“Belum ditanami padi, hama orong-orong sudah banyak di lahan,” keluh Indro, salah satu petani Gempolan.
Menurut bapak anak dua itu, tidak ada obat yang mujarab untuk membasmi hama orong-orong ini. “Setelah bibit ditanam, saya langsung menggunakan obat tetes yang diimpor dari China (Tiongkok). Tapi tidak manjur. Hama orong-orong dan tikus masih tetap banyak,” ungkapnya.
Ari, 25, buruh tani Gempolan, yang mengelola lahan seluas 100 ru, mengaku, sempat mengalami penurunan produksi ketika musim penen silam. Itu karena tanaman padinya terserang hama. Selain itu, tanaman terpengaruh cuaca dan pasokan air. Namun, saat kondisi debit air tinggi di lahan sawah, hal itu bisa dikondisikan.
Keadaan itu berbeda dengan hama, seperi orong-orong dan tikus. “Petani hanya bisa mencegah dan mengurangi. Agar hasil produksi dapat semaksimal mungkin,” tutur pria asli Desa Turus, Kecamatan Gampengrejo itu.
Ari menambahkan, luas lahan yang digarapnya bisa menghasilkan 1 ton. Namun, jika pertumbuhan padi terganggu hama, maka hasil produksi menurun. “Kalau pertumbuhan bagus, bisa 1 ton. Tapi kalau banyak dimakan hama, ya hanya 5 kuintal,” tandasnya.(c1/ndr) Editor : Anwar Bahar Basalamah