Jarak antara rumah-rumah tersebut dengan titik longsor pertama sekitar empat kilometer. Rumah-rumah yang jadi korban ambrolnya bronjong saluran air tersebut adalah milik Gimin, 64, Sukowiyono, 51, dan Wintoro, 33. Tiga rumah ini memang berderet di tepi jalan tepat di bagian bawah drainase.
Bukan sekali ini di lokasi tersebut terkena tanah longsor. Bencana serupa terjadi tiga kali ini. “Tapi ini yang terparah,” aku Gimin yang ditemui di lokasi kemarin (24/6).
Lelaki yang rambutnya sudah dipenuhi uban ini mengatakan, pemkab sebenarnya sudah membangun bronjong. Sebagai penahan tanah agar tak longsor. Tapi hujan yang terjadi Kamis (23/6) sore itu sangat lebat. Membuat saluran air yang melewati tebing di atas rumahnya meluber. Air pun meluap hingga melintasi jalan raya. Kemudian tumpah ke tebing yang ada di samping rumah-rumah tersebut.
Karena luberan air terlalu deras, bronjong pun tidak mampu menahan. Akhirnya, bronjong itu ambrol dan menimpa tiga rumah yang ada di bawahnya.
“Tadi malam (Kamis, 23/6, Red) kami terpaksa mengungsi ke rumah keluarga terdekat,” akunya.
Keberadaan drainase itu membuat para korban menjadi khawatir. Sebab, tidak disertai dengan pembuangan. Karena itu, setiap hujan deras mereka terancam menjadi korban longsor yang diakibatkan luberan air.
“Apalagi tebing di samping rumah juga ada keretakan,” tambah Jaenul, 39, anak Gimin.
Menurut Jaenul, setiap hujan deras yang berlangsung dalam waktu lama, keluarga mereka memilih mengungsi. Sebab, saat-saat seperti itu rawan terjadi longsor. Sayang, saat kejadian Kamis lalu keluarganya belum sempat mengungsi. Untungnya tidak sampai timbul korban jiwa.
Soal infrastruktur yang ambles di Desa Jugo, belum diterima oleh dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR). “Segera kami koordinasikan dengan BPBD (badan penanggulangan bencana daerah, Red),” kata Plt Kepala Dinas PUPR ketika dikonfirmasi.
Sementara, hingga kemarin pihak BPBD belum melakukan asesmen di tiga rumah yang tertimpa longsor itu. “Tim akan cek ke lokasi untuk mendatanya,” aku Kepala Pelaksana BPBD Randy Agatha Sakaira.
Randy menyebut, sejauh ini BPBD fokus penanganan bencana angin kencang di Purwoasri serta rumah korban longsor Juga yang lain, rumah Selamet dan Parin. Dua rumah itu menderita kerusakan parah akibat longsor Kamis lalu. Hasil asesmen menyebut, kerugian yang diderita Selamet mencapai Rp 100 juta.
Menurut Randy, bantuan perbaikan rumah akibat bencana nanti akan diserahkan ke dinas perumahan dan kawasan permukiman (perkim). Sedangkan santunan sembako sudah disiapkan dinas sosial (dinsos).
Untuk penanganan bencana, anggota BPBD yang dibantu TNI dan Polri turun melakukan kerja bakti. Mereka berbaur dengan warga membersihkan puing-puing rumah Selamet.
Selamet, yang ditemui di lokasi kerja bakti, berharap rumahnya bisa segera dibangun. Sampai kemarin dia masih mengungsi di rumah kakaknya yang berjarak sekitar satu kilometer. Kebutuhan yang dia perlukan saat ini sembako dan juga karpet atau tikar untuk alas tidur.
Kerusakan yang menimpa rumahnya tergolong parah. Nyaris semua bagian rumah hancur. “Bangunan yang tersisa tinggal dapur saja,” keluhnya.
Diberitakan sebelumnya, bencana tanah longsor terjadi di Desa Jugo (23/6). Titik longsor tidak hanya yang mengenai rumah warga saja tpai juga jalan. Tebing di tepi jalan utama desa tersebut juga ambrol. Yang menghalangi jalan raya. Bukan itu saja, pohon berukuran besar di tepi jalan juga banyak yang tumbang. Editor : Anwar Bahar Basalamah