Anak Bisa Berhitung Belum Tentu Cakap Numerasi, Apa Bedanya?

Isna Febriani Nur Habibah • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:25 WIB
Ilustrasi anak mengerjakan soal matematika (freepik)
Ilustrasi anak mengerjakan soal matematika (freepik)

JP Radar Kediri – Seorang anak mungkin mampu menjumlahkan angka, menghafal rumus, atau menyelesaikan soal matematika dengan cepat. Namun, kemampuan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa ia sudah memiliki kecakapan numerasi.

Numerasi bukan sekadar kemampuan melakukan perhitungan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjelaskan bahwa numerasi merupakan kemampuan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan persoalan dalam berbagai konteks kehidupan. Kemampuan tersebut juga berkaitan dengan penalaran, interpretasi data, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.

Dengan kata lain, anak tidak hanya dituntut mengetahui hasil sebuah perhitungan, tetapi juga memahami kapan angka tersebut digunakan, apa maknanya, dan keputusan apa yang dapat diambil berdasarkan informasi tersebut.

Baca Juga: Gudang Rosok Banjaran Dilalap Jago Merah, Ini Penyebabnya!

Berhitung dan Numerasi Bukan Hal yang Sama

Perbedaan sederhana dapat dilihat dari situasi sehari-hari.

Anak yang mampu menghitung 20 persen dari Rp100 ribu sudah memiliki kemampuan berhitung. Namun, ketika berada di toko dan harus menentukan apakah diskon 20 persen lebih menguntungkan daripada potongan langsung Rp15 ribu, ia perlu menggunakan kemampuan numerasi.

Dalam situasi tersebut, anak harus memahami informasi, melakukan perhitungan, membandingkan hasil, lalu menentukan pilihan.

Kemampuan seperti inilah yang membuat numerasi lebih luas daripada sekadar berhitung.

Kemendikdasmen menyebut numerasi mencakup kemampuan menyadari, merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Kemampuan tersebut membantu seseorang berpikir logis, kritis, dan analitis ketika menghadapi persoalan sehari-hari.

Baca Juga: Harga Tanah di Kawasan Bandara Doho Bisa Meroket Lagi, Ini Penyebabnya

Numerasi Ada dalam Kehidupan Sehari-hari

Tanpa disadari, anak menggunakan numerasi dalam banyak aktivitas.

Saat melihat jadwal perjalanan, menghitung uang kembalian, membandingkan harga barang, membaca grafik pertandingan, memperkirakan waktu, hingga memahami informasi berbentuk persentase, anak sedang berhadapan dengan numerasi.

Kemampuan tersebut juga penting ketika menghadapi informasi digital. Misalnya, ketika menemukan grafik di media sosial atau berita, seseorang perlu memahami angka yang ditampilkan dan tidak langsung mengambil kesimpulan tanpa melihat konteksnya.

Karena itu, numerasi tidak hanya dibutuhkan siswa yang ingin melanjutkan pendidikan di bidang matematika atau sains. Kemampuan tersebut menjadi bagian dari kecakapan hidup.

Baca Juga: Klub Tenis Melimpah namun Prestasi Atlet Susah, Harap Pelti Kota Kediri Gelar Event untuk Atlet Muda

Kemampuan Numerasi Siswa Masih Menjadi Tantangan

Pentingnya numerasi juga terlihat dari hasil asesmen internasional. Berdasarkan PISA 2022, hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika.

Pada tingkat tersebut, siswa setidaknya mampu menafsirkan dan mengenali situasi sederhana secara matematis.

Di tingkat sekolah dasar, tantangannya juga masih terlihat. Kajian PSKP Kemendikdasmen menunjukkan proporsi siswa SD/MI yang mencapai kompetensi minimum numerasi turun dari 52,48 persen pada 2024 menjadi 48,25 persen pada 2025.

Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan pengetahuan matematika dalam konteks yang lebih luas masih perlu diperkuat sejak pendidikan dasar.

Baca Juga: Saudia Airlines Siap Terbang ke Kediri tapi Ini Syarat yang Harus Mereka Dapatkan

Belajar Numerasi Tak Harus Selalu Mengerjakan Soal

Penguatan numerasi dapat dilakukan melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan anak.

Guru dapat memberikan persoalan yang meminta siswa membandingkan harga, membaca tabel, menghitung kebutuhan bahan, atau menganalisis data sederhana.

Pembelajaran seperti ini membuat siswa tidak hanya mencari jawaban akhir, tetapi juga memahami proses berpikir yang digunakan untuk sampai pada keputusan.

Orang tua pun dapat melatih numerasi melalui kegiatan sederhana di rumah. Saat berbelanja, misalnya, anak dapat diajak membandingkan harga atau menghitung potongan.

Ketika membuat jadwal kegiatan, anak dapat belajar memperkirakan waktu. Bahkan saat memasak, ukuran bahan dapat menjadi latihan untuk memahami perbandingan dan takaran.

Dengan demikian, numerasi tidak harus selalu hadir dalam bentuk buku soal.

Yang Penting Bukan Seberapa Cepat Menghitung

Pada akhirnya, kemampuan berhitung merupakan salah satu bagian dari numerasi, tetapi bukan keseluruhannya.

Anak yang cakap numerasi bukan hanya mampu menghasilkan jawaban, melainkan juga mampu memahami informasi kuantitatif, memilih cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah, menilai apakah hasilnya masuk akal, dan menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan.

Baca Juga: DigiSkillBadge Resmi Diluncurkan, Kompetensi Siswa SMK Bisa Terekam dalam Portofolio Digital

Itulah sebabnya numerasi perlu dipandang sebagai keterampilan hidup, bukan sekadar kemampuan dalam pelajaran matematika.

Sebab, angka akan terus hadir dalam kehidupan anak, mulai dari uang saku, waktu, jarak, data, hingga berbagai keputusan yang harus dibuat ketika mereka tumbuh dewasa. Yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menghitung angka, tetapi kemampuan memahami apa arti angka tersebut.

Editor : Shinta Nurma Ababil
belajar pendidikan numerasi matematika