Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Persahabatan dan Solidaritas Siswa SMK PGRI 1 Kediri di Balik Konten ‘Sepatu’ Viral

Ayu Ismawati • Rabu, 6 Agustus 2025 | 22:20 WIB
Enggar (paling kanan) memakai sepatu baru hasil patungan teman-temannya.
Enggar (paling kanan) memakai sepatu baru hasil patungan teman-temannya.

Enggar Tak Kuasa Menahan Haru Teringat Sepatu Pemberian Sang Ibu

 

Aksi spontanitas siswa SMK PGRI 1 Kediri viral di media sosial. Konten yang diunggah di TikTok itu berhasil membuat banyak orang terenyuh. Di balik aksi solidaritas siswa yang patungan untuk membelikan sepatu temannya itu, terselip kisah persahabatan yang hangat.

 

Video berdurasi 1 menit 43 detik yang diunggah sebuah akun media sosial TikTok @telo2ewunan pada Jumat lalu (1/8) berujung viral. Yang terbaru, video itu sudah ditonton lebih dari 2,6 juta pengguna TikTok. Memperlihatkan sekumpulan pelajar yang berkerumun mengelilingi seorang remaja pria. Sejurus kemudian, pelajar berseragam pramuka itu menyerahkan kantong plastik berisi sepasang sepatu. 

Konten yang diunggah Muhammad Ibnu Faris, 16, sebelum ibadah salat Jumat pekan lalu dengan cepat menjadi viral. Agaknya interaksi yang terbangun dalam video itu berhasil menggerakkan hati banyak orang.

Enggar Wahyu Nocolaes Saputro, 16, sang penerima sepatu dalam video itu nampak tak bisa membendung air matanya. Tangis harunya itu dibalas dengan tepukan di bahu dan kalimat penyemangat seperti “Wes to ora usah nangis. Kabeh nek kene support kowe (Sudahlah nggak usah menangis. Kami di sini semua mendukungmu, Red)” dari kawan-kawannya.

“Saya upload sebelum Jumatan, kaget setelah Jumatan sudah 100 ribu yang nonton. Besoknya sudah 1 juta penonton,” ujar Muhammad Ibnu Faris, siswa SMK PGRI 1 Kediri, yang pertama kali mengunggah konten itu di TikTok.

Remaja yang akrab disapa Faris itu pula yang menginisiasi aksi spontanitas itu. Faris mengaku iseng mengunggah video itu di media sosial.

Keinginan membelikan sepatu baru untuk teman sekelasnya itu murni karena dorongan persahabatan. Melihat sepatu yang dikenakan Enggar rusak, Faris mengajak teman-temannya patungan masing-masing Rp 5 ribu.

“Waktu main nggak sengaja lihat sepatunya Enggar bolong. Akhirnya saya koordinasi sama ketua kelas untuk mengajak teman-teman patungan beli sepatu dan alhamdulillah teman-teman kompak dan mau semua,” ungkap pelajar kelas 10 Teknik Sepeda Motor (TSM) 1 SMK PGRI 1 Kediri itu.

Dari 39 siswa sekelas yang patungan itupun terkumpul sejumlah uang. Yang kemudian dia tukarkan dengan sepasang sepatu berwarna hitam merek New Era yang dia beli dari sebuah toko di Kecamatan Ngadiluwih. Karena baru beberapa bulan sekolah di SMK tersebut, mereka memang baru mengenal satu sama lain. Namun agaknya rasa persaudaraan sudah terbangun di antara para pelajar tersebut.

“Baru kenal sejak MPLS. Tapi semua sudah akrab,” sambungnya.

Ketua Kelas 10 TSM 1 Rizqi Febri Pratama menambahkan, Enggar dikenal sebagai anak yang humoris di kelasnya. Terlepas dari kondisi ekonominya yang penuh tantangan, remaja asal Banyakan itu dikenal sering membuat tertawa teman-temannya. Solidaritas yang kental dalam satu kelas yang semuanya laki-laki itu juga menurutnya membuat mereka tak berpikir dua kali untuk membantu temannya.

“Waktu ishoma, Mas Enggar sholat, teman-teman yang lain sudah selesai sholat. Saat itu saya kumpulkan di kelas dan saya ajak cepat-cepat urunan. Jadi mengumpulkan uangnya waktu tidak ada Mas Enggar,” ujar Rizqi soal cara mereka merahasiakan kejutan itu dari Enggar.

Benar saja, kejutan itu tak disangka oleh Enggar. Alumni SMPN 1 Banyakan itu mengaku bahagia dan bersyukur dikelilingi teman-teman yang saling peduli. Meski baru saling mengenal, rasa solidaritas dan persahabatan sudah tumbuh di antara anak-anak SMK itu. Enggar pun dibuat terharu. Aksi kawan-kawannya itu juga mengingatkannya akan kasih tak terbatas yang sudah lama tidak dia jumpai. Kali terakhir dia mendapat sepatu baru adalah dari mendiang sang ibu, beberapa tahun silam.

“Keingat pemberian ibu sebelum meninggal. Saat itu ibu membelikan sepatu juga waktu saya kelas 5 SD. Ibu titip salam juga untuk merawat sepatunya,” kenangnya, yang terisak mengenang sang ibu.

Memori akan ibunya itu pula yang membuatnya tak kuasa menahan air mata di depan kawan-kawannya. Karena merasa belum pantas menerima pemberian dari kawan-kawannya, Enggar sempat menolak. Bungsu dari tiga bersaudara itu memang tak seberuntung anak-anak sebayanya. Di usianya yang baru 16 tahun, dia harus membagi waktu antara belajar dan membantu ekonomi keluarga. Sehari-hari, pemuda asal Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan itu membantu orang berjualan tempe mendoan di Pasar Bulawen dan Pasar Mrican.

“Setiap jam 02.00 pagi saya berangkat ke pasar. Pulangnya jam 04.00, habis itu di rumah goreng tempe dan dijual di sini (sekolah, Red),” ujarnya, yang juga menyambi menjual gorengan tempe ke teman-temannya di sekolah.

Meski harus bekerja keras membantu meringankan ekonomi keluarga, Enggar tetap semangat sekolah. Tak pernah terpikir baginya untuk putus sekolah. Menurutnya, pendidikan merupakan hal penting yang harus dia dapatkan demi mengejar cita-citanya. Apalagi dengan lingkungan belajar yang suportif, baginya tak ada alasan untuk tidak mengejar pendidikan. Khususnya di sekolahnya sekarang, di SMK PGRI 1 Kediri.

“Enggak ada (keinginan putus sekolah, Red). Saya ingin sekali lulus sekolah sampai selesai,” tandasnya, yang bercita-cita jadi pengusaha sukses itu.

Di tengah isu perundungan di lingkungan sekolah, kisah persahabatan Enggar dan teman-temannya tentu menjadi angin segar. Humas SMK PGRI 1 Kediri Dwi Okrin Rianto pun mengaku bangga dengan anak-anak didiknya yang memiliki jiwa sosial tinggi. Aksi anak didiknya itu juga secara konkret mencerminkan sekolah yang anti-bullying.

“Dari sisi positif kami sangat berbangga karena memiliki anak-anak yang memiliki jiwa sosial tinggi, kompak, dan tentu solidaritasnya sangat kuat. Apalagi anak-anak ini masih kelas 10, artinya baru saling mengenal,” ujarnya. Terkait pendampingan siswa kurang mampu, selama ini sekolah menerapkan subsidi silang dan home visit untuk memetakan kondisi ekonomi siswa. Termasuk memberikan subsidi sepatu safety untuk siswa baru.

“Sehingga mungkin dari anak-anak yang kemarin sempat viral itu memang inisiatif memberikan sepatu harian yang bisa digunakan rileks untuk kegiatan-kegiatan, termasuk di luar jam sekolah,” pungkas Okrin. (*)

 

Editor : Mahfud
#solidaritas #sepatu