JP Radar Kediri – Informasi kini dapat ditemukan dalam hitungan detik. Siswa bisa mencari jawaban tugas melalui mesin pencari, media sosial, video, dan berbagai platform digital.
Namun, kemampuan menemukan informasi belum tentu berarti mampu menilai apakah informasi tersebut benar dan dapat dipercaya.
Karena itu, literasi informasi menjadi semakin penting. Siswa perlu belajar memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, serta mempertimbangkan apakah suatu informasi layak digunakan.
Baca Juga: Ini Janji Prabowo pada Pangdam dan Kapolda Riau Jika Berhasil Padamkan Karhutla
Mudah Dicari Belum Tentu Benar
Ketika mengerjakan tugas, siswa mungkin langsung memilih hasil pencarian teratas. Padahal, posisi sebuah halaman dalam mesin pencari tidak menjamin bahwa informasinya paling akurat.
Siswa perlu memperhatikan siapa yang membuat informasi, kapan diterbitkan, dari mana datanya berasal, dan apakah sumber lain memberikan informasi serupa.
Hasil PISA 2022 menunjukkan tantangan tersebut masih nyata. Secara rata-rata di negara-negara OECD, 64 persen siswa merasa mudah menemukan informasi yang relevan secara daring.
Baca Juga: DigiSkillBadge Resmi Diluncurkan, Kompetensi Siswa SMK Bisa Terekam dalam Portofolio Digital
Namun, hanya 51 persen yang merasa mudah menilai kualitas informasi yang ditemukan.
Artinya, kemampuan mencari dan kemampuan menilai informasi merupakan dua hal berbeda.
Biasakan Bertanya Sebelum Percaya
Kemampuan memeriksa informasi dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: siapa yang membuatnya, apa sumber datanya, kapan informasi diterbitkan, dan apakah ada bukti yang mendukung?
UNESCO menempatkan kemampuan memeriksa kredibilitas, akurasi, dan tujuan sebuah informasi sebagai bagian penting dari literasi media dan informasi.
Kebiasaan tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran. Guru bisa meminta siswa mencari jawaban dari beberapa sumber, kemudian membandingkan informasi dan menjelaskan alasan memilih sumber tertentu.
Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar mendapatkan jawaban, tetapi juga belajar mempertanggungjawabkan jawaban yang mereka gunakan.
Baca Juga: Pemkab Kediri Beri Penghargaan untuk Para Visitor Anak Tidak Sekolah Terbaik
Guru Berperan Membentuk Kebiasaan Kritis
Guru tidak harus selalu menjadi satu-satunya sumber informasi di kelas. Perannya dapat diperluas menjadi pembimbing yang membantu siswa menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dengan tepat.
OECD menemukan bahwa siswa yang terbiasa memeriksa kualitas dan keakuratan informasi daring cenderung lebih teliti dalam menggunakan sumber.
Baca Juga: Pengawasan Diperketat, Muktamar NU ke-35 Pasang Lebih dari 100 Kamera
Di tengah arus informasi yang semakin cepat, siswa akhirnya tidak cukup hanya dibekali kemampuan mencari. Mereka juga perlu memiliki kebiasaan untuk berhenti sejenak, memeriksa, membandingkan, lalu menyimpulkan.
Sebab, tantangan di era digital bukan lagi sekadar “di mana menemukan jawaban?”, tetapi “mengapa jawaban ini layak dipercaya?”
Editor : Shinta Nurma Ababil