Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Demi Merdeka Mengajar, Para Guru SD Ini Harus ‘Belajar’ Lagi

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 3 November 2022 | 18:34 WIB
MENYIMAK: Maskurun memperhatikan dua anak didiknya praktik mengaji dengan bahasa isyarat, Minggu 911/12) kemarin. (Foto: Wahyu Adji)
MENYIMAK: Maskurun memperhatikan dua anak didiknya praktik mengaji dengan bahasa isyarat, Minggu 911/12) kemarin. (Foto: Wahyu Adji)
Mereka guru-guru senior. Usianya sudah melewati 50 tahun. Penerapan platform merdeka mengajar membuat mereka harus adaptasi dengan teknologi.

Tantangan terbesar untuk platform merdeka belajar adalah keterbatasan guru memahami tekhnologi. Terutama untuk guru sekolah dasar (SD) yang sudah berusia di atas 45 tahun. Mayoritas dari mereka masih gagap dengan teknologi (gaptek). Padahal, program implementasi kurikulum merdeka ini full berbasis teknologi.

Menurut Kepala Sekolah Dasar Negari Grogol 2 Suwantini, salah satu dampak positif adanya pandemi adalah guru diwajibkan untuk tahu tentang penggunaan gawai beserta aplikasinya. Yang memaksa keadaan. Dari yang semula tatap muka menjadi daring, hanya lewat internet.

“Awal-awal ada Covid-19 semua kelabakan. Karena metode belajarnya berubah 100 persen,” terangnya.

Ketika proses belajar siswa dan guru dilakukan dengan cara jarak jauh, guru pun dipaksa beradaptasi. Bila awalnya mereka hanya menggunakan WhatsApp grup, akhirnya dipaksa berselancar menggunakan aplikasi.

Ada beberapa aplikasi yang berfungsi seperti video call. Di antaranya adalah google meet dan zoom meeting. Tidak berhenti sampai di situ, perkembangan berikutnya adalah mengerjakan soal lewat lembaran kertas digital. Namanya google forms.  Cara ini dipakai untuk menguji siswa.

Pada saat awal-awal perubahan sistem pembelajaran berbasis internet, dari 20 guru yang saat itu mengajar di sekolahnya hanya ada empat yang benar-benar fasih. Empat guru itulah yang diminta untuk menggembleng guru lainnya agar melek teknologi.

“Butuh waktu sekitar empat bulan,” katanya.

Sementara itu, Rosalia Eko Sulistiawati, merasakan beratnya beradaptasi dengan teknologi. Guru kelas 3 SDN Grogol 2 ini tergolong lama beradaptasi. Maklum, usianya sudah 50 tahun.

“Dulu saat  awal-awal belajar sering salah klik tombol,” kenangnya.

Yang membuatnya bingung adalah ketika pergantian komputer. Yang awalnya Berbahasa Inggris berubah menjadi Bahasa Indonesia. Seperti unduh dan download. Karena perbedaan kata itu membuat dia sempat kebingungan. Guru yang kerap disapa Bu Rosalia itu harus mengakui bila anak didiknya lebih mahir menggunakan teknologi.

Tapi, kini dia sudah terbiasa. Setelah dibekali selama berbulan-bulan untuk mengenal internet. “Untungnya dulu dipaksa. Kalau tidak mungkin saya masih gaptek saja,” akunya sembari tertawa.

Jika saja ia tidak memulainya sejak lama, pasti akan kesulitan mengoperasikan akun dari kemendikbud yang diberi nama belajar.id. Akun itu menjadi pedoman guru sebelum mengajar.

Di dalam akun ada 14 topik yang harus dipelajari. Setiap topik berisi modul. Lalu ada materinya, kemudian diikuti pertanyaan serta refleksi.

Di dalamnya juga ada post test. Paling terakhir adalah aksi nyata. Guru tidak akan bisa melaksanakan aksi nyata bila semua tahapan itu tidak dilalui.

Akhir November ini disdik meminta guru di semua satuan pendidikan sekolah dasar menyelesaikan tujuh topik. Yakni kurikulum merdeka, perencanaan pembelajaran, asesmen, dan penyeuasain pembelajaran. Tiga lagi adalah projek penguatan profil pelajar Pancasila, merdeka belajar dan pelajar pancasila.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin tidak pernah lupa bila platform merdeka mengajar (PMM) di Kabupaten Kediri pernah mendapat urutan bawah di Jawa Timur. Rendahnya persentase PMM itu akhirnya membuat dinas pendidikan harus melakukan evaluasi diri. “Perlu ada perubahan mindset. PMM ini bukanlah sebuah kewajiban tapi kebutuhan,” katanya.

Karena pada saat itu masih banyak yang gagap dengan teknologi maka salah satu cara yang dipakai adalah dengan mendorong semua guru harus melek teknologi. Caranya adalah dengan membentuk tim percepatan diklat mandiri belajar di PMM. Timnya adalah kelompok kerja Kabupaten Kediri. Mulai dari pengawas sekolah ke kelompok kerja kepala sekolah. Lalu terakhir adalah ke kepala sekolah dan guru di lembaga masing-masing.

Dalam kurun waktu tertentu, setiap sekolah diminta untuk mengirim laporan dan progress PMM ke kelompok kerja. Dinas pendidikan selalu menyampaikan progres secara terbuka sehingga setiap sekolah bisa saling intip hasil akhir tiap-tiap lembaga. Cara itu cukup efektif. Hingga membuat capaian PMM melejit jadi nomor empat nasional. Persentasenya sebesar 99,05 persen. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #seputar kediri #guru indonesia #kediri #merdeka belajar #kabar kediri terkini #pendidikan #info terbaru kediri #info kediri #pendidikan indonesia #viral kediri #berita terbaru #berita kediri terbaru #berita kediri terkini #sekolah di indonesia #merdeka mengajar #kediri lagi #sekolah #berita viral kediri #kabar kediri #guru #kediri news