“Kemarin (Jumat, Red) dia berdandan rapi, pakai kemeja kota-kotak warna merah. Biasanya hanya pakai kaus, kadang juta terlihat kumus-kumus,” kata Karina, guru les bocah kelas 3 SDN Sumberagung 2 itu.
Penampilan yang berbeda itu membuat gadis berusia 25 tahun tersebut sempat heran. “Aku mbatin. Tumben dia macak rapi,” kenangnya akan sosok bocah periang dan pintar itu.
Dari sepuluh anak yang setiap hari mengikuti bimbingan belajar di rumahnya, anak nomor dua dari tiga bersaudara itu memang terlihat menonjol. Saat diberi soal, dia selalu mengerjakan dengan benar. Di mata teman-temannya, dia juga sosok yang ramah dan baik.
Karenanya, begitu mendengar kabar bocah cerdas itu tenggelam di parit bersama sang adik, Karina dan teman-teman lesnya ikut berduka. Apalagi, hingga kemarin tubuhnya masih belum ditemukan.
Yang membuat Karina semakin terkesan, bukan hanya karena dandanannya pada Jumat lalu yang lebih rapi dibanding biasa. Melainkan, dia juga menyampaikan pesan perpisahan secara tersirat kepada teman-temannya. “Sampai jumpa lagi ya, sambil melambaikan tangan dan pulang,” tutur Karina menirukan penuturan teman-teman Alvian.
Entah itu suatu kebetulan atau Alvian memang benar-benar menyampaikan pamit pada teman-temannya, perbuatan tak biasa bocah asal Dusun Seminang, Desa Sumberagung, Kecamatan Wates itu menjadi kenangan terakhir teman-temannya. Mereka semakin sedih karena hingga kemarin teman bermain mereka belum kunjung ditemukan.
Selain teman- teman Alvian yang bersedih, suasana duka tergambar jelas di rumahnya. Usai pemakaman sekitar pukul 11.30 kemarin, Hendri Supriyono, ayah Alvian terlihat histeris usai mengantar anaknya ke peristirahatan terakhir. “Ya Alloh, Ya Alloh, Astagfirullah... anakku,” rintihnya lirih beruraian air mata.
Ditemani beberapa kerabat dan tetangga di dalam rumah, pria berusia 46 tahun itu tak bisa menahan kesedihan yang dirasakan. Meski beberapa kali istighfar, dia belum bisa menahan kesedihan karena kehilangan dua anaknya secara tragis. Sejurus kemudian, Hendri berusaha bangkit hendak keluar rumah. Melihat jalannya yang sempoyongan, beberapa kerabat langsung menahannya.
Sementara itu, sebelum jenazah dibawa ke rumah duka sekitar pukul 11.00, kerabat Hendri sudah menunggu di ruang jenazah RSUD Gambiran sejak pagi. Adalah Suparmi, 53, warga Desa Jabon, Banyakan, Kabupaten Kediri yang kemarin menunggui jenazah saudaranya di sana.
Jenazah Nouval, bayi berusia empat bulan yang ditemukan kemarin terlihat sudah terbungkus kain kafan. “Ya Alloh, kae lho (itu, Red) Buk,” seru Meliana Oktavia, anak perempuan Suparmi saat melihat jenazah Nouval digendong oleh petugas dari instalasi kamar jenazah menuju mobil ambulans jenazah.
Dia tak menyangka, bayi lucu yang dilihat sangat ceria dan sempat ditimang-timang pada Sabtu (25/3) siang lalu itu sudah meninggal. Hendri dan Sulastri yang ada urusan di daerah Mojoroto, memutuskan untuk berkunjung ke rumah kerabatnya di Desa Jabon, Banyakan. Termasuk mengunjungi rumah Suparmi.
Rencananya, Hendri, Sulastri bersama dua anaknya pulang ke Wates sekitar pukul 16.30. Tapi niat itu diurungkan karena mendung tebal memayungi Kediri. Mereka baru pulang selepas Maghrib. Sebab, anak sulungnya tinggal sendiri di rumah. “Tidak tega katanya.
Suparmi tak menyangka, Sabtu lalu adalah kali terakhir dia bercanda dengan dua anak Hendri. Kemarin, dia harus melepas Nouval dalam duka. Sedangkan tubuh Alvian justru belum ditemukan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah