JP Radar Kediri - Seiring berkembangnya pendekatan pembelajaran, proses belajar tidak selalu dimulai dengan penjelasan materi oleh guru di depan kelas. Peserta didik juga dapat diajak memahami materi melalui kasus maupun permasalahan yang dekat dengan situasi nyata.
Dua pendekatan yang sering digunakan untuk pembelajaran seperti ini adalah Case-Based Learning (CBL) dan Problem-Based Learning (PBL). Keduanya sama-sama mendorong peserta didik untuk aktif berdiskusi, menganalisis informasi, dan menggunakan pengetahuan dalam menghadapi suatu situasi.
Meski sama-sama berangkat dari kasus atau masalah, CBL dan PBL memiliki fokus serta cara penerapan yang berbeda. Perbedaan tersebut terlihat dari bagaimana peserta didik memahami situasi, mencari informasi, hingga menentukan solusi selama proses pembelajaran.
Baca Juga: Cegah Kasus Keracunan, Kepala BGN Sudaryono Larang Siswa Bawa Pulang Makanan MBG
Apa Itu Cased-Based Learning?
Case-Based Learning merupakan pendekatan yang menggunakan suatu kasus sebagai bahan utama pembelajaran. Kasus tersebut dapat berasal dari situasi nyata maupun skenario yang dirancang untuk menggambarkan kondisi tertentu.
Peserta didik kemudian diminta memahami informasi dalam kasus, mengidentifikasi persoalan yang muncul, menghubungkannya dengan konsep yang telah dipelajari, serta memberikan analisis atau keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.
Misalnya, dalam pembelajaran mengenai lingkungan, guru dapat memberikan kasus pencemaran sungai yang disertai informasi mengenai kondisi air, aktivitas masyarakat, hingga kemungkinan sumber pencemaran.
Baca Juga: Belajar Lebih Dalam, Bukan Lebih Lama: Apa Itu Deep Learning?
Dari kasus tersebut, siswa dapat menganalisis penyebab, dampak, maupun langkah yang dapat dilakukan dengan menggunakan pengetahuan yang telah mereka pelajari sebelumnya.
Dengan demikian, dalam CBL, kasus berfungsi sebagai sarana untuk membantu peserta didik melihat bagaimana suatu konsep dapat digunakan dalam situasi yang lebih konkret.
Lalu, Apa Itu Problem-Based Learning?
Berbeda dengan CBL yang berpusat pada analisis kasus, Problem-Based Learning menggunakan suatu masalah sebagai pemicu awal proses belajar.
Peserta didik tidak hanya diminta memberikan jawaban terhadap masalah. Mereka juga perlu menentukan informasi apa yang telah diketahui, apa yang masih perlu dipelajari, serta sumber informasi apa yang dibutuhkan untuk menemukan kemungkinan solusi.
Misalnya, siswa memperoleh permasalahan mengenai kualitas air sungai di sekitar pemukiman yang semakin menurun. Dari masalah tersebut, mereka perlu mencari penyebab, mempelajari konsep yang berkaitan, mengumpulkan informasi, lalu menyusun alternatif penyelesaian.
Dalam prosesnya, peserta didik dapat berdiskusi dalam kelompok, mencari sumber belajar tambahan, menguji gagasan, serta mengevaluasi solusi yang telah disusun.
Karena itu, masalah dalam PBL tidak hanya menjadi bahan latihan. Masalah tersebut juga menjadi titik awal bagi siswa untuk menemukan pengetahuan yang diperlukan selama proses belajar.
Baca Juga: 18 Agustus 2026 Apakah Libur? Begini Ketentuan SKB 3 Menteri
Jadi, Apa Perbedaannya?
Perbedaan utama antara CBL dan PBL dapat dilihat dari fokus aktivitas peserta didik.
Dalam Case-Based Learning, peserta didik cenderung berfokus pada menganalisis suatu kasus dengan menggunakan konsep atau pengetahuan yang relevan. Informasi mengenai situasi yang dibahas biasanya sudah tersedia dalam bentuk kasus.
Sementara dalam Problem-Based Learning, peserta didik lebih banyak diarahkan untuk menyelidiki suatu masalah dan mencari pengetahuan yang diperlukan untuk menemukan kemungkinan solusi.
Meski demikian, batas antara keduanya tidak selalu kaku. Sebuah kasus dapat memuat masalah yang harus diselesaikan, sedangkan sebuah kegiatan PBL juga dapat menggunakan situasi nyata sebagai konteks pembelajaran.
Baca Juga: Wajib Ikut Technical Meeting KKA 2026 pada 19 Agustus, Panitia Akan Beberkan Teknis Babak Penyisihan
Keduanya sama-sama dapat mendorong kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kerja sama, serta kemampuan menghubungkan materi pelajaran dengan permasalahan yang lebih nyata.
Mana yang Lebih Baik?
CBL maupun PBL tidak selalu dapat dibandingkan berdasarkan mana yang lebih baik. Pemilihannya bergantung pada tujuan pembelajaran, karakteristik materi, kesiapan peserta didik, serta kegiatan yang ingin dikembangkan oleh guru atau dosen.
CBL dapat digunakan ketika peserta didik perlu berlatih menganalisis situasi dan menerapkan konsep pada sebuah kasus.
Sementara PBL dapat digunakan ketika pembelajaran ingin memberikan ruang lebih besar bagi peserta didik untuk menyelidiki masalah dan membangun pengetahuannya melalui proses pencarian solusi.
Baca Juga: Kriteria Masyarakat yang Dilarang Beli Pertalite, Dilihat dari Desil hingga Gaji
Pada akhirnya, baik Case-Based Learning maupun Problem-Based Learning sama-sama menempatkan peserta didik sebagai bagian aktif dalam proses pembelajaran.
Perbedaannya bukan sekadar pada ada atau tidaknya masalah, tetapi pada bagaimana kasus atau masalah tersebut digunakan untuk membantu peserta didik membangun pemahaman.
Editor : Mahfud