JP Radar Kediri – Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) semakin diperkuat dalam proses pendidikan di Indonesia. Pendekatan ini mendorong proses belajar yang tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi memberi ruang bagi siswa untuk memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan yang diperoleh.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan Pembelajaran Mendalam bukan merupakan kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran untuk memperkuat kualitas proses belajar.
Pendekatan tersebut dirancang agar siswa tidak hanya menguasai materi, tetapi mampu membangun pemahaman dan menghubungkannya dengan berbagai konteks.
Baca Juga: Jadwal Rilis Terbaru One Piece 1191 usai Dinyatakan Libur Sepekan
Dalam Pembelajaran Mendalam, terdapat tiga pengalaman belajar utama, yakni memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Pada tahap memahami, siswa membangun pemahaman terhadap konsep melalui berbagai sumber dan konteks.
Pengetahuan yang diperoleh kemudian digunakan dalam situasi nyata melalui tahap mengaplikasi. Setelah itu, siswa melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar yang telah dijalani.
Pendekatan ini juga menekankan tiga prinsip pembelajaran, yaitu berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
Ketiganya diarahkan agar siswa terlibat aktif dalam proses belajar, memahami tujuan pembelajaran, serta melihat keterkaitan materi dengan kehidupan mereka.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap III 2026 Cair di 80 Daerah, Cek Wilayah dan Rincian Saldonya
Sebagai ilustrasi, dalam pembelajaran mengenai pencemaran lingkungan, siswa tidak hanya menghafalkan jenis dan pengertian pencemaran. Mereka dapat diarahkan untuk mengamati kondisi lingkungan, mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebab, dan merancang solusi.
Setelah itu, siswa dapat mengevaluasi kembali proses yang telah dilakukan dan memahami apa yang dapat diperbaiki.
Dengan pola tersebut, pengetahuan tidak berhenti pada kemampuan siswa menjawab soal, tetapi diarahkan agar dapat digunakan untuk memahami persoalan dan mengambil tindakan dalam konteks kehidupan nyata.
Peran Guru Ikut Berubah
Penerapan Pembelajaran Mendalam turut memengaruhi cara guru merancang proses pembelajaran. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi perlu merancang pengalaman belajar yang memungkinkan siswa aktif membangun pengetahuan, berdiskusi, memecahkan masalah, dan melakukan refleksi.
Pada Juni 2026, Kemendikdasmen mendorong guru dan kepala sekolah memiliki visi sebagai “arsitek pembelajaran”.
Peran tersebut menempatkan guru sebagai perancang pengalaman belajar yang membantu siswa mengembangkan pemahaman secara lebih mendalam.
Baca Juga: Laba Bersih Pupuk Indonesia Semester I 2026 Melesat 253 Persen Jadi Rp8,51 Triliun
Upaya memperkuat kesiapan pendidik juga dilakukan melalui pelatihan Pembelajaran Mendalam. Kemendikdasmen mencatat, pelatihan pada 2025 telah menjangkau 186.160 pendidik dan tenaga kependidikan, terdiri atas 52.809 kepala satuan pendidikan dan 133.351 guru.
Pada 2026, penguatan implementasi dilakukan melalui pendekatan Teacher Experiential Training (TET) yang menekankan praktik, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan.
Bukan Berarti Teknologi Ditinggalkan
Pembelajaran Mendalam juga tidak berarti sekolah harus meninggalkan teknologi digital. Dalam kerangka resmi Pembelajaran Mendalam, pemanfaatan digital menjadi salah satu bagian yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Baca Juga: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapat Gelar: Seberapa Penting Pengalaman dan Kompetensi bagi Mahasiswa?
Teknologi ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat pengalaman belajar, bukan sebagai tujuan pembelajaran itu sendiri.
Pemanfaatan teknologi dapat digunakan untuk membantu siswa mencari dan mengolah informasi, berkolaborasi, menghasilkan karya, hingga melakukan refleksi.
Dengan demikian, penggunaan teknologi tetap diarahkan pada terciptanya pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Baca Juga: Fitur Canggih Honor Robot Phone yang Meluncur Hari Ini
Hal tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI). Siswa memiliki akses yang semakin luas terhadap berbagai sumber informasi dan perangkat digital.
Namun, penggunaan teknologi tetap perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan merefleksikan informasi yang diperoleh.
Semakin Diperkuat dalam Kebijakan Pendidikan
Implementasi Pembelajaran Mendalam juga mendapat penguatan melalui kebijakan pendidikan. Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur menyebut Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses sebagai salah satu landasan implementasi Pembelajaran Mendalam pada seluruh jenjang pendidikan.
Standar tersebut menempatkan pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Kemendikdasmen sendiri terus memperkuat implementasi pendekatan tersebut pada 2026, termasuk melalui pelatihan yang menekankan praktik pembelajaran, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan.
Dengan demikian, Pembelajaran Mendalam bukan sekadar membuat siswa belajar lebih lama atau menerima materi lebih banyak.
Pendekatan ini menempatkan kualitas pengalaman belajar sebagai fokus, sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa diharapkan tidak berhenti pada hafalan, tetapi dapat dipahami, diterapkan, dan direfleksikan dalam berbagai situasi.
Editor : Mahfud