Camat Tarokan Suharsono mengatakan, Jegles selalu mengalami kondisi tersebut ketika hujan deras. Banjir terjadi karena sistem saluran air tersumbat. Saat hujan deras, debit air Sungai Brantas meningkat. Ini membuat saluran air di dusun tersebut meluap ke permukiman.
Menurut Suharsono, saluran air tersumbat karena sampah. Sebab masih ada kebiasaan warga buang sampah sembarangan. “Warga di sana masih suka buang sampah di saluran air,” ungkap bapak dua anak itu.
Saluran air yang berada di pinggir jalan raya turut memperparah kondisi di dusun itu. Suharsono menyatakan, saluran tersebut kurang besar. Terkait penanganan banjir, pihak kecamatan telah mengusulkan ke pemkab agar melebarkan saluran air di pinggir jalan raya. “Itu kan jalan raya provinsi. Usulannya sudah kita sampaikan ke kabupaten,” terangnya.
Untuk jangka pendek, Suharsono menginstruksikan, agar kerja bakti di sana. Bergotong-royong membersihkan saluran air di Jegles.
Menariknya, meski setiap kali rumah warga terendam, belum pernah ada bantuan seperti sembako. “Belum pernah selama saya di sini,” beberAyu, warga yang tinggal di sana sejak 2018.
Ketika dikonfirmasi ke kecamatan, Suharsono menyatakan, kondisi di Jegles belum darurat. Karena itu tidak ada bantuan berupa sembako yang diberikan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah