REKIAN, Kabupaten, JP Radar Kediri
Sorot mata Selamet tampak kosong. Duduk di kursi plastik, tatapan laki-laki berusia 50 tahun itu lurus ke arah rumah bercat hijau yang tinggal puing. Bangunan hanya menyisakan dinding depan.
Warga asli Desa Jugo, Kecamatan Mojo itu tidak pernah menduga akan kehilangan istana yang dibangun dari jerih payahnya selama puluhan tahun lalu. Saat Jawa Pos Radar Kediri ke sana siang itu (24/6), Selamet lebih banyak termenung di teras tetangganya.
Mengenakan kaus kerah bergaris cokelat dan krem, dia sangat hemat berbicara. “Saya bingung,” katanya lalu menundukkan kepala. Pria yang rambutnya lurus itu galau karena tak bisa membangun dalam waktu singkat.
Tetangga dan sanak saudara di sampingnya tampak memberi semangat agar tetap tegar menghadapi musibah. Selamet membalas empati tetangganya dengan senyum. Namun petani ini tetap tak banyak bicara.
Kepada koran ini, dia bersedia mengisahkan ulang peristiwa yang dialaminya pada Kamis (23/6) lalu. Rumah berukuran 6 x12 meter itu ditempati empat orang. Selain dirinya, ada istri, anak, dan cucu.
Ketika di desanya diguyur hujan sekitar pukul 14.30, anak kedua dan cucunya sedang tidak di rumah. Mereka mengaji di musala. “Tinggal saya dan istri,” ungkap suami Katiah, 49, ini. Lebatnya curah hujan membuat kakek dua cucu tersebut mengambil posisi aman.
Ia dan istrinya punya insting kuat terhadap perubahan cuaca dan kondisi tanah tebing yang jaraknya hanya tiga meter dari rumahnya. Tanpa perlu diperintah, pasutri (pasangan suami istri) itu memilih tempat aman. “Kami berdua ke kandang,” kenangnya.
tetangganya memikirkan cara membangun kembali rumahnya. (Rekian/JPRK)
Sebelum kejadian, tebing yang tingginya belasan meter dari rumahnya mulai berguguran. Hanya dalam hitungan menit, tanah di atas rumahnya ambles dalam jumlah besar. Braaak! Genting dan dinding roboh. Pasutri itu selamat dan tidak tertimpa apapun.
Katiah yang mendengar suaminya bertutur meneteskan air mata. Ia seperti tidak sanggup mengingat kejadian yang telah melenyapkan rumahnya. Bangunan dari bata merah itu hancur dan tidak bisa ditempati lagi.
Televisinya rusak. Begitu pula perabotan lainnya. Motor bebeknya pun sempat tertimpa meski bisa diselamatkan. Akibat bencana longsor itu hanya menyisakan dapur rumahnya. “Barang-barang seperti pakaian masih disimpan di dapur,” urainya.
Karena sudah tidak bisa ditempati dan istrinya masih ketakutan, keluarga Selamet akhirnya memutuskan mengungsi di rumah saudaranya. Tempat tinggalnya masih di desa yang sama. Keluarga Selamet tinggal di rumah Ponijan, 55, kakaknya. “Jarak rumah kakak sekitar satu kilometer,” imbuhnya.
Di rumah Ponijan yang ukurannya hampir sama dengan rumahnya, 6 x 12 meter, kini dihuni sebelas orang. Anak-anak bisa tidur di kamar yang jumlahnya tiga ruang. Sedangkan orang dewasa tidur di ruang tengah atau ruang tamu.
Meski sudah diminta tidur di kasur, Selamet mengaku, sulit memejamkan mata. “Tidur rasanya sudah tidak nyenyak. Makan juga tidak enak,” akunya. Hingga Jumat (24/6), Selamet mengaku, baru tidur beberapa jam saja. Dia sedang memikirkan cara membangun rumah agar tidak terus menumpang di rumah kakaknya.
Sekarang, dia hanya punya modal satu ekor sapi brahman. Itu pun tidak cukup untuk membangun rumah baru. Selamet berharap bisa kembali menempati rumahnya sendiri dan tidak lagi menumpang. Editor : Anwar Bahar Basalamah