JP Radar Kediri – Terobosan di bidang pendidikan kembali dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri. Mereka akan menerapkan lima hari sekolah (LHS). Bila tak ada hambatan, kebijakan baru ini akan mulai diujicobakan pada tahun ajaran baru nanti.
Beberapa faktor dijadikan alasan penerapan kebijakan yang, bisa jadi, menyenangkan bagi para siswa ini. Salah satunya adalah menyelaraskan ritme pendidikan daerah dengan standar nasional.
"Hampir semua kota dan kabupaten telah menerapkan format lima hari belajar,” tegas Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana.
Pernyataan bupati tentang LHS tersebut disampaikan ketika mengunjungi arena kontes ternak di lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Wates Rabu (6/5). Setelah membagikan produk olahan ternak pada perwakilan siswa SD, Bupati Dhito menyampaikan rencana tersebut.
Meski demikian, Dhito mengakui ada beberapa kendala teknis yang harus diselesaikan. Sebelum kebijakan tersebut benar-benar dilakukan menyeluruh. Sebab, menurutnya, perubahan hari belajar adalah hal besar yang membutuhkan penyesuaian matang.
Senada dengan Dhito, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin menjelaskan bahwa nota dinas terkait kebijakan ini telah diajukan. Disdik saat ini juga tengah mengomunikasikan dengan para tokoh agama dan pengelola pondok pesantren.
"Kekhawatiran utamanya adalah jangan sampai anak-anak jadi malas mengaji di sore hari karena pulang sekolah sudah capek. Apalagi kita punya program insentif guru ngaji dan banyak TPQ (taman pendidikan Alquran, Red) serta madrasah diniyah yang aktif," jelas Muhsin.
Rencananya, uji coba akan dilakukan selama 1-2 bulan di wilayah perkotaan terlebih dahulu. Jika evaluasi menunjukkan hasil positif, kebijakan akan diteruskan.
Terkait durasi belajar, Muhsin memastikan tidak ada penambahan beban jam. Jadi, jam belajar di hari Sabtu akan didistribusikan ke lima hari lainnya.
Baca Juga: Siswa Luar Kota Bisa Ikut SPMB Kota Kediri, Sediakan Dua Jalur untuk Calon Siswa Luar Kota
"Misalkan SD atau SMP yang biasanya pulang pukul 13.00, mungkin nanti menjadi pukul 14.30. Guru pun lebih efisien karena selama ini mereka memang sudah pulang sore untuk urusan administrasi. Dengan sistem ini, jam pulang guru dan siswa bisa lebih sinkron," tambahnya.
Ia juga menambahkan nantinya di Sabtu tetap bisa dimanfaatkan untuk kegiatan non-formal. Seperti kegiatan ekstrakurikuler atau camping.
Kabar diberlakukannya sekolah lima hari juga disambut positif oleh sekolah-sekolah. Kepala SMPN 1 Ngasem, Berdi Prayitno, menyebut para guru menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, sekolah lima hari akan memberikan waktu berkualitas bagi siswa dan guru bersama keluarga.
"Banyak wali murid yang bekerja di kantor dengan sistem libur Sabtu-Minggu. Kalau sekolah anak juga libur di hari Sabtu, jadwalnya jadi match. Selain itu, kegiatan ekstra di hari Sabtu akan lebih terpantau dan tidak membuat orang tua khawatir karena anak-anak tidak perlu pulang terlalu malam di hari sekolah," pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita