Mengerjakan PR di Rumah, Bagaimana Orang Tua Bisa Mendukung tanpa Mengambil Alih?

Mifta dwi saifin nisa • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 11:00 WIB
Ilustrasi orang tua mendampingi anak saat mengerjakan tugas di rumah. Pendampingan dapat diberikan tanpa mengambil alih proses belajar anak. Foto: magnific
Ilustrasi orang tua mendampingi anak saat mengerjakan tugas di rumah. Pendampingan dapat diberikan tanpa mengambil alih proses belajar anak. Foto: magnific

JP Radar Kediri - Pekerjaan rumah atau PR menjadi salah satu bagian dari kegiatan belajar yang dilakukan anak di luar sekolah. Tugas ini dapat digunakan untuk mengulang materi, berlatih, maupun menyelesaikan kegiatan yang belum selesai di kelas.

Namun, tidak semua anak dapat mengerjakan PR dengan mudah. Ketika anak mengalami kesulitan, orang tua sering ikut membantu agar tugas dapat diselesaikan tepat waktu.

Pendampingan tersebut tentu dapat membantu. Namun, jika terlalu banyak mengambil alih, anak justru kehilangan kesempatan untuk mencoba dan memahami tugas dengan caranya sendiri.

Baca Juga: Harga Pertamax Green 95 Naik Rp 2.550 per Liter Mulai Hari Ini Rabu 2 September 2026

Mendampingi Bukan Berarti Memberikan Jawaban

Ketika anak tidak mengetahui jawaban, memberikan solusi secara langsung mungkin terasa sebagai cara tercepat untuk menyelesaikan PR.

Namun, orang tua dapat mencoba membantu dengan memberikan pertanyaan sederhana atau meminta anak menjelaskan bagian yang membuatnya bingung. Cara ini memberi kesempatan kepada anak untuk mencari jawaban terlebih dahulu.

Orang tua juga dapat membantu membaca kembali instruksi atau mengingatkan materi yang sebelumnya sudah dipelajari. Dengan begitu, bantuan tetap diberikan tanpa mengerjakan tugas untuk anak.

Beri Kesempatan Anak Mencoba Sendiri

Kesalahan menjadi bagian dari proses belajar. Jawaban yang belum tepat dapat membantu menunjukkan bagian mana yang masih perlu dipahami.

Baca Juga: Ini Menu MBG yang Dikonsumsi Santri Ponpes Sidoarjo Sebelum Keracunan

Karena itu, anak tidak harus langsung mendapatkan jawaban benar ketika melakukan kesalahan. Memberi waktu untuk mencoba kembali dapat membantu mereka belajar menyelesaikan masalah secara lebih mandiri.

Jika anak masih kesulitan setelah beberapa kali mencoba, orang tua dapat memberikan petunjuk secara bertahap. Bantuan dapat dikurangi ketika anak mulai memahami apa yang harus dilakukan.

Hindari Membandingkan dengan Anak Lain

Saat menemani mengerjakan PR, komentar mengenai nilai atau kemampuan teman dapat muncul tanpa disadari.

Perbandingan seperti “temanmu sudah bisa” atau “kakakmu dulu cepat mengerjakan ini” belum tentu membantu anak memahami tugas. Sebaliknya, perhatian dapat bergeser dari proses belajar menjadi rasa takut tertinggal.

Lebih baik fokus pada perkembangan anak sendiri. Kemajuan kecil, seperti berhasil memahami satu soal yang sebelumnya sulit, tetap dapat dihargai sebagai bagian dari proses belajar.

Baca Juga: Persedikab dan Inter Kediri Lolos 16 Besar Piala Soeratin, Optimistis Dapat Raih Kemenangan

Suasana Belajar Juga Perlu Diperhatikan

Kesulitan mengerjakan PR tidak selalu muncul karena anak tidak memahami materi. Rasa lelah setelah sekolah, lapar, lingkungan yang ramai, atau terlalu banyak tugas dalam satu waktu juga dapat memengaruhi kegiatan belajar.

Orang tua dapat membantu dengan menyediakan waktu istirahat terlebih dahulu sebelum anak mulai mengerjakan tugas. Tempat yang cukup nyaman dan minim gangguan juga dapat membuat kegiatan belajar lebih terarah.

Jadwal mengerjakan PR pun tidak harus sama untuk setiap anak. Sebagian anak mungkin lebih nyaman memulai setelah pulang sekolah, sementara yang lain membutuhkan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.

Tidak Semua PR Harus Sempurna

Keinginan agar anak mendapatkan hasil terbaik terkadang membuat orang tua terlalu banyak memperbaiki pekerjaan mereka.

Padahal, PR juga dapat membantu guru mengetahui sejauh mana anak memahami materi. Jika seluruh kesalahan diperbaiki oleh orang tua, guru mungkin tidak mendapatkan gambaran yang sebenarnya mengenai bagian yang masih sulit.

Membiarkan beberapa kesalahan tetap terlihat dapat menjadi kesempatan bagi guru dan anak untuk membahasnya kembali dalam pembelajaran.

Komunikasi dengan Guru Bisa Diperlukan

Jika anak terus mengalami kesulitan pada jenis tugas yang sama, orang tua dapat berkomunikasi dengan guru.

Baca Juga: Alya Shaafia dan Poomsae Freestyle, Berawal dari Video FYP di TikTok

Informasi mengenai bagian yang sulit, waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas, atau kebingungan terhadap instruksi dapat membantu guru memahami kondisi anak di rumah.

Komunikasi tersebut tidak harus dilakukan setiap kali anak mengalami kesulitan. Namun, jika masalah terus berulang, kerja sama antara rumah dan sekolah dapat membantu menemukan dukungan yang lebih sesuai.

Pada akhirnya, tujuan pendampingan PR bukan hanya membuat seluruh tugas selesai. Anak juga perlu mendapatkan kesempatan untuk mencoba, membuat kesalahan, bertanya, dan menemukan cara menyelesaikan masalah.

Orang tua dapat berada di samping anak sebagai sumber dukungan tanpa harus mengambil alih prosesnya. Dengan begitu, PR tidak hanya menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi juga bagian dari kesempatan anak belajar lebih mandiri.

Editor : Shinta Nurma Ababil
belajar pr anak orang tua