Oleh Abdullah Muzi Marpaung
Dua kata yang merujuk pada satu benda, tetapi berkembang dalam jalur yang berbeda: sendok di Indonesia dan sudu di Malaysia. Keduanya mengacu pada alat berbentuk cekung bertangkai yang digunakan untuk menyendok makanan atau cairan. Namun, jejak sejarah menunjukkan bahwa keduanya berasal dari akar yang sama, sebelum akhirnya mengalami divergensi makna.
Dalam sumber-sumber lama, istilah yang merujuk pada alat ini memiliki berbagai bentuk. Marsden (1812) mencatat sunduk dan suduk sebagai padanan untuk spoon, ladle, atau shovel dalam bahasa Inggris. Bentuk ini juga ditemukan dalam Richard (1873), yang mencatatnya sebagai cuiller dalam bahasa Prancis. Pijnappel (1865) mencatat soedoek sebagai sendok kecil (eetlepeltje dalam bahasa Belanda), tetapi juga sebagai alat untuk menggali tanah, menunjukkan bahwa sejak awal kata ini tidak hanya terbatas pada alat makan.
Eysinga (1855) mencatat variasi seperti sondoq, soedoq, dan sêndoq sebagai padanan untuk lepel dalam bahasa Belanda, sementara Rigg (1862) mulai mencatat sudu dan sendok secara terpisah, meskipun keduanya masih digunakan secara bersamaan. Wilkinson (1901) mencatat bahwa sudu juga memiliki makna lain, yaitu paruh itik, sebagaimana terlihat dalam peribahasa Melayu: Ayam ta’-patok, itek ta’-sudu—menggambarkan sesuatu yang diabaikan atau tidak diinginkan. Sementara itu, sodok atau suduk digunakan untuk merujuk pada alat menyerok atau menyendok, termasuk sekop (shovel, spade).
Pemisahan makna antara sendok dan sudu semakin jelas dalam Poerwadarminta (1954), yang berperan besar dalam pembentukan standar bahasa Indonesia modern. Dalam kamus ini, sendok disebut sebagai bentuk tidak baku dari "senduk", yang berarti alat untuk mencedok, dengan contoh penggunaan seperti senduk makan, senduk teh, dan senduk nasi. Sementara itu, sudu didefinisikan sebagai paruh yang lebar (seperti paruh itik, angsa) serta senduk besar yang terbuat dari tempurung atau kaleng.
Dari sini, dapat terlihat bagaimana sendok mengukuhkan posisinya sebagai istilah utama untuk alat makan dalam bahasa Indonesia, sementara sudu di Indonesia mengambil jalur makna yang berbeda. Kata ini tidak lagi merujuk terutama pada alat makan, melainkan lebih sering digunakan untuk benda-benda berbentuk cekung atau berfungsi menyerok, seperti senduk besar, paruh itik, dan bagian mekanis dalam mesin
Dalam beberapa dekade berikutnya, pemakaian sendok semakin mapan di Indonesia. Hal ini tercermin dalam KBBI edisi terbaru, yang mencatatnya sebagai istilah utama untuk alat makan berbentuk cekung bertangkai. Sementara itu, dalam bahasa Melayu Malaysia, sudu tetap mempertahankan maknanya sebagai alat makan, sebagaimana yang tercatat dalam sumber-sumber lama.
Dua kata yang berawal dari akar yang sama, tetapi memilih jalannya masing-masing. Di Indonesia, sendok menguasai ruang makan, sementara sudu perlahan bergeser makna, terpisah dari fungsinya yang dulu. Di Malaysia, sebaliknya, sudu tetap bertahan seperti semula. Perbedaan ini bukan sekadar soal bahasa, tetapi juga bagaimana suatu masyarakat membentuk dan mempertahankan istilah yang mereka anggap paling sesuai. Kata-kata, seperti halnya benda-benda di sekitar kita, tidak diam dalam satu bentuk. Mereka bergerak, menyesuaikan diri, menghilang, atau kadang, bertahan di tempat yang tak terduga.
* Abdullah Muzi Marpaung
Lahir di Bintan tahun 1967. Sekarang ia adalah dosen teknologi pangan Universitas Swiss German yang mengampu beberapa mata kuliah unik, yaitu Antropologi Pangan dan Teknologi Pengolahan Makanan Tradisional Indonesia. Ia juga memiliki minat yang tinggi terhadap bahasa dan sastra Indonesia dan merupakan narasumber Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk penyusunan istilah Ilmu dan Teknologi Pangan. Artikel-artikelnya terkait bahasa, makanan tradisional Indonesia, dan karya sastranya baik puisi maupun cerita pendek telah dimuat di sejumlah media massa.
Editor : Jauhar Yohanis