tiba-tiba terpelanting.
Tak lama kemudian kerusakan meluas. Dinding hotelnya juga banyak yang retak. Selang dua jam atau sekitar pukul 22.00, bangunannya mulai miring. “Tadi (Sabtu malam, Red) sebenarnya ada tiga tamu. Mereka langsung kami minta meninggalkan hotel saat lantai mulai retak-retak,” lanjut Sinar.
Saat kerusakan hotel semakin parah dan konstruksinya miring, mereka tidak lagi berada di dalam kamar. Melainkan hanya ada empat karyawan yang standby di hotel.
Dikatakan Sinar, kerusakan yang paling parah terjadi di bagian depan dan sisi utara. Bangunan berukuran 6x20 itu pula yang miring dan nyaris ambruk. Akibat kerusakan bangunan itu, Sinar mengaku merugi hingga ratusan juta rupiah. “Kerugiannya sekitar Rp 650 juta hingga Rp 700 juta,” terangnya.
Untuk diketahui, hotel Kolombo mengalami kerusakan setelah fondasi bangunan tergerus air bah. Hal tersebut terjadi karena plengsengan sungai di bagian bawah juga ikut tergerus.
Selain merusak hotel Kolombo, dua rumah warga lainnya yang ada di tepi Sungai Kaliombo juga rusak. Yakni, milik Hisyam Dodi, 34 dan rumah Budi Santoso, 50, yang berdekatan. Bangunan dapur rumah kakak-adik yang ada di dekat hotel Kolombo itu juga ambrol.
“Setelah salat tarawih mulai ada suara retakan. Pukul 22.30 dapurnya langsung ambrol,” kata pria yang akrab disapa Hisyam ini. Saat kejadian dia mengaku sudah duduk di halaman rumahnya.
Mendengar suarayang keras, dia langsung memanggil Budi Santoso, kakaknya. Rupanya, kerusakan yang lebih parah terjadi di rumah Budi. Demi keamanan, Budi mengajak keluarganya untuk sementara tinggal di tempat kos.
Sedangkan Hisyam yang kerusakannya relatif lebih ringan memilih tetap standby di rumah.
Pantauan koran ini sekitar pukul 09.00 kemarin, hotel Kolombo dipasangi police line. Demikian juga jembatan di utara hotel juga dipasangi garis polisi karena ikut mengalami retak-retak.
Sejumlah petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri, Tim Basarnas, hingga relawan PMI Kota Kediri melakukan pengamatan di lokasi. Kepala BPBD Kota Kediri Indun Munawaroh menjelaskan, pihaknya memutuskan menutup hotel Kolombo dan dua rumah ambrol dengan police line. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah warga mendekat ke hotel.
“Takutnya nanti makin parah dan ambruk kalau banyak yang ingin tahu dan bergerombol di sana. Jadi sementara kami berkoordinasi dengan polisi untuk memberikan police line di area hotel,” tuturnya.
Terpisah, Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Kediri I Made Dwi Permana menjelaskan, kerusakan hotel Kolombo dan dua rumah terdampak kemarin sudah dicek oleh Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar dan sejumlah pejabat. Made yang juga bersama rombongan menengarai rusaknya fondasi hotel Kolombo karena plengsengan yang ambrol.
Usai pengecekan lokasi kemarin, dinas PUPR akan membersihkan pohon yang ambruk secepatnya. Terkait kerusakan plengsengan, menurut Made penanganannya menunggu arus Sungai Kaliombo normal kembali. Sebab, hingga kemarin siang arus sungai yang berhulu di Kali Tawang atau dari lereng Kelud itu masih tetap tinggi. “Kalau dilakukan sekarang (perbaikan plengsengan, Red) masih membahayakan,” paparnya sembari menyebut pemkot akan menertibkan sempadan sungai dari bangunan-bangunan, untuk mengantisipasi bencana banjir serupa ke depan.
Untuk diketahui, hujan deras yang mengguyur Kota Kediri selama dua hari terakhir hingga Sabtu malam lau membuat lima kelurahan dilanda banjir. Mulai di Perumahan Permata Biru, Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren. Kemudian, Perumahan BTN Rejomulyo, di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri.
Ada pula Graha Mukti Regency di Kelurahan Tosaren, Pesantren yang terkena air bah. Banjir juga terjadi di Kelurahan Blabak, Pesantren, dan Perumahan Bence Regency, di Kelurahan Bence, Pesantren. “Total ada sekitar 107 rumah yang tergenang air bah,” jelas Indun.
Meski ketinggian air sempat mencapai 1 meter, perlahan air mulai surut pada Minggu (26/3) dini hari lalu. Ini setelah tim BPBD mendatangi lokasi banjir dan menyedot air yang masuk ke rumah warga.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah