KEDIRI, JP Radar Kediri — Persaingan memperebutkan kuota kursi terakhir di SMP negeri dipastikan ketat. Hingga pendaftaran ditutup pukul 14.00 kemarin, sebanyak 2.253 siswa mendaftar di jalur tersebut. Padahal, kuota jalur ini dari sembilan SMP hanya sekitar 1.500 bangku.
Beberapa orang tua (ortu) siswa justru memilih mendaftarkan anaknya di hari terakhir. Salah satu pertimbangannya karena ingin menganalisa statistik nilai pendaftar di sekolah-sekolah incaran.
Hasbi, salah satu orang tua siswa mengaku lebih memilih mendaftarkan anaknya di hari terakhir. Dengan begitu, dia bisa mengamati statistik nilai sebelum benar-benar mendaftar di SD incaran. “Tapi biasanya yang paham dengan mekanismenya saja yang pasti daftar di hari terakhir,” ujarnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri di situs ppdb.kedirikota.go.id, statistik nilai jalur zonasi sudah muncul di semua sekolah. Seperti di SDN Burengan 2, nilai terendah yang diterima tercatat 905,63. Sendangkan nilai tertingginya mencapai 1.031. Contoh lain di SDN Mojoroto 3, nilai terendah dan tertinggi tercatat masing-masing 967 dan 1.036.
Begitu pula di jenjang SMP. Nilai terendah dan tertinggi yang diterima di jalur ini dari seluruh SMP negeri berkisar 90,05 – 97,45. Rentang nilai tertinggi ada di SMPN 1 Kota Kediri, yakni 95,26–97,45.
Di sisi lain, pendaftaran jalur zonasi SMA negeri baru akan dibuka mulai hari ini (27/6). Calon peserta didik pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan terakhir mereka masuk di SMA negeri itu.
Al Faris Nur Risqi mengatakan, sejak awal dia memang mengincar jalur zonasi. Salah satunya menimbang rumahnya yang dekat dengan sekolah incaran. “Rencana mau daftar di SMA 2, SMA 7, sama SMA 1,” ujarnya.
Dia sengaja memilih semua sekolah dalam satu zona yang sama. Yakni, dari zona yang sama dengan domisinya yang berada di Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto. Mengurutkan skala prioritas sekolah berdasarkan jangkauan jarak jadi strateginya di jalur ini.
“Dari sekolah sebenarnya menyarankan untuk daftar di dua sekolah dalam zona dan satu sekolah luar zona untuk jaga-jaga. Karena yang paling jauh itu SMA 1, jadi mungkin nanti pilihan ketiganya antara SMA 1 dan SMA 3,” lanjutnya yang masih bingung menentukan pilihan sekolah.
Sebelumnya, Kasi SMA Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Kediri Chairul Effendi mengatakan, di jalur ini siswa bisa memilih tiga sekolah. Ketentuannya, tiga sekolah di wilayah dalam zonasi. Atau, dua sekolah dalam satu zonasi dan satu sekolah dari luar zona yang berbatasan. Baik dari dalam kota/kabupaten yang sama maupun berbeda. “Pemeringkatannya dilihat dari jarak domisili dulu. Kalau ada kesamaan, baru dilihat usianya. Diambil usia yang lebih tua,” ujarnya.
Sementara itu, PPDB SD dan SMP di Kabupaten Kediri jalur prestasi diwarnai banyaknya sertifikat atau piagam pendaftar yang tak sesuai. Akibatnya, piagam tersebut tidak dibobot alias tidak mendapat poin.
Seperti di SMPN 1 Ngasem. Di sana panitia PPDB mendapati banyak pendaftar yang piagamnya tidak sesuai dengan ketentuan. "Cukup banyak jumlahnya," kata Ketua Panitia PPDB SMPN 1 Ngasem Khoirul Anwarudin sembari menyebut jumlahnya mencapai puluhan.
Untuk diketahui, agar bisa mendaftar di jalur prestasi, sertifikat yang bisa digunakan minimal untuk prestasi tingkat kabupaten/kota. Faktanya, banyak peserta yang menyerahkan sertifikat lomba dari ajang yang lebih rendah. Misalnya, tingkat kecamatan, tingkat desa, dan lainnya. "Ada juga yang membawa sertifikat lomba yang diadakan produk tertentu untuk daftar," lanjut Khoirul.
Selain sertifikat atau piagam yang tidak sesuai, ada pula pendaftar yang berkasnya kurang. Jika sudah demikian, panitia meminta siswa untuk pulang dan mengambil berkas yang dibutuhkan. Akibatnya, yang bersangkutan harus kembali antre dari awal.
Kondisi yang sama didapati di SMPN 2 Ngasem. Operator PPDB SMPN 2 Ngasem Muanam menyebut, di sekolahnya juga banyak didapati piagam penghargaan yang tidak sesuai ketentuan. Demikian pula persyaratan pendaftaran yang masih kurang alias tak lengkap. “(Piagam yang tidak sesuai, Red) otomatis nggak dinilai karena minimal tingkat kabupaten. Ditolak,” terang Muanam.
Meski SMPN 2 Ngasem merupakan sekolah baru, jumlah pendaftaranya tetap melampaui pagu. Di jalur prestasi sudah ada puluhan anak yang dipastikan tidak diterima. “Jalur afirmasi ada lima anak,” ungkap Kepala SMPN 2 Ngasem Sulistyo Wulandari.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah