Kenapa Memulai Tugas Terasa Lebih Mudah ketika Teman Sudah Mengerjakan?

Mifta dwi saifin nisa • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 18:15 WIB

Ilustrasi siswa mengerjakan tugas bersama di dalam kelas. Melihat teman mulai bekerja dapat menjadi salah satu dorongan untuk ikut memulai dan fokus pada tugas sendiri. Foto: magnific

Ilustrasi siswa mengerjakan tugas bersama di dalam kelas. Melihat teman mulai bekerja dapat menjadi salah satu dorongan untuk ikut memulai dan fokus pada tugas sendiri. Foto: magnific

JP Radar Kediri - Guru sudah membagikan tugas dan waktu pengerjaan pun dimulai. Namun, alih-alih langsung menulis, sebagian siswa justru melihat sekeliling terlebih dahulu dan baru mulai ketika teman-temannya sudah membuka buku atau mengerjakan soal.

Kebiasaan tersebut tidak selalu berarti siswa sengaja menunda. Situasi kelas, rasa ragu, hingga perilaku teman dapat ikut memengaruhi keputusan seseorang untuk mulai mengerjakan tugas.

Melihat Teman Bisa Menjadi Petunjuk Sosial

Ketika berada dalam kelompok, seseorang sering memperhatikan tindakan orang lain untuk memahami apa yang sebaiknya dilakukan dalam situasi tertentu.

Di kelas, melihat teman mulai membaca soal, membuka catatan, atau menuliskan jawaban dapat menjadi petunjuk bahwa waktunya memang sudah mulai mengerjakan.

Baca Juga: Niat Istirahat Lima Menit, Malah Satu Jam: Kenapa Kita Sulit Berhenti Scrolling?

Hal ini terutama dapat terjadi ketika instruksi belum sepenuhnya dipahami. Siswa mungkin melihat cara teman memulai untuk memastikan bahwa mereka menangkap arahan dengan benar.

Rasa Ragu Bisa Membuat Langkah Pertama Terasa Sulit

Memulai tugas terkadang menjadi bagian yang paling sulit, terutama ketika siswa belum yakin harus mengerjakan dari mana.

Pertanyaan seperti “mulai dari nomor berapa?”, “jawabannya harus panjang atau singkat?”, atau “boleh membuka catatan atau tidak?” dapat membuat seseorang menunda beberapa saat.

Ketika teman sudah mulai, sebagian ketidakpastian tersebut dapat berkurang. Siswa memiliki gambaran mengenai apa yang sedang dilakukan orang lain sehingga langkah pertama terasa lebih mudah diambil.

Baca Juga: BLT Rp900 Ribu 2026 Dikabarkan Cair Lagi, Penerima Kategori Desil 1-5

Aktivitas Teman Bisa Membentuk Suasana Kelas

Suasana kelas juga dapat berubah ketika semakin banyak siswa mulai mengerjakan.

Saat sebagian besar teman sudah fokus pada tugas, kegiatan tersebut menjadi aktivitas utama di dalam kelas. Kondisi ini dapat mendorong siswa lain untuk ikut mengalihkan perhatian ke pekerjaan mereka sendiri.

Sebaliknya, jika banyak siswa masih berbicara atau belum membuka tugas, seseorang dapat merasa belum perlu terburu-buru untuk memulai.

Karena itu, perilaku satu kelompok dapat ikut membentuk ritme kegiatan belajar di kelas.

Bukan Selalu Berarti Meniru Jawaban

Menunggu teman mulai tidak selalu berarti siswa ingin menyalin pekerjaan orang lain. Terkadang yang dibutuhkan hanya kepastian bahwa mereka sudah memahami instruksi atau keberanian untuk mengambil langkah pertama. Setelah mulai, siswa tetap dapat mengerjakan tugas secara mandiri.

Baca Juga: Spoiler atau Sekadar Bahas Cerita, Di Mana Batasnya?

Namun, jika siswa terlalu bergantung pada tindakan teman setiap kali mendapat tugas, mereka dapat menjadi kurang terbiasa menentukan langkah awal sendiri.

Instruksi yang Jelas Bisa Membantu

Guru dapat membantu siswa lebih cepat memulai dengan memberikan instruksi yang sederhana dan jelas.

Tugas yang cukup besar juga dapat dibagi menjadi langkah awal yang lebih spesifik. Misalnya, siswa diminta membaca pertanyaan pertama terlebih dahulu, menandai informasi penting, lalu mulai menuliskan jawaban.

Dengan adanya petunjuk awal, siswa tidak perlu terlalu lama menebak apa yang harus dilakukan. Memberikan kesempatan bertanya sebelum pengerjaan dimulai juga dapat membantu mengurangi keraguan.

Baca Juga: Temani Generasi Remaja dari Gawai, Sekjen Partai Golkar Buka Bahlil Mini Soccer di Malang

Memulai Bisa Menjadi Kebiasaan yang Dilatih

Kemampuan memulai tugas secara mandiri dapat berkembang melalui kebiasaan.

Siswa dapat mencoba menentukan langkah kecil yang dilakukan setiap kali mendapat tugas, seperti membaca instruksi terlebih dahulu, menyiapkan alat yang dibutuhkan, kemudian mengerjakan bagian yang paling mudah.

Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi kebiasaan menunggu teman sebelum mulai.

Pada akhirnya, melihat teman mengerjakan dapat memberikan dorongan karena membuat situasi terasa lebih jelas dan menunjukkan bahwa kegiatan sudah dimulai.

Namun, siswa tetap perlu memiliki kemampuan untuk menentukan langkah pertamanya sendiri. Dengan instruksi yang jelas dan kebiasaan memulai dari bagian kecil, tugas dapat terasa lebih mudah dikerjakan tanpa harus selalu menunggu orang lain bergerak terlebih dahulu.

Editor : Shinta Nurma Ababil
teman tugas siswa kegiatan belajar