Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

SPMB di Sekolah Lereng Gunung Kediri Sepi Peminat, Jelang Penutupan Pendaftaran Baru Dapat 7 Siswa

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 17 Juni 2026 | 20:00 WIB
Suasana SPMB di SDN Parang 4, Banyakan yang sepi pendaftar. (Foto Asad MS)
Suasana SPMB di SDN Parang 4, Banyakan yang sepi pendaftar. (Foto Asad MS)

KEDIRI, JP Radar Kediri - Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kabupaten Kediri tinggal menyisakan satu hari lagi (18/6).

 Namun, hingga Rabu (17/6) kemarin, masih ada sejumlah sekolah yang pendaftarnya minim. Belum ada separo dari pagu sekolah.

Kondisi tersebut, di antaranya dialami sejumlah sekolah di lereng Gunung Wilis. Di SDN Parang 4, hingga kemarin jumlah pendaftar tidak beranjak dari delapan siswa. Padahal, pagu mereka sebanyak 28 siswa.

Plt Kepala SDN Parang 4, Banyakan Sugeng Hariyadi mengakui animo masyarakat memang belum tinggi.

“Alhamdulillah masih agak sepi. Untuk Parang 4 sementara masih ada delapan siswa,” ungkapnya.

Minimnya jumlah pendaftar menurut Sugeng karena di sekitar sekolah memang minim pemukiman penduduk.

Selebihnya, banyak siswa yang memilih mendaftar di sekolah yang terletak di dataran rendah.

Meski pendaftarnya di bawah sepuluh, Sugeng optimistis sekolahnya akan tetap mendapat tambahan siswa.

Baca Juga: SPMB Jatim 2026 Resmi Dibuka: Kuota Jalur Domisili SMA/SMK Ditetapkan, Begini Aturan Terbarunya

Sebab, berdasar pengalaman tahun lalu, masih ada siswa yang mendaftar jelang tahun ajaran baru dimulai.

“Biasanya, baik SDN Ngablak maupun Parang 4, menjelang masuk tahun ajaran baru masih bertambah lagi,” terang pria yang juga menjabat kepala SDN Ngablak 1 itu.

Untuk diketahui, selain di SDN Parang 4, jumlah siswa yang minim juga didapati di SDN Parang 3 dan SDN Parang 1.

Kepala SDN Parang 1 Priyono mengakui jika pendaftar di sekolahnya masih minim. Hingga kemarin baru ada tujuh siswa yang mendaftar di sana. “Masih progres,” kata Priyono.

Senasib dengan SDN Parang 1, SDN Parang 3 yang juga dikepalai oleh Priyono hanya mendapat 10 siswa. Padahal, pagu sekolah ada satu rombel atau 28 siswa. 

Tidak hanya jenjang SD, sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) juga tak jauh berbeda.

SMPN Satu Atap 2 Banyakan mencatat jumlah pendaftar yang juga minim di gelombang kedua jalur domisili dan mutasi.

Yakni hanya 18 pendaftar di gelombang pertama. Adapun di gelombang 2 hanya bertambah beberapa siswa.

Baca Juga: Komisi IV DPRD Awasi Penerimaan Siswa Baru: Tuntut SPMB Objektif dan Transparan

“Untuk gelombang 2 ini sementara masih ada tambahan 2 anak,” kata Ahmad Muntholib, admin SPMB SMPN Satap 2 Banyakan. 

Meski belum ideal, menurut Tholib jumlah tersebut tetap lebih tinggi dibanding tahun lalu. Sebab, di SPMB 2025 mereka hanya mendapat 15 siswa.

Minimnya jumlah siswa di sana, kata Tholib, bukan karena lulusan SD di sekitar sekolah sedikit.

Melainkan mayoritas memilih mendaftar ke SMP lain yang dianggap favorit. Meski, lokasi sekolah tersebut lebih jauh dari lingkungan rumah.

 “Ada juga yang memilih masuk ke pesantren,” tuturnya.

Sementara itu, meski sama-sama ada di lereng gunung, SDN Babadan 1 Ngancar yang ada di lereng Kelud ternyata tidak kekurangan siswa.

Dari total pagu 28 anak, mereka mendapat 29 pendaftar. 

“Satu siswa (yang tertolak) diarahkan ke SDN Babadan 2,” ungkap Kepala SDN Babadan 1 Putut Retno Utomo.

Diakui Putut, hasil SPMB tahun ini lebih baik dari tahun lalu ketika sekolahnya hanya mendapat 25 siswa.

Baca Juga: Banyak Ortu Bingung Daftar SPMB Online, Begini yang Dilakukan Sekolahan

          Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin dikonfirmasi tentang adanya sejumlah sekolah yang minim pendaftar menyebut, pihaknya terus memantau perkembangan pendaftar hingga penutupan SPMB hari ini (18/6).

Jika masih ada sekolah yang kuotanya belum terpenuhi, disdik akan menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang sekolah yang punya kursi kosong.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan mekanisme pemenuhan kuota setelah tahapan utama berakhir.

Sekolah diperbolehkan menerima pendaftaran secara offline untuk menampung peserta didik yang belum diterima.

“Kalau sampai penutupan pendaftaran kuotanya belum terpenuhi, pemenuhan kuota dilakukan melalui mekanisme pendaftaran offline,” jelasnya.

Dengan skema tersebut, sekolah-sekolah yang hingga kini masih sepi peminat tetap berpeluang menambah jumlah siswa. Deadline-nya hingga sebelum tahun ajaran 2026/2027 dimulai. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#gunung wilis #lereng gunung #gunung kelud #spmb #sepi peminat