JP Radar Kediri–Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri menggencarkan penanganan anak tidak sekolah (ATS). Salah satunya dengan menggelar Home Visit ATS Awards. Hari ini (26/8), puluhan visitor terbaik yang terpilih akan menerima penghargaan dan hadiah.
Penghargaan diberikan kepada peserta yang dinilai memiliki kinerja terbaik dalam melakukan kunjungan rumah atau home visit terhadap ATS maupun anak putus sekolah (APS). Para penerima penghargaan terbagi dalam empat kategori. Yakni, TK/PAUD, SD/MI, SMP/MTs, serta tendik/OPD.
Kepala Disdik Kabupaten Kediri Mokamat Muhsin mengatakan, ada enam penerima penghargaan di masing-masing kategori. “Total terdapat 24 visitor yang bakal menerima penghargaan,” ungkapnya.
Baca Juga: Tidak Hanya Anak Vincent Rompies, Kasus Bullying di Sekolah Juga Pernah Menghebohkan Kediri
Untuk kategori TK/PAUD, penghargaan diberikan kepada enam visitor terbaik yang dinilai berhasil melakukan home visit terhadap sasaran di jenjang pendidikan anak usia dini. Demikian pula untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan kategori tendik/OPD yang melibatkan tenaga kependidikan maupun organisasi perangkat daerah.
Rencananya, apresiasi visitor terbaik akan diserahkan oleh Sekda Kabupaten Kediri Moh Solikin di Gedung Bagawanta Bhari pagi ini. Muhsin menyebut, Home Visit ATS Awards merupakan bentuk apresiasi terhadap individu, tim, maupun institusi atas kinerja terbaik dalam pelaksanaan kunjungan rumah. Yakni terkait dengan ATS maupun APS.
Penghargaan tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi bagi pihak yang ikut mengembalikan anak ke layanan pendidikan. “Melalui home visit, kami ingin GTK dan masyarakat yang berkaitan dengan pendidikan bisa memahami kondisi keluarga secara langsung. Dari sana bisa diketahui permasalahan yang dialami anak, kemudian dicari solusi yang sesuai,” terangnya.
Selain menemukan anak yang tidak sekolah maupun putus sekolah, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mengidentifikasi potensi dan prestasi siswa yang belum terdeteksi oleh sekolah. Potensi tersebut, selanjutnya diharapkan dapat dibina lebih lanjut.
Dalam penilaiannya, terdapat sejumlah aspek yang menjadi perhatian. Di antaranya kualitas temuan, solusi yang ditawarkan, kreativitas dan inovasi dalam pelaksanaan home visit. Kemudian, pengaruh di media sosial melalui jumlah interaksi seperti like, share, dan comment terhadap karya yang diunggah.
Dari sisi kualitas temuan, peserta dinilai berdasar tingkat keberhasilan dalam menemukan masalah, potensi, maupun prestasi sasaran. “Sedangkan solusi yang ditawarkan dilihat dari relevansi dan dampaknya dalam membantu memperbaiki kondisi sasaran,” jelasnya.
Program penanganan ATS telah berjalan sejak Januari. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 11.500 ATS di Kabupaten Kediri. Dari jumlah tersebut, lebih dari 5.000 anak telah berhasil kembali bersekolah.
Berbagai upaya dilakukan untuk menangani persoalan tersebut. Mulai dari home visit ATS, kewajiban melakukan kunjungan kepada ATS, Gerakan 1 GTK 1 ATS, hingga Gerakan Cegah ATS.
Baca Juga: Remaja Korban Rudapaksa di Kota Kediri Terpaksa Putus Sekolah, Begini Nasibnya
Muhsin menegaskan, home visit jadi salah satu langkah penting karena persoalan anak tidak sekolah, tidak selalu berkaitan dengan masalah pendidikan. Dengan melihat langsung kondisi keluarga dan lingkungan sasaran, visitor dapat mengetahui akar persoalan. Sekaligus menentukan pendekatan yang tepat untuk mendorong anak kembali bersekolah.
“Harapannya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang penghargaan. Tetapi juga mendorong semakin banyak GTK dan pihak terkait untuk aktif menemukan ATS, membantu menyelesaikan persoalannya, dan mengajak mereka kembali mendapatkan layanan pendidikan,” tandasnya. (*)
Editor : Mahfud