“Kediri belum ada laporan, tapi per tanggal 19 Februari, kami sudah bersurat ke kecamatan dan bupati, sebagai upaya kewaspadaan,” jelas Kepala DKPP Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih melalui Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Yhuni Ismhawati.
Sementara ini, dia menjelaskan, DKPP masih sosialisasi ke petugas teknis peternakan (PTP). Sebab DKPP masih fokus menangani penyakit mulut dan kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD) terhadap hewan ternak. “Sementara masih sosialisai untuk mantri ternak (PTP). Ada sosialisasi dengan peternak unggas setelah Lebaran,” jelas Yhuni.
Namun, jika kasus terkonfirmasi masuk, Yhuni menyatakan, DKPP sudah siap. “Ada kasus ataupun tidak, kami sudah siap,” tegasnya.
DKPP, menurut Yhuni, tak bisa melakukan pemusnahan karena tidak ada anggaran untuk mengganti kerugian. Namun, mengatasinya dengan mengimbau peternak melakukan karantina mandiri. “Kalau ada (kasus yang terdeteksi) laporan dulu ke pusat, lalu dilokalisir jangan sampai merembet,” imbuhnya.
Salah satu peternakan juga mengonfirmasi tidak ada ternaknya yang terjangkit flu burung. “Kalau (ayam) pilek pasti ada karena hujan. Kemarin sempat mati (bukan karena terinfeksi H5N1 clade 2.3.4.4b.), dikonfirmasi dokter karena koli (kolibasilosis),” jelas Dwi Rinsawati, 52, salah satu peternak ayam di Sukorejo, Wonorejo, Wates.
Terpisah, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri pun siap bila kasus tersebut masuk Kediri. Jika menyebar ke manusia, dinkes telah menyiapkan ruang isolasi bekas Covid-19. Untuk mengisolasi korban yang terkonfirmasi flu burung.
“Semua rumah sakit (RS) di Kabupaten Kediri pernah merawat Covid-19, sehingga semua siap ruang isolasi,” jelas Kepala Dinkes Kabupaten Kediri Ahmad Khotib.(c5/ndr)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah