Semua keluarga yang terancam krisis air bersih itu berada di Dusun Besuki. Jumlahnya mencapai 76 keluarga. Penyebabnya adalah pipa yang mereka pasang di sumber air terputus. Yang diperkirakan akibat longsor.
“Sejak kemarin (Kamis, 23/6, Red) airnya sudah tidak mengalir,” aku Sukati, 55, warga Dusun Besuki.
Menurut wanita tersebut, air bersih yang biasa mengalir ke rumah warga langsung terhenti setelah desanya diguyur hujan deras lebih dari satu jam. Beruntung sebagian warga masih punya tandonan air. Yang bisa dimanfaatkan untuk beberapa hari ke depan.
“Kalau buat makan dan minum masih cukup untuk dua hari,” lanjutnya.
Yang merepotkan, terputusnya jaringan air tersebut membuat korban tanah longsor kian kesusahan. Mereka tak bisa membersihkan lumpur yang menggenangi rumah. Terutama yang masuk ke bagian dalam.
“Tadi (kemarin, Red) katanya sudah ada warga sini (Dusun Besuki, Red) yang cek ke sumber,” kata Jaenul, yang rumahnya jadi korban longsor.
Menurutnya, ada dua pipa yang terputus. Jika diperbaiki butuh pipa 3 dim dengan panjang satu lonjornya empat meter.
Hingga kemarin siang (24/6), aliran air bersih belum mengalir ke perkampungannya. Warga yang terdampak pun belum menerima bantuan air bersih. Karena kejadian di kampung itu belum masuk ke laporan di BPBD maka bantuan untuk air bersih juga belum disalurkan.
Kalaksa BPBD Randy Agatha Sakaira menerjunkan personilnya untuk melakukan peninjauan di lokasi yang terancam krisis air bersih. “Kami akan asesmen terlebih dahulu untuk mengetahui kebutuhan warga terdampak bencana,” katanya.
Randy mengingatkan kepada warga yang tinggal di sekitar tebing untuk lebih waspada. Meski tidak ada korban jiwa, masyarakat yang tinggal di areal rentan longsor tidak boleh lengah.
“Jika hujan lebat sebaiknya cari tempat aman,” ucapnya.
Hal itu berlaku pula bagi pengendara di jalan raya. Saat hujan lebat disertai angin kencang sebaiknya berhenti dan berlindung di tempat aman. Editor : Anwar Bahar Basalamah